Laman

Kamis, 12 September 2013

Do'a Para Nabi Dan Rosul


Doa Nabi Muhammad

“ROBBANAA LAA TU-AAKHIDZANAA IN NASIINAA AU AKHTHONAA, ROBBANAA WA LAA TAHMIL ‘ALAINAA ISHRON KA-MAA HAMALTAHUU ‘ALAL LADZIINA MIN QOBLINAA ROBBABAA WA LAA TUHAM-MILNAA MAA LAA THOOQOTA LANAA BI-HII WA’FU ‘ANNAA WAGHFIR LANAA WAR-HAMNAA ANTA MAULAANAA FASHUR-NAA ‘ALAL QOUMIL KAAFIRIINA”.
Artinya :
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. WahaiTuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkaubebankan kepada orang-orang yang sebelum ka­mi. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pi-kulkan kepada kami, apa yang tak sanggup ka­mi memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilahkami dan rahmatilah Kami. Engkaulah Penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafier”
(Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 286).
Penjelasan :
Do’a tersebut adalah do’a yang diucapkan oleh Nabi Muhammad saw. Dimana menurut riwayat Al-Baihaqie, Ra-sulullah saw. bersabda : “Dua ayatyang terdapatpada akhir surat Al-Baqoroh, barangsiapa yang suka membacanya di malam hari, niscaya ia akan dipelihara dan segala macam bencana.
“ROBBANAA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA’DA IDZ HADAITANAA WA HAB LANAA MIN LADUNKA ROHMATAN INNAKA AN-TALWAHHAABU”.
Artinya :
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepQda kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan ka-runiakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mukarena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”
(Al-Qur’an surat All ‘Imraan ayat 8),
Penjelasan :
Sebagian riwayat telah mengatakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Segala jiwa manusia itu terletak antara dua tangan Allah. Dialah yang melempangkan dan yang- men-condongkannya. Karena itu, Rasulullah saw, apabila ber-do’a beltau senantiasa memohon ketetapan hatidari iman.
Do’a Nabi Muhammad saw. Memohon Kesejahteraan.

“ROBBANAA AATINAA FID DUNYAA HA-SANATAN WA FIL AAKHIROTI HASANA-TAN WA QINAA ‘ADZAABAN NAARI”.
Artinya :
“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalahkami dari siksa neraka “. (Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 201).
Penjelasan :
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas ra. bahwa do’a tersebut sering diucapkan oleh Rasulullah saw. pada siangdan ma/am, dan bahkanpada setiap saat.

Do’a Nabi Isa as. Memohon Hidangan Dari Langit

ALLOHUMMA ROBBANAA ANZIL ‘ALAl-NAA MAA-IDATAN MINAS SAMAA-I TA-KUUNU LANAA ‘LIDAN LI AWWALINAA WA AAKHIRINAA WA AAYATAN MINKA WARZUQNAA WA ANTA KHOIRUR ROO-ZIQIINA”.,
Artinya :
Wahai Allah, wahai Tuhan kamit turunkanlah kiranya kepada kami satu hidangan dari langit(yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu, orang-orang yang bersama kamidan yang datang sesudah kami, dan menjadi tan-da bagi kekuasaan-Mu, beri rizqilah kami, danEngkau adalah Pemberi rizqi Yang Paling Baik”, (Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 114).

Penjelasan :
Menurut keterangan dari Al-Qur’an sendiri, bahwa Nabi lsa berdo’a memohon diturunkannya hidangan dari langit itu atas permintaan kaumnya yang masih ragu atas kerasulan beliau. Dan menurut keterangan ahli tafsier, sebelum Nabi Isa berdo’a dengan do’a di atas, beliau terlebih dahulu mengerjakan sholat dua raka’at, menundukkan kepala sambil menangis lalu berdo’a. Dan Allah pun meng­abulkan do’a beliau, sehingga dalam waktu singkat hidang­an dari langit itupun di datangkan, dan mereka makan ber-sama-sama

Do’a Nabi Ibrahim as. Untuk Memohon Hikmah

ROBBI HABLII HUKMAN WA ALHIQNII BISH SHOOLIHIINA, WAJ’AL LII LISAANA SHIDQIN FIL AAKHIRIINA WAJ’ALNII MIN WAROTSATI JANNATIN NA’IIMI”.

Artinya :
Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam gohngan orang-orang yang shaleh, dan jadikanlah aku buah tu-tur yang baik bagi orang-orang (yang datang) ke-mudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh de-ngan kenikmatan”.
(Al-Qur’an surat Asy-Syu’aroo’ ayat 83 – 85).

Penjelasan :
Sebagian ahli tafsier menerangkan, bahwa Nabi fbrahim as. sering berdo’a dengan do’a tersebut, lantaran kaumnya banyak yang ingkar kepada Allah dan lebih suka menyembah berhala.

Do ‘a Nabi Ibrahin as. Bersama Putranya

“ROBBANAA TAQOBBAL MINNAA INNAKA ANTAS SAMII’UL ‘ALIIMU, ROBBANAA WAJ’ALNAA MUSLIMAINI LAKA WA MIN DZURRIYYATINAA UMMATAN MUSLIMA-TAL LAKA WA ARINAA MANAASIKANAA WA TUB ‘ALAINAA INNAKA ANTAT TAW-WAABUR ROHIIMU, ROBBANAA WAB’ATAS FIIHIM ROSUULAN MINHUM YATLUU ‘ALAIHIM AAYAATIKA WA YU’ALLIMUHU-MUL KITAABA WAL HIKMATA WA YUZAK-KIIHIM INNAKA ANTAL ‘AZIIZUL HAKIIM.

Artinya :
“Wahai Tuhan Kami, terimalah dari pada kami (amalan kami), sesungguuhnya Engkaitlah YangMaha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima taubat lagi Ma­ha Penyayang. Wahai Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, & mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta me nsuci-kan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Ma-ha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(Al Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 127 -129).

Penjelasan :
Dalam Al-Qur’an sendiri telah diterangkan, bahwa do­do ‘c tersebul adalah dob yang diucapkan oleh Nabi Ibra-him as. dan Isma’il as. ketika beliau sama-sama metnbina. Ka ‘bah.

Do’a Nabi Nuh as. Memohon Kaumnya dibinasakan

”ROOBIGHFIRLII WA LIWAALIDAYYA WA LIMAN DAKHOLA BAITII MU’MINAN WA LIL MU’MINIINA WAL MU’MINAATI WA LAA TAZIDIDL DLOOLIMIINA ILLAA TA-BAARON”.
Artinya :“Wuhai  Tulianku,  ampunilah aku,  ibu-bapakku orang yang^masuk ke ramahhu dengan beriman dan seinua urang yang bertman lalri-luki dan perempuan. Dan janganlah Engkau lambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan “.(Al-Qur’an Surat Nuh ayat 23).
Penjelasan :Meneliti Ahli tafsir, bahwa do’a tersebut adalah do’a yang diucapkan oeh Nabi as. ketika hendak memohon dibinasakan kaumnya alts keingliaran mercka. Disamping itu, beliau juga memohon unliii: keselatnatan parapcngikut-nya dari azab Allah.

Do’a Nabi Adam as. untuk memohon ampun
ROBBANAA DLOLAMNAA ANFUSANAA WA IN LAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNAA  LANAKUUNANA  MINAL KHOOSIRIINA”.
Artinya :“Yaa Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuhi diri kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Al-Qur ‘an surat Al-A ‘raaf ayat 23).

Penjelasan :
Dalam Al-Qur’an telah diterangkan, bahwa do’a terse-but, adalah do’a yang diucapkan oleh Nabi Adam beserta istrinya (Hawa) untuk memohon ampun atas dosa mereka, lantaran telah melanggar larangan Allah. Yaitu memakan buah khuldi atas bujukan Iblis.

Orang yang Do’anya Tidak Ditolak

Begitupun untuk mengetahui orang-orang yang do’anya tidak tertolak, maka sebaiknya di si­ni kami sebutkan mereka-mereka itu. Karena de­ngan disebutkannya, kita bisa mengambil suri tau-ladan prilaku mereka dalam rangka rnencapai pengabulan do’a kita kepada Allah.

Adapun orang-orang yang do’anya tidak dito-lak itu ialah :
1. Do’anya orang yang dalam keadaan terdesak.
2. Do’anya orang yang teraniaya walaupun ia kafir
3. Do’anya pemimpin yang adil
4.Do’anya orang tua terhadap anaknya
5. Do’anya anak shaleh terhadap orang tuanya
6. Do’anya orang yang berjasa terhadap masyarakat
7. Do’anya orang yang menghubungkan tali silaturahmi
8.Do’anya orang muslim terhadap sesamanya
9. Do’anya orang yang bertaubat
Waktu-waktu yang mustajab
Untuk mengetahui waktu-waktu yang musta-jab, maka sebaiknya di sini kami sebutkan waktu-waktu itu. Karena, dengan waktu-waktu tersebut akan bisa memudahkan pengabulan do’a kita kepada Allah.
Adapun  waktu-waktu   yang mustajab itu ialah  :
(1).  Pada waktu malam Lailatul Qadar.
(2).  Pada waktu bulan Ramadhan.
(3)   Pada waktuwukufdi Arafah.(4).  Pada waktu hariJum’at.
(5).  Pada waktu malam Jum’at
(6).   Pada waktu mendengar adzan.
(7).  Pada waKtu antara adzan dan qamat.
(8).  Pada waktu sehabis shalat fardhu.
(9).  Pada waktu sujud.
{10} Pada waktu perang sedang berKecamuk.
(11) Pada waktu khatam Al-Qur’an.
(12) Pada waKtu minum air zam-zam.
(13) Pada waktu ceramah ilmiah/pengajian agama.

Sebab-sebab Do’a Tertolak

Untuk mengetahui sebab-sebab tertolaknya do’a, maka sebaiknya di sini kami sebutkan kisah seorang Ulama’ yang terkenal waro’, yang berna-ma Ibrahirn bin Adham sewaktu beliau berkunjung ke negeri Basroh, yang kisahnya adalah. sebagai berikut;
Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham berkun­jung ke negeri Basroh. Setelah beliau tiba di negeri itu, beliau didatangi orang-orang seraya mengaju-kan pertanyaan : “Apa sebabnya keadaan dan na-sib kami tidak berubah, padahal kami selalu ber-do’a kepada Allah, dan bukanlah Allah telah ber-janji  bahwa Dia akan mengabulkan permohonan hamba-Nya, seperti yang tersebut dalam Al-Qur’an surat Mu’min ayat  60, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Berdo’alah kalian kepada-Ku niscaya  Aku  akan mengabulkan do’a kalian itu”.
Ibrahim bin Adham menjawab, bahwa sebab-sebab tertolaknya do’a itu ada sepuluh macam se-bab. Di antaranya ialah :
(1).   Kamu mengaku mengenal Allah, tetapi hak-haknya tidak kamu penuhi.
(2).  Kamu mengakui mencintai Rasulullah saw.’ tetapi sunah-sunahnya tidak kamu jalankan.
(3).   Kamu rnembaca Al-Qur’an, tetapi isi yang ter-kandung di dalamnya tidak kamu amalkan.
(4).   Kamu mengakui, bahwa syetan itu adalah musuh-mu tetapi kamu telah patuh kepada-nya.
(5).  Kamu telah berdo’a untuk menghindarkan di-rimu dari siksa api neraka, tetapi kamu cam-pakkan dirimu ke dalamnya dengan berbuat dosa & maksiat.
(6).   Kamu selalu berdo’a agar bisa masuk surga, te­tapi kamu tidak beramal untuknya.
(7).   Kamu telah sibuk mencaturkan aib saudara-mu, tetapi kamu telah melupakan aibmu sen-diri.
(8).  Kamu percaya, bahwa kematian itu pasti da-tang tetapi kamu tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu.
(9).   Kamu   kuburkan orang-orang yang mati, te-

tapi kamu tidak mengambil pelajaran dari per-istiwa kematian itu.
(10) Kamu telah memakan rizqi dari Tuhan-mu, tetapi kamu tidak mau bersyukur atas rizqi yang diberikan Tuhan kepada-mii.
Demikianlah jawaban Ibrahim bin Adham, se-bagai jawaban mengenai sebab-sebab tertolaknya do’a. Kemungkinan jawaban beliau ini, terlihat pu-la kenyataan pada kehidupan sekarang ini. Karena-nya, bila do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, ma-ka janganlah Dia yang kita salahkan lantaran ti­dak memenuhi janji-Nya, melainkan koreksilah di-ri kita sendiri, sudahkah kita berdo’a dengan atur-an-aturan yang sudah kami jelaskan di atas? Dan se-bagai himbauan kami, marilah kita berdo’a dengan aturan-aturan yang sudah kami jelaskan itu, karena dengan melalui aturan-aturan yang ada, maka do’a kita pasti akan dikabulkan oleh Allah sehingga kita akan mendapatkan apa yang kita idam-idamkan.
Rahasia Terkabulnya Do’a
Setiap do’a dari si hamba yang meminta de-ngan bersungguh-sungguh, maka pasti akan dika-bulkan oleh Tuhan.
Dalam hal ini Allah Subhanhu Wa Ta’ala ber-f irman :
“UD’UUNII ASTAJIB LAKUM”.
Artinya :
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan meng-abulkan do’a kalian itu”. (SuratMu^min ayat 60)
Berdasarkan ayat di atas-jelaslah, bahwa ma-nusia itu tidak boleh ragu-ragu setiap do’a yang dipanjatkan-nya pasti akan dikabulkan. Sungguh-pun demikian, namun tidak sedikit pada kenyataan ada do’a-do’a yang tampaknya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Padahal sebenarnya setiap do’a itu tentu akan dikabulkan. Tetapi jika ternyata ada do’a yang tidak dikabulkan, maka ini meminta penelitian kita sendiri. Kita harus periksa, harus koreksi baik-baik terhadap diri kita sendiri. Kita harus cari apa sebabnya dan dimana letak kesalah-annya? Halangan apakah yang menyebabkan do’a itu tidak kunjung terkabul?Firman Allah yang tertera di atas itu adalah benar petunjuk yang tepat dan janji yang tidak bisa dipungkiri lagi, sebab Allah tidak mungkin akan memungkiri janji-Nya.Ibarat membuka pintu, maka kita harus men-cari kunci yang cocok. Jangan sembarang kunci di-bawa, mungkin semuanya tidak ada yang cocok, sehingga keinginan untuk membuka pintu itu sulit dicapainya. Pintu bisa terbuka dengan mudah, asal dengan kunci yang cocok. Dan sekarang, kita ting-gal mencari kunci yang cocok itu.Nah, untuk mendapatkan kunci yang cocok, marilah kita renungi arti dan makna yang terkan-dung dalam firman AUah sebagai kunci pengabul-an do’a sebagai berikut :
“WA IDZAA SA-ALA’KA ‘IBAADII ‘ANNII FA INNII QORJIBUN UJIIBU DA’WATAD DAA’I IDZAA DA’AANII FAL YASTAJIIBUU LII WAL YU’MINUUBII LA’ALLAHUM YARSYUDUUNA”.
Artinya :
“Dan Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepa-damu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawab-lah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku kabul-kan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo ‘a kepada-Ku, karena itu hendaklah me-reka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hen­daklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam jalan lurus”.
(Surat Al-Baqoroh ayat 1986).
Nah, jika kita renungi dan kita fahami makna yang terkandung dalam firman Allah yang tertera di atas itu ada terdapat 5 untaian kunci rahasia terkabulnya do’a yang tersusun sebagai berikut :
(1).   Aku Adalah Dekat.
(2).  Aku Kabulkan Permohonan Orang Yang Men-do’a Apabila la Berdo’a Kepada-Ku.    *
(3).  Hendaklah  Mereka Memenuhi  Segala Perin-tah-Ku.
(4),  Hendaklah Mereka Beriman kepada-Ku.
(5),   Agar Mereka Berada Dalam Jalan Yang Lu-rus.
Jadi dengan pengertian “Aku Adalah Dekat”, berarti kita harus berlaku ihsan. Dan mengenai.pe­ngertian “Aku Kabulkan Permohonan Orang Yang Mendo’a Apabila la Berdo’a Kepada-Ku”, berarti kita harus benar-benar berdo’a dengan permintaan yang bersungguh-sungguh dalam bentuk yang khu-syu’ disertai keuletan dan ketekunan. Selanjutnya mengenai pengertian “Hendaklah Mereka Meme­nuhi Segala Perintah-Ku”, ini berarti kita harus menjalani segala perintah dan menjauhi segala la-rangan-Nya. Dus, seruan Allah ini berarti Dia me-nyuruh kita supaya menjadi orang yang bertaqwa.

Sedang mengenai pengertian “Hendaklah Mereka Beriman Kepada-Ku”, ini berarti kita tidak boleh ragu-ragu, tidak boleh berputus asa bilapermohon-an kita belum dan keyakinan terhadap Allah Sub-hanahu Wa Ta’ala, bahwasanya Dia pasti akan mengabulkan do’a kita. Dan pada penutup ayat tersebut, yang berbunyi “Agar Mereka Selalu Ber­ada Dalam Jalan Yang Lurus”, ini berarti kita harus bekerja dan berusaha menurut jalan yang benar.’ Kita berusaha dan bekerja harus berpijak pada jalan yang benar yang diridhai oleh Allah. Kita tidak boleh berbuat culas dan curang di dalam bekerja dan berniaga. Kita akan mendapat keuntungan yang besar bila kita mau berpijak kepada jalan yang benar. Kita jangan terkecoh dengan falsafah edan yang berbunyi : “Zaman sekarang siapa yang ber­buat jujur, maka hidupnya tidak akan mujur”, artinya ia akan tersingkir dari kedudukannya, lan-taran banyaknya teman seprofesinya berbuat cu­rang. Ingatlah, falsafah semacam ini janganlah di-jadikan pegangan, karena falsafah tersebut keluar dari mulutnya orang yang edan.
Sementara firman Allah yang tertera di atas bila kita rumuskan terdapat 5 untaian kunci raha- •-sia terkabulnya do’a sebagai berikut :
Aku kabul-kan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo ‘a kepada-Ku, karena itu hendaklah me-reka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hen­daklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam jalan lurus”.(Surat Al-Baqoroh ayat 1986).
(1).   Ihsan.
(2).  Khusyu
(3).Taqwa.
(4).Yaqie n.
(5).Berj ih ad.
Ihsan.
Ihsan artinya seakan-akan kita melihat Allah, dan jika tidak mampu berbuat yang demikian, maka hendak-lah kita yakin bahwa Allah itu melihat kita, Allah senantiasa melihat dan mem-perhatikan tingkah-laku perbuatan lahir dan perbuatan batin kita. Karena itu, kita harus takut berbuat yang tidak baik, yaitu perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu Wat Ta’ala, walaupun tidak satupun manusia yang tahu akan perbuatan kita itu. Kita harus sadar bahwa Allah telah melihat dan mengetahui. Dari itu kita harus selalu berbuat baik, menjauhi hal-hal yang di-larang.
Orang yang ins an adalah orang yang berhati baik, baik dalam perkataan dan perbuatan. Segala sesuatunya selalu disertai dengan niat yang baik pula. Jadi, orang yang ihsan bila berdo’a kepada
Allah, ia selalu merasa dirinya dekat kepada-Nya, menyampaikan permohonannya secara langsung dengan kata-kata yang tersusun baik. Dalani pada itu ia tidak mempunyai pemikiran lain, melainkan Allah semata yang terlihatdi dalam hati sanubarinya,
Orang yang ihsan tidak mungkin berdo’a salah alamat atau salah tuju dan salah wesel. “Sebagaimana orang yang berkirim surat salah alamat, maka akibatnya bisa salah kirim. Do’a orang yang ihsan benar-benar ditujukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedang do’a yang ditujukan kepada selain Allah, ya’ni kepada ku-buran, kepada pohon-pohon besar, kepada gunung, kepada sungai-sungai, kepada semak belukar dan kepada batu-batu besar, adalah do’a yang kesasar, yaitu do’a yang salah alamat.
Allah selalu mengabulkah setiap do’a orang yang meminta kepada-Nya, asal saja benar-benar ditujukan kepadaNya, tetapi bukanlah do’a yang salah alamat/kesasar.
Khusyu'
Khusyu’   ialah   memusatkan   fikiran   secara bulat-bulat kepada Allan” Subhanahu Wa Ta’ala. Di samping fikiran terpusat dan tetap ke hadirat Allah semata-mata, kita harus mendengarkan perkataan lisan dan perkataan hati kita dengan seksama serta memperhatikan pula kepada maksud dan tujuannya. Begitulah hendaknya keadaan kita sepanjang do’a yang kita baca sejak awal hingga akhir. Jadi kita harus dengan betul-betul perka­taan kita sendtri, dan selama kita memohon jangan-lah fikiran kita berjalan kesana kemari, sehingga tidak mampu memperhatikan maksud dan tujuan apa yang kita katakan itu.
Jika kita enggan memperhatikan dan men­dengarkan apa yang kita katakan sebagai per-mohonan yang telah kita panjatkan, maka bagai-mana mungkin Allah mau mendengarkan per­kataan kita?
Jika kita tidak mau memperhatikan maksud dan tujuan do’a kita itu, bagaimana pula Allah mau memperhatikan permohonan kita. Do’a semacam itu seolah-olah main-main saja, suatu do’a yang disampaikan dengan cara yang tidak bersungguh-sungguh. Karena itu, Tuhan tidak akan mengabul-kan do’a orang yang sikapnya hanya main-main belaka.Kita berdo’a hendaknya sebagaimana mesti-nya, ya’ni dengan cara yang khusyu’. Karena de–ngan kekhusyu’an bisa mengantarkan kepada pengabulan. Allah hanya mengabulkan do’a orang yang khusyu’, do’a orang yang benar-benar memo­hon kepada-Nya. Itulah yang dimaksudkan dalam firmanNya yang berbunyi : “Aku kabulkan Per­mohonan Orang Yang Mendo’a Apabila la Berdo’a kepada-Ku”.
Ta q w a.
Orang yang bisa bersamaan dengan Allah, adalah orang yang taqwa, karena orang yang taqwa itu selalu tunduk dan patuh terhadap kehendak Allah. Baik kehendaknya itu berupa taqdir maupun kehendak-Nya berupa perintah dan larangan. »
Terhadap taqdir yang berlaku atas dirinya atau apa yang berlaku di luar dirinya, semuanya itu ia terima dengan hati yang tulus, dengan rasa syukur sebagai kemauan Allah yang diresapkan juga menjadi kemauannya.
Perintah dan larangan selalu dijunjung dan dita’atinya, sehingga dengan demikian ia dapat meresapkan kemauan Allah yang haqiqi yang harus berlaku atas segala hamba-Nya. Karena itu, apabila orang mau turtduk dan patuh pada kehendak Allah, maka Dia akan melapangkan jalan temp at kita berusaha dan bckerja.
Allah Subhanahu U’a Ta’ala Ix-rfirman :
“WA MAN YATTAQILLAAHA YAJ’AL LAHUU MAKHROJAN WA YARZUQUHUU MIN HAITSU LAA YAHTASIBU”. .
Artinya :
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah ms-caya Dia akan memberikan baginya jalan keluar, serta memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka “.
(Surat Ath-Thalaaq ayal 2 — 3).
Berdasarkan penjelasan di,atas jelaslah, bahwa Allah akan mengabulkan do’a orang yang meme-nuhi segala perintah-Nya, yaitu apa yang dikehen-’daki oleh Allah, Sedang yang dikehendaki oleh Allah ialah supaya kita senantiasa menjalani hidup yang taqwa.meskipun kehendak-Nya berupa perintah dan larangan.Terhadap taqdir yang berlaku atas dirinya atau apa yang berlaku di luar dirinya, semuanya itu ia terima dengan hati yang tulus, dengan rasa syukur sebagai kemauan Allah yang diresapkan juga menjadi kemauannya.
Perintah dan larangan selalu dijunjung dan dita’atinya, sehingga dengan demikian ia dapat meresapkan kemauan Allah yang haqiqi yang harus mau berpijak kepada jalan yang benar. Kita jangan terkecoh dengan falsafah edan yang berbunyi : “Zaman sekarang siapa yang ber­buat jujur, maka hidupnya tidak akan mujur”, artinya ia akan tersingkir dari kedudukannya, lan-taran banyaknya teman seprofesinya berbuat cu­rang. Ingatlah, falsafah semacam ini janganlah di-jadikan pegangan, karena falsafah tersebut keluar dari mulutnya orang yang edan.
 Sementara firman Allah yang tertera di atas bila kita rumuskan terdapat 5 untaian kunci raha- •-sia terkabulnya do’a sebagai berikut :
Aku kabul-kan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo ‘a kepada-Ku, karena itu hendaklah me-reka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hen­daklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam jalan lurus”.(Surat Al-Baqoroh ayat 1986).
Yaqien.
Firman Allah yang dimaksud “Hendaklah Mereka Beriman Kepada-Ku”, adalah menghendaki agar kita yaqien, dan menghilangkan keragu-rs^uan dari lubuk hati untuk tidak mengenal putus-asa, Menghendaki supaya kita tekun dan ulet. Kita berdo’a tidak boleh mengenal bosan dan jemu atau kandas di tengah jalan. Kita berdo’a bukan hanya sexali atau dua kali saja, melainkan berulang-ulang. Memang do’a itu adakalanya kon-tan terkabul dan adakalanya lama sekali baru terkabuK Sebab kehendak Allah berlaku menurut taqdirnya, maka taqdirnya sesuatu adalah sampai waktunya menurut taqdir-Nya. Oleh karena itu, berdo’a itu harus diperlukan ketekunan dan ke-uletan, serta harus penuh pengharapan dan keya-Kinan.
Senantiasalah berdo’a setiap selesai shalat. Lakukanlah dengan penuh semangat, tidak me­ngenal jemu dan bosan. Jangan berhenti di tengah jalan, melainkan berdo’alah terus dengan harapan bahwa do’a itu akan terkabul.
Berhenti di tengah jalan adalah merupakan putus-asa. Sedangkan putus-asa itu telah mengandung pengertian memutuskan hubungan dengan Dzat Yang Memberikan pengabulan segala do ‘a. Karena itu, yakinkanlah dan berpeganglah teguh dengan kebulatan tauhid. Jangan memutuskan hubungan dengan Tuhan.
Dalam  hal  ini   Rasulullah   s.a.w.  bersabda :
“UD’ULLAAHA WA ANTUM MUUQINUUNA BIL IJAABATI WA’LAMUU ANNALLAAHA LAA YASTAJIIBU DU’AA-AN MIN QOLBIN-GHOOFILIN LAAHIN
Artinya :
“Berdo’alah kepada Allah dengan keyakinan bahwa do ‘a kalian itu akan dikabulkan oleh-Nya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak mengabulkan do ‘a yang timbul dari hati yang hampa (tidak bersungguh-sungguh)”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi, Hakim & Ibnu Majah).
Terhadap taqdir yang berlaku atas dirinya atau apa yang berlaku di luar dirinya, semuanya itu ia terima dengan hati yang tulus, dengan rasa syukur sebagai kemauan Allah yang diresapkan juga menjadi kemauannya.
Perintah dan larangan selalu dijunjung dan dita’atinya, sehingga dengan demikian ia dapat meresapkan kemauan Allah yang haqiqi yang harus mau berpijak kepada jalan yang benar. Kita jangan terkecoh dengan falsafah edan yang berbunyi : “Zaman sekarang siapa yang ber­buat jujur, maka hidupnya tidak akan mujur”, artinya ia akan tersingkir dari kedudukannya, lan-taran banyaknya teman seprofesinya berbuat cu­rang. Ingatlah, falsafah semacam ini janganlah di-jadikan pegangan, karena falsafah tersebut keluar dari mulutnya orang yang edan.
Sementara firman Allah yang tertera di atas bila kita rumuskan terdapat 5 untaian kunci raha- •-sia terkabulnya do’a sebagai berikut :
Aku kabul-kan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo ‘a kepada-Ku, karena itu hendaklah me-reka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hen­daklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam jalan lurus”.(Surat Al-Baqoroh ayat 1986).

B e r j i h a d.
Yang dimaksud berjihad disini ialah kerja keras memeras keringat membanting tulang untuk mendapatkan sesuatu. Pada umumnya kata jihad itu ditujukan atau diarahkan kepada bekerja keras untuk beramal shaleh atau beramar ma’ruf nahi mungkar.
Merupakan suatu tanda kesungguhan dalam berdo’a bila kita barengi dengan bekerja keras {berjihad). Yaitu dengan semangat yang berapi-api serta kegiatan yang semakin meningkat dalam melaksanakan segala usaha dan ikhtiar demi men­dapatkan sesuatu yang kita inginkan. Janganlah anda berdo’a minta kaya, meminta didatangkan rizqi yang melimpah, sementara anda hanya berpangku tangan tidak mau bekerja dan beru-saha untuk mendapatkan rizqi itu, karena hal tersebut mustahil bila ada rizqi datang sendiri, tanpa didatangkan dengan bekerja keras memeras tenaga dan fikiran. Ketahuilah, Allah tidak akan melayani do’a semacam itu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“INNALLAAHA LAA YUGHAYYIRU MAA BI QOUMIN HATTAA YUGHAYYIRU MAA BI ANFUSIHIM”.
Artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
(Surat Ar-Ra ‘d ayat 11).
Berdasarkan ayat di atas jelaslah, bahwa Tuhan tidak akan merobah keadaan sesuatu Kaum .sehingga kaum tersebut mau merobah keadaannya sendiri. Itulah yang dimaksud, rizqi tidak akan datang sendiri t’anpa dicari dan diusahai. Ya’ni berdo’a saja tanpa dibarengi dengan usaha dan ikhtiar adalah salah besar, dan bekerja saja tanpa dibarengi dengan do’a adalah keliru. Ka-rena banyak kemungkinan apa yang didapatnya itu keluar dari jalan yang tidak. diridhai oleh Allah.
Allah memberikan pengabulan terhadap do’a-nya orang yang bersungguh-sungguh, dan hal ter­sebut mencakup kepada 5 unsur, yaitu : Ihsan, Khusyu’, Taqwa, Yaqin dan berjihad. pan kelima

unsur inilah yang menjadi kunci pengabulan do’a kita kepada Allah.
Tuhan menghendaki agar kita sudi bekerja keras dengan jalan yang benar lagi diridhai oleh-Nya, yaitu tidak melepaskan dasar perbuatan amal shaleh dan amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan de-mikian, Tuhan akan melapangkan jalan dan memu-Jahkan dalam segala urusan, dalam segala usaha dan pekerjaan kita. Karenanya, maka itulah sebab-nya Allah berseru : “Agar mereka selalu berada dalam jalan yang lurus”.
Firman Allah ini menghendaki agar kita be­kerja keras dengan penuh usaha, mencurahkan te-naga dan fiKiran dengan cara menempuh jalan yang lurus, jalan yang diridhai oleh Allah, bukan jalan yang sesat dan dimurkai.
Jalan yang lurus adalah jalan Tuhan, jalan yang menuju keselamatan dan kebahagiaan. =Sebab dalam dunia perniagaan dan dunia usaha, kejujur-,an adalah merupakan modal emas yang berada di tangan kita. Kepercayaan orang terhadap” kejujur-an kita adalah kunci yang menentukan suksesnya usaha. Karena itu kita harus berlaku lurus, jujur dan bekerja dengan baik.
Perintah dan larangan selalu dijunjung dan dita’atinya, sehingga dengan demikian ia dapat meresapkan kemauan Allah yang haqiqi yang harus mau berpijak kepada jalan yang benar. Kita jangan terkecoh dengan falsafah edan yang berbunyi : “Zaman sekarang siapa yang ber­buat jujur, maka hidupnya tidak akan mujur”, artinya ia akan tersingkir dari kedudukannya, lan-taran banyaknya teman seprofesinya berbuat cu­rang. Ingatlah, falsafah semacam ini janganlah di-jadikan pegangan, karena falsafah tersebut keluar dari mulutnya orang yang edan.

Sementara firman Allah yang tertera di atas bila kita rumuskan terdapat 5 untaian kunci raha- •-sia terkabulnya do’a sebagai berikut :
Aku kabul-kan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo ‘a kepada-Ku, karena itu hendaklah me-reka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hen­daklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam jalan lurus”.(Surat Al-Baqoroh ayat 1986).
Mengapa Manusia Harus Berdo’a??
Setelah kita mengetahui sejarah do’a, sekarang marilah kita menelusuri apa sebabnya manusia itu harus berdo’a? Hal tersebut bisa kita tinjau pada diri manusia itu sendiri, mengapa ia harus berdo’a kepada Allah? Ketahuilah, bahwa pada diri ma­nusia itu ada beberapa hal yang menyebabkan ia harus berdo’a. Diantaranya ialah :
Pertama, lantaran panggilan jiwanya, dan hal ini dapat dibuktikan ketika Adam dan Hawa terkena bujuk rayu Iblis, sehingga mereka me-makan buah larangan Allah, dan kepada keduanya Dia berfirman : “Bukankah Aku sudah melarang kamu berdua dari memakan buah larangan itu dan Aku katakan kepada kalian : ‘ ‘Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua”. Kemudian seketika itu juga keduanya berdo’a : “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengam-puni diri kami dan member! rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.(Surat Al-A’raaf ayat 22 — 23).
Dari ayat di atas telah menyatakan, bahwa
ketika Adam dan Hawa merasa bersalah, seketika keduanya berdo’a kepada Allah untuk meminta diampuni dosanya dan diberikan rahmat kepadanya. Dengan demikian jelaslah, bahwa berdo’a itu adalah merupakan panggilan jiwa manusia itu sendiri.
Kedua, lantaran mendapat kesulitan atau menghadapi mara-bahaya yang dasyat, maka pasti manusia itu akan berdo’a kepada Allah agar dihin-darkan dari kesulitan atau mara-bahaya itu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
WA IDZAA MASSAN NAASA DHURRUN DA’AU ROBBAHUM MUNIIBIINA ILAIHI”.
Artinya :
“Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu baha-ya, mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya”
(Surat Ar Rum ayat 33).
Ayat di atas tegas sekali menyatakan, bahwa apabila mara-bahaya menimpa manusia, ia akan berdo’a kepada Allah dengan segala macam cara yang dapat dilakukannya.
Ketiga, lantaran Allah sendiri yang memerin-tah kepada manusia untuk berdo’a kepada-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
‘UD’UUNII ASTAJIB LAKUM”.
Artinya :
“Berdo ‘alah    kepada-Ku,    niscaya   Aku   akan mengabulkan do’a kalian itu”.
(Surat Mu ‘mm ayat 60).
Ayat di atas tegas sekali, bahwa Allah telah memerintahkan kepada manusia agar ia berdo’a kepada-Nya. Dan hal ini adalah merupakan per-aturan Allah, yang manusia harus mematuhinya.
Keempat, lantaran manusia itu sendiri dicip-takan Allah dalam keadaan lemah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
maka ia sangat membutuhkan bantuan kepada Allah apabila ia kedatangan kekuatan yang besar dan dasyat. Seperti kedatangan banjir besar, ke­datangan angin taufan, kedatangan penyakit me-4ular, gempa bumi, tanah-longsor, kesulitan eko-nomi dan sebagainya.Dari segala peristiwa di atas, manusia tidak sanggup untuk menghadapinya, dan tidak ada pula kekuatan yang dapat diharapkan untuk membantu-nya selain dari pada Allah yang menciptakan dan mengatur semua itu menurut kehendak-Nya,
Dalam hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :WA  KHULIQOL  INSAANU DHA’IIFAN”.
Artinya :
Manusia dijadikan bersifat lemah”.
(Surat An-Nisaa’ ayat 28).
Berdasarkan ayat di atas jelaslah, bahwa ma­nusia itu adalah makhluq yang lemah. Karenanya
“WA IDZAA MASSAL INSAANA DHURRUN DA’AANAA LI JANBIHII AU QOO’IDAN AU QOO-IMAN”.
Artinya :
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia ber­do’a kepada Kami dalam keadaan berbaring,duduk atau berdiri.(Surat Yunusayat 12).
Demikianlah di  antara hal-hal yang menye-babkan manusia itu harus berdo’a kepada Allah,
Sejarah Do’a
Menurut catatan sejarah, bahwa do’a itu di-kenal semenjak manusia pertama (Adam as) di­ciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal tersebut bisa dibuktikan dalam uraian tentang sejarah terjadinya surat Al-Fatihah, surat pertama dari Al-Qur’an, yang telah disebutkan dalam kitab “Khazinatul Asrar”. Di situ diterangkan, bahwa sesudah Adam as. diciptakan dan ditiupi roh pa-danya, ia berdo’a kepada Tuhan, kepadanya diajar kan cara-cara berdo’a dan sebagai do’a pertama yang dibaca Adam as. ialah : “Ya Tuhanku, tun-jukilah daku jalan yang lurus, yaitu jalan mereka yang pernah beroleh nikmat dari-Mu, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan me-rekayang sesat”.Nah, semenjak itulah mulai digunakan do’a tidak saja Qabil dan Habil, tetapi para Nabi pun berdo’a. Nabi Nuh berdo’a, Nabi Hud berdo’a, Nabi Shaleh berdo’a, Nabi Ibrahim berdo’a, Nabi Luth berdo’a, Nabi Ya’qub berdo’a, Nabi Musa berdo’a, Nabi Harun berdo’a, Nabi Daud berdo’a, Nabi Sulaiman berdo’a Nabi Ayyub berdo’a, Nabi Zakaria berdo’a, Nabi Isa berdo’a dan Nabi Muhammad pun berdo’a pula.Dengan demikian, ibadat berdo’a itu hampir terdapat diseluruh bangsa manusia. Bangsa manusia yang tidak bertuhan kepada Allah, mereka meng-hadapkan do’anya kepada benda-benda, pohon-. pohonan atau binatang, yang oleh mereka diang-gapnya berjiwa dan berkekuatan. Tetapi bagi bang-sa-bangsa yang bertuhan, menghadapkan do’any a kepada Allah Yang Maha Kuasa, sebagai kesatuan pencipta dan sebagai pusat dari pada segala tenaga lahir batin. Karenanya, maka terjadilah do’a dan shalat itu sebagai sarana kebutuhan rohani bagi manusia itu sendiri.Sementara itu, orang-orang Fir’aun berdo’a kepada raja-raja dan kepada matahari, orang-orang Yunani berdo’a kepada Tuhan-Tuhan mereka, orang Hindu berdo’a, orang Budha berdo’a, orang Yahudi berdo’a, dan orang Nasrani pun berdo’a pula. Semua itu tidak lain hanyalah bertujuan untuk meminta keselamatan dan keberuntungan bagi dirinya, selamat dari bencana dan malapetaka.
Demikianlah sejarah do’a yang usianya me-mang sudah cukup tua, bersamaan dengan tercip-tanya manusia dipermukaan bumi ini.

Selasa, 06 Agustus 2013

Cara Menghadapi Sakaratul Maut

Allah swt berfirman:

Sakratul maut pasti datang. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaaf/50: 19)
Sertiap manusia pasti melewati pintu Sakratul maut sebelum ia memasuki alam Barzakh. Sakratul adalah jalan terjal pertama yang harus dilalui oleh setiap manusia. Pada jalan terjal ini, kebanyakan manusia akan menghadapi banyak siksaan dan penderitaan. Antara lain:
Pertama: Rasa sakit yang maha dahsyat, yang tak ada tandingannya di dunia, saat lisan terkunci, tak mampu mengungkapkan apa yang dialaminya dan dideritanya, saat semua daya dan kekuatan keluar dari jasadnya.
Kedua: Penderitaan karena tangisan keluarga, perpisahan dengan mereka, dan rasa duka yang sangat dalam karena akan berpisah selamanya dengan anak-anaknya.
Ketiga: kesedihan yang sangat dalam karena akan berpisah dengan harta, rumah, dan segala yang dimilikinya. Padahal dalam memperolehnya ia harus menghabiskan umurnya. Bahkan ia harus melakukan banyak kezaliman dan perampasan hak orang lain, selain itu hak-hak syariat dalam hartanya belum sempat ia keluarkan. Dalam keadaan yang seperti itu ia harus mengakhiri hidupnya, sementara jalan untuk melakukan perbaikan sudah tertutup. Kondisi seperti inilah yang diungkapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
“Ia mengenang hartanya dan saat mengumpulkannya, bersembunyi dalam mendapatkan dan mengambilnya dari tempat yang terang. Ketidakjelasan status hartanya mengharuskan kelelahan dalam mengumpulkannya. Ia mengamati perpisahan dengan hartanya yang akan ditinggalkan pada keturunannya yang akan menikmatinya, hartanya menjadi kesenangan bagi orang lain dan beban atas dirinya.”(Biharul Anwar 6: 163)
Keempat: Penderitaan karena ia menyaksikan dengan jelas hal-hal yang menakutkan di alam lain, bukan di alam dunia. Saat itulah, saat sakratul maut tiba padangan matanya sangat tajam sehingga ia mampu melihat segala sesuatu yang belum pernah ia disaksikan sebelumnya. Allah swt berfirman:
“Kami singkapkan darimu tirai yang menutupi matamu, sehingga penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” (Qaaf/50: 22).
Saat itulah ia melihat Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), menyaksikan malaikat datang ke sisinya, malaikat pembawa rahmat dan malaikat pembawa azab. Mereka datang
untuk menyaksikan hukum yang akan ditetapkan padanya dan ketentuan yang harus ia terima.
Kelima: Iblis dan sahabat-sahabatnya berkumpul di dekatnya untuk menjerumuskannya ke dalam keraguan. Mereka berusaha keras untuk mencabut keimanannya agar ia keluar dari dunia tanpa keimanan.
Keenam: ketakutan yang luar biasa akan kehadiran malaikat maut; dalam wujud apa dan bagaimana malaikat itu datang padanya, dan bagaimana cara ia mencabut ruhnya.
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Saat sakratul maut tiba berhimpunlah padanya segala hal yang menyakitkan, sehingga tak dapat disifati dengan apa yang akan terjadi padanya.” (Biharul Anwar 73: 109)
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) mengadukan rasa sakit matanya kepada Rasulullah saw. Ketika ia berteriak, Rasulullah saw menengoknya. Kemudian Rasulullah saw bertanya: mengapa mengaduh, karena rasa sakit? Imam Ali (sa) berkata: “Ya Rasulallah, tidak pernah aku merasakan sakit yang lebih darinya. Rasulullah saw bersabda: Wahai Ali, ketika malaikat maut datang untuk mencabut ruh orang kafir, ia datang dengan membawa alat pemanggang dari neraka, kemudian mencabut ruhnya, ia menjerit kesakitan seperti siksaan neraka jahannam. Kemudian Imam Ali (sa) duduk dan berkata: Ya Rasulallah, merenungi sabdamu melupakan aku pada rasa sakitku. Lalu Imam Ali (sa) berkata: Apakah hal itu akan menimpa juga kepada sebagian ummatmu? Rasulullah saw menjawab: Ya, hakim yang tidak adil, orang yang makan harta anak yatim dengan zalim, dan saksi yang berdusta.” (Biharul Anwar 6: 170)
Amalan untuk memperoleh kemudahan sakratul maut
Pertama: 
Silaturrahim
Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata:
“Barangsiapa yang ingin dimudahkan sakratul mautnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim kepada keluarganya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika ia melakukan hal itu, Allah akan memudahkan sakratul mautnya, dan dalam hidupnya ia tidak ditimpa kefakiran selamanya.” (Amali Ash-Shaduq: 318)
Kedua: Berbakti kepada orang tua
Dalam suatu riwayat dikatakan: Pada suatu hari Rasulullah saw mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau mengajarkan kepadanya kalimat Lailaha illallah. Tetapi pemuda itu lisannya terkunci.
Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang ada di dekat kepalanya: Apakah pemuda ini punya ibu?
Ia menjawab: Ya, saya ibunya.
Rasulullah saw bertanya: Apakah kamu murka kepadanya?
Ibunya menjawab: Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 haji (6 tahun).
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!
Ibunya menjawab: Saya ridha kepadanya karena ridhamu kepadanya.
Kemudian Rasulullah saw mengajarkan kembali kepadanya kalimat: Lailaha illallah.
Pemuda itu sekarang dapat mengucapkan kalimat Lailaha illallah.
Rasulullah bertanya kepadanya: Apa yang kamu lihat tadi?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam, pandangannya jahat, pakaiannya kotor, baunya busuk; ia mendekat kepadaku, dan marah pada.
Rasulullah saw menyuruhnya mengucapkan:
Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Lalu ia mengucapkannya.
Rasulullah saw bertanya lagi: Lihatlah sekarang apa yang kamu lihat?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang wajahnya putih dan indah, harum baunya, bagus pakaiannya; ia mendekat padaku, dan aku melihat orang yang berwajah hitam itu menjauh dariku.
Rasulullah saw bersabda: Perhatikan lagi, ia pun memperhatikan. Kemudian beliau bertanya: Apa yang kamu lihat sekarang.
Pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, yang aku melihat hanya orang yang wajahnya putih, dan cahaya meliputi keadaan ini. (Al-Mustadrak 2:129)
Wahai saudara-saudaraku, renungi baik-baik kejadian ini, dan perhatikan betapa banyak akibat buruk durhaka kepada orang tua. Bukankah pemuda itu adalah salah seorang dari sahabat Nabi saw, beliau menjenguknya, duduk di dekat kepalanya, dan beliau sendiri yang mengajarkan kalimat tauhid kepadanya. Tapi ia tidak mampu mengucapkannya kecuali setelah ibunya memaafkan dan meridhainya.
Ketiga: Memberi pakaian kepada orang mukmin
Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata:
“Barangsiapa yang memberi pakaian kepada saudaranya di musim dingin atau di musim panas, maka Allah berhak memberinya pakaian dari surga, memudahkan sakratul mautnya, dan meluaskan kuburnya.” (Biharul Anwar 74: 380.)
Keempat: Memberi makanan kepada orang mukmin
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang memberi makan pada saudaranya sepotong kue manis, Allah akan menghilangkan darinya pahitnya kematian.” (Biharul Anwar 66: 288)
Di antara amalan praktis dalam bentuk bacaan yang bermanfaat untuk kemudahan dan kebahagiaan saat sakratul maut adalah membaca surat Yasin, Ash-Shaffat 8), dan doa Farj (doa kebahagian) di dekat orang yang sedang sakratul maut. (Al-Kafi 3: 124)
Kelima: Puasa di bulan Rajab
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Barangsiapa yang berpuasa satu hari di akhir bulan Rajab, ia akan mendapat keamanan dari penderitaan sakratul maut, dan keamanan dari segala yang menakutkan dan dari siksa kubur.” (Fadhail al-asyhur al-tsalatsah: 18)
Ketahuilah bahwa berpuasa 24 hari di bulan Rajab memiliki pahala yang sangat besar:
“Barangsiapa yang berpuasa dua puluh empat hari di bulan Rajab, maka saat sakratul maut malaikat maut akan datang kepadanya dengan wajah seorang pemuda yang memakai selendang sutera berwarna hijau, menaiki kuda dari surga; tangannya membawa sutera hijau dan misik yang baunya sangat harum, tangan membawa gelas yang besar berisi minuman dari surga, kemudian ia meminumkan kepadanya saat ruhnya akan keluar darinya, sehingga ia mudah dalam sakratul mautnya. Kemudian ruhnya di letakkan pada kain sutera itu sehingga keluarlah bau harum dan tercium oleh penghuni tujuh langit; ketika sampai di kuburnya ia dalam keadaan puas tidak dahaga sampai ia kembali ke telaga Nabi saw.” (Amali Ash-Shaduq: 432)
Keenam: Melakukan shalat sunnah di bulan Rajab
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah empat rakaat pada malam ketujuh bulan Rajab, setelah Fatihah membaca surat Al-Ikhlash (3 kali), Al-Falaq dan An-Nas, kemudian setelah salam membaca shalawat (10 kali), dan Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar (10 kali), maka Allah akan menaunginya dengan naungan arasy-Nya, memberinya pahala seperti pahala orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, para malaikat memohonkan ampunan baginya sampai ia selesai melakukan shalat itu, Allah memudahkan baginya pencabutan ruhnya, menyelamatkannya dari siksa kubur, ia tidak akan meninggalkan dunia kecuali ia melihat tempatnya di surga, dan Allah memberi keamanan baginya dari pada hari kiamat.” (Iqbalul a`mal: 651-652)
Ketujuh: Membaca surat Al-Zalzalah
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Janganlah kamu bosan membaca surat Al-Zalzalah, karena orang yang membacanya dalam shalat-shalat sunnah nafilahnya Allah tidak akan menimpakan goncangan kepadanya selamanya, dan ia tidak akan meninggal dalam keadaan ketakutan, tidak disambar petir, dan tidak akan ditimpa penyakit-penyakit dunia hingga ia meninggali. Dan ketika menjelang kematiannya malaikat yang mulia akan datang kepadanya dari sisi Tuhannya dan duduk di dekat kepalanya, seraya Tuhannya berfirman: Wahai malaikat maut, lembutkan sikapmu terhadap kekasih Allah, karena ia banyak berzikir kepada-Ku.” (Biharul Anwar 82: 64)
Doa Untuk Memperoleh kemudahan Sakratul maut
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang membaca doa berikut (10 kali) setiap hari, Allah swt akan mengampuni baginya empat puluh ribu dosa besar, menjaganya dari keburukan kematian, siksa kubur, hari kiamat dan hari hisab, dan segala hal yang menakutkan; yakni Allah memudahkan seratus hal yang menakutkan saat kematian, Allah menjaganya dari kejahatan iblis dan pasukannya, menunaikan hutangnya, menghilangkan dukanya, dan membahagiakan deritanya. Yaitu:
Aku persiapkan untuk
Setiap yang menakutkan Laiha illallah,
Setiap duka dan derita masya Allah,
Setiap nikmat Alhamdulillah,
Setiap kebahagiaan Asy-Syukru lillah,
Setiap yang menakjubkan Subhanallah,
Setiap dosa Astaghfirullah,
Setiap musibah Innalillahi wa inna ilayhi raji’un,
Setiap kesulitan Hasbiyallah,
Setiap ketetapan dan takdir Tawakkaltu ‘alallah,
Setiap musuh A’shamtu billah,
Setiap ketaatan dan kemaksiatan La hawala wala quwwata illa billahil aliyyil ‘azhim.
(Biharul Anwar 87: 5)
Juga perlu diketahui bahwa doa berikut ini memiliki keutamaan yang besar jika dibaca 70 kali. Di antara keutamaannya adalah memberikan kebahagiaan saat sakratul maut:
Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar, wahai Yang Maha Melihat dari semua yang melihat, wahai Yang Maha Cepat perhitungan-Nya dari semua yang menghitung, wahai Yang Maha Menghakimi dari semua yang menghakimi. 14)
Tulisan ini disarikan dari kitab “Manazilul Akhirah” karya Syeikh Abbas Al-Qumi penulis kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga.
Sakratul maut adalah saat yang paling genting dan bahaya, saat yang sangat menentukan bagi calon mayyit apakah ia mampu mempertahankan keimanannya dari godaan dan bisikan iblis dan pasukannya yang selalu berusaha mengeluarkan keimanan darinya.
Saat sakratul maut tiba tidak jarang manusia tergoda dan tergelincir akibat bisikan iblis dan pasukannya. Iblis akan selalu menggoda dan membisikkan keraguan agar keimanan tergoyahkan dan keluar darinya. Tapi semua itu bergantung pada amal dan berbuatannya semasa hidupnya.
Kita tidak tahu, kapan ajal akan menjemput kita? Karena itu kita dianjurkan untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Pengasih, menitipkan diri kita kepada-Nya dan memohon kepada-Nya agar Allah menolak setan saat Sakratul maut tiba, sehingga kita benar-benar diselamatkan dari kecenderungan pada kebatilan dan kekufuran saat maut menjemput kita.
Di antara doa perlindungan adalah doa Al-‘Adilah, doa yang bersumber dari Ahlul bait Nabi saw. Kita dianjurkan banyak membaca doa ini, dan berusaha menghadirkan maknanya ke dalam jiwa kita. Doa ini sangat bermanfaat untuk perlindungan diri kita dari bahaya kecenderungan pada kebatilan dan kekufuran saat sakratul maut tiba.
Amalan dan doa yang bermanfaat
Agar keimanan kokoh dan keyakinan tidak tergoyahkan oleh iblis dan pasukannya, Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa) telah mengajarkan kepada kita amalan dan doa, antara lain:
Pertama: Menjaga waktu-waktu shalat
Dalam suatu hadis disebutkan bahwa Malaikat maut berkata: “Tidak ada penghuni suatu rumah di barat atau di timur, di dusun atau di kota, kecuali aku berjabatan tangan dengan mereka lima kali setiap hari.”
Rasulullah saw bersabda: “Malaikat maut berjabatan tangan dengan mereka pada waktu-waktu shalat; orang yang menjaga waktu-waktu shalatnya, malaikat maut mengajarkan kepadanya kalimat syahadat Lailaha illallah wa Muhammadur rasulullah, dan ia menjauhkannya dari Iblis.” (Al-Wasail 3: 79)
Kedua: Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) pernah menulis surat kepada sebagian manusia: “Jika kamu ingin memperoleh amal yang baik di penghujung umurmu sampai ruhmu dicabut dan kamu berada dalam amal yang paling utama, hak yang agung hanya milik Allah swt, maka hendaknya kamu tidak menggunakan nikmat-nikmat Allah dalam kemaksiatan pada-Nya, tidak ghurur (bangga diri) terhadap kesantunan-Nya padamu, muliakan setiap orang yang kamu jumpai yang menghubungkan kepada kami atau yang menganjurkan kecintaan kepada kami, kemudian bersikaplah jujur dan tidak berdusta.” (Biharul Anwar 73: 351)
Ketiga: Syeikh Abbas Al-Qumi mengatakan: Di antara hal yang bermanfaat untuk memperoleh husnul khatimah, dan keselamatan dari hal-hal yang mencelakakan dan memperoleh kebahagiaan, adalah membaca doa yang ke 11 dalam Shahifah Sajjadiyah.
Keempat: Melakukan shalat sunnah pada hari Ahad bulan Dzul Qaidah
Kelima: Mendawamkan zikir berikut:
Ya Tuhan kami, jangan jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Kau tunjuki kami. Karuniakan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia. (Ali-Imran: 8).
Keenam: Mendawamkan Tasbih Az-Zahra’
Ketujuh: Membaca surat Qad aflahal mu’minun (surat Al-Mukminun) setiap Jum’at.
Kedelapan: Membaca zikir berikut (7 kali) setiap sesudah shalat Subuh dan Maghrib:
Bismillâhir Rahmânir Rahîm, wa lâ hawla walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm.
Kesembilan: Melakukan shalat sunnah empat rakaat pada malam yang kedua belas bulan Rajab; setiap rakaat sesudah Fatihah membaca surat Al-Kafirun (7 kali), dan sesudah shalat membaca shalawat (10 kali) dan istighfar (10 kali).
Kesepuluh: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah empat rakaat pada malam yang keenam bulan Sya’ban, setiap rakaat sesudah Fatihah membaca surat Al-Ikhlash (50 kali), Allah akan mencabut ruhnya dalam keadaan bahagia, meluaskan kuburnya, dan membangkitkan dari kuburnya dalam keadaan wajahnya seperti bulan sambil membaca: Asyhadu an Lâilaha illallâh wa anna Muhammadan `abduhu wa rasûluhu.” (qbal al-A`mal: 690-691)
Kesebelas: Banyak membaca doa perlindungan, antara lain:
Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kecenderungan pada kebatilan saat kematian, dari keburukan tempat kembali di alam kubur, dan dari penyesalan pada hari kiamat (Biharul Anwar 98: 383)
Kedua belas: Membaca doa keselamatan dari pertanyaan Malaikat munkar dan Nakir:
Ya Allah, wahai Yang Maha Pengasih wahai Yang Maha Penyayang aku titipkan pengakuan ini, pengakuan tentang-Mu, tentang Nabi-Mu dan para Imam; dan Engkau adalah sebaik-baik tempat penitipan, maka kembalikan pengakuan ini padaku di kuburku saat menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir. ( Ma`alim al-zulfa: 71)
Tulisan ini disarikan dari kitab “Manazilul Akhirah” karya Syeikh Abbas Al-Qumi penulis kitab Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga.