Halaman

Sabtu, 24 September 2011

Bimbingan Ghoib

YA DAYMUSA IHDINI YA HADI WA AHBIRNI YA KHOBIRU WA BAYYIN LI YA MUBINU WA ALLIMNI YA ALLAMUL GHUYUB BIMA YAQO’U FI HADZIHIS SA’AH MIN KHIRIN WA SYARRIN
Di dawakan amalan ini selama 20 malam tanpa puasa setelah kadang blm sempurna 20 hari maka akan ada mahkluk Allah yg akan membimbing anda tentang hal2 ghoib

Do’a Nabi untuk yg sakit

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ بِسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

( صحيح البخاري )
Dari Aisyah ra : Sungguh Nabi saw berdoa untuk yang sakit dengan ucapan : “Dengan Nama Allah, Demi Tanah Bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (Shahih Bukhari)

Nyepi Gaman

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ada orang yang mampu menarik atau menyedot benda-benda pusaka, harta karun atau peninggalan-peninggalan nenek-moyang kita yang tak ternilai harganya. Yang kadang demi untuk mendapatkan itu orang rela mengeluarkan biaya yang sangat mahal. Walaupun tingkat keberhasilannya sangat kecil, dikarenakan ketidak-tahuan mereka akan hal-hal yang berhubungan dengan tata cara-ritual penarikan atau penyedotan benda-benda tersebut. Dan mungkin karena ketidak-mampuan pelaku Ritual tersebut. Di sini kami akan mempersembahkan salah satu ritual “Nyepi Gaman” bagi saudara-saudara yang masih awam dalam hal ini. Yang kami anggap paling aman dan mudah bagi para pemula dalam dunia “Hikmah ke-GHOIB-an” yang Insya Allah sebagai berikut:
1. Sebaiknya anda puasa terlebih dahulu satu, tiga atau tujuh hari tergantung kebutuhan kita terhadap nilai benda-benda tersebut.
2. Kemudian pada malam harinya setelah kita selesai puasa, kita bisa langsung ke tempat yang kita anggap ada benda-benda GHOIB yang kita maksudkan atau bisa juga kita cukup ambil tanahnya saja dan kita bisa melakukan ritual dari rumah kita masing-masing.
3. Setelah tanah kita bawa pulang saat tengah malam kita melakukan Shalat sunnah mutlak minimal 2 raka’at, setelah selesai selanjutnya kita terlebih dahulu kita TAWWASUL kepada:
 Yang Mulia Rasulullah Saw.
 Para Sahabat yang Mulia.
 Yang Mulia Syech Abdul Qodir al-Jaelany.
 Yang Mulia Syech Syatho al-Makki.
 Seluruh Auliya’i, Ulama’ amaliin, Syuhada’ Sholihin.
 Khususon man ijazany ……………
 Kedua orang tua kita, orang-orang yang di zhalimi, Seluruh orang Islam baik laki-laki dan perempuan di seluruh dunia.
4. Setelah selesai ber-tawwasul membaca:
 Istighfar 1000 x
 Suratul-Ikhlas 1500 x
Insya-Allah setelah selesai ritual seperti di atas apa yang kita inginkan segera di penuhi oleh Allah Swt. Apabila belum juga benda yang kita inginkan belum juga muncul atau dapat kita ambil maka sebaiknya teruskan membaca Sholawat sampai benda yang kita inginkan terwujud. Bi Idznillah

Dzikirnya Kanjeng sunan Kalijogo

 kang.cipto37@gmail.com

Bismillahirohmannirohim .
Jumeneng  nyawainingsun nafsu mutmainah makrifatullah. Nyawa adalah kehidupan.untuk mengembangkan iman lebih tinggi harus bisa menundukkan dan mengedalikan hawa nafsu.
1.untuk menundukan nafsu lauawamah pintu perjalananya ada mulut dan dzikirnya:

“Allahu laa illaha ila huwa”  100 x

2.untuk menundukan nafsu Amarah pintu perjalananya ada di telinga dzikirnya:

“Allahu ila huwahid “   100 x

3.untuk menundukan nafsu supiyah pintu perjalananya ada di hidung dzikirnya:

“Arrahman innahu hu Allah”  100x
4.untuk mengembangkan nafsu mutmainah perjalananya ada di Roh,Akal dan budi rasa dan dzikirnya :

“Hu Allah Hu Ahad Allahu shomad” 500 x
Fata barokallahu aksanul glinkia alhamdulillahi rabbil Alamin.

Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Quran (9); Berinteraksi dan Mentadabburkan Al-Quran Secara Aplikatif (13)

13. Memperhatikan aspek realita terhadap nash-nash Al-Quran
Saat mengawali pembahasan tentang tujuan-tujuan pokok Al-Quran, menerapkan misi gerakannya, seorang pembaca yg jeli hendaknya memperhatikan sisi faktual ayat-ayat Al-Quran, meneliti kesesuaiannya dg kondisi kontemporer, memahami solusinya & meluruskan permasalahan -permasalahannya serta memperbaiki manhaj & sistem hidup yg terdapat di dalamnya.
Saat membaca Al-Quran hendaknya menghilangkan belenggu zaman & tempat, sehingga akan ditemui darinya ayat-ayat tentang mukjizat yg seakan hidup, mensifati keberadaannya yg hidup, membicarakan realita kehidupan yg nyata, menjelaskan qodhoya –problema- & permasalahan yg terdapat disekitarnya. Pada saat membaca surat-surat dalam Al-Quran dg metode ini, maka akan ditemui surat-surat yg hidup, bergerak, menuntun & memberi petunjuk. Sehingga ketika menelaah ayat-ayat Al-Quran dg metode diatas maka akan ditemukan kejujuran, kasih sayang , kelembutan, kesatuan & kecintaan yg memanggilnya, seakan indah berinteraksi bersamanya. Ia selalu menyertainya dalam perjalanan yg indah & menyenangkan, membimbingnya dalam suasana yg bijak sesuai dg dunia realitanya & kehidupannya yg nyata. Pembaca Al-Quran akan mendapatkan Al-Quran & surat-suratnya sebagaimana yg telah ditemukan oleh Sayyid Qutb saat menyadari indahnya berinteraksi dg Al-Quran, memperhatikan sisi realitas terhadap nash-nash Al-Quran & arahan-arahannya, mengungkapkan dari apa yg ditemui di dalamnya, beliau berkata : “Begitulah saat saya kembali memandang surat-surat & ayat-ayat dalam Al-Quran. Begitulah saya merasakannya, & begitu pulalah saya kembali berinteraksi dengannya. Setelah melewati masa yg panjang utk hidup bersamanya, sekian lama bersatu, sekian lama berinteraksi dengannya sesuai dg tabiatnya, petunjuknya, fenomenanya & karakteristiknya.
Saya menemukan dalam Al-Quran wawasan yg begitu luas oleh adanya keragaman contoh, menemukan kelembutan yg begitu halus oleh karena interaksi individu yg intens, serta menemukan kenikmatan yg berlimpah oleh karena keragaman sifat & tabiat, petunjuk-petunjuk & arahan-arahan yg terdapat di dalamnya.
Semuanya adalah kebenaran, seluruhnya adalah kejujuran, seluruhnya adalah belas kasih, seluruhnya adalah kecintaan, seluruhnya adalah kenikmatan, & seluruhnya akan membarikan hati keragaman perhatian yg menyenangkan, keragaman kenikmatan yg berlimpah, keragaman sentuhan yg lembut, keragaman dampak yg menuntun, sehingga dapat memberikan citq rasa khusus & suasana yg unik.
Hidup bersama Al-Quran dari awal hingga akhir merupakan perjalanan indah…perjalanan dalam alam nyata & abstrak, teori & praktek, ketetapan & sentuhan yg tenggelam ke dalam jiwa yg paling dalam, sehingga menampakkan peristiwa-peristiwa alam secara konkrit. Rihlah yg memiliki keistimewaan karakter pd setiap surat & tiap-tiap surat…” (Ad-Dzilal : 3 : 1243)
Setiap ayat-ayat dalam Al-Quran memiliki sisi realita masa depan, baik ayat yg berhubungan dg aqidah, kisah-kisah, berita tentang umat masa lalu, arahan, hukum, / yg berhubungan dg sunatullah, prinsip-prinsip, nilai-nilai & etika-etika / lain-lainnya.
Ayat-ayat yg dapat mengenalkan tentang Allah SWT, & menjelaskan kepada kita tentang kerajaan-Nya & kekuasaan-Nya yg agung & mulia, mengajarkan sifat-sifat Allah SWT & nama-nama-Nya yg mulia, sehingga kita dapati aspek realita tentang masa depan secara nyata. Bahwa sifat-sifat Allah SWT yg terdapat dalam nash-nash Al-Quran merupakan sifat yg konkrit & positif…seperti sifat ilmu Allah yg universal yg mencakup segala sesuatu yg ada di muka bumi.
Allah berfirman :
يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dia mengetahui apa yg masuk ke dalam bumi & apa yg keluar daripadanya, & apa yg turun dari langit & apa yg naik kepadanya. Dan Dia berada bersamamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yg kamu kerjakan”. 2(Al-Hadid : 4)
Jika realita kehidupan selalu disertai oleh dalil pd ayat ini maka akan menjadikan hatinya & seluruh tubuhnya hidup; menghadirkan kebersamaan Allah dalam dirinya, Dia Maha Mengetahui terhadap seluruh jiwanya, geraknya & keadaannya, sehingga dirinya akan selalu istiqomah atas manhaj Allah, merasa diawasi & takut kepada-Nya. Ayat tersebut secara faktual akan dapat menyinari kehidupan & membuat jalan hidup manusia menjadi cerah.
Kisah-kisah Al-Quran yg menceritakan tentang umat pd masa lalu & preilaku-perilaku mereka juga memiliki sisi realita masa depan, seakan dg membicarakan keadaan manusian & sifat-sifat mereka & karakteristik kehidupan mereka, seorang pembaca dapat menjadikannya sebagai pelajaran dalam beraqidah, berdawah, bergerak, memberikan inspirasi tentang pendidikan, ghazwah & jihad, serta memberikan pengetahuan tentang karakterstik Al-Quran & cahayanya yg mampu menyingkap berbagai wawasan & petunjuk.
Kita berharap kepada Allah menolong kita dalam mempersiapkan aktualisasi tentang kisah-kisah dalam Al-Quran & menjadikannya sebagai pelajaran & ibroh dalam beraqidah, berdawah, bergerak & berjihad. Contoh dari kisah dalam Al-Qur’an adalah “Maa qishos As-Sabiqin fi Al-Quran” akan di dapat berbagai pelajaran yg unik, utk dapat dijadikan pegangan hidup di masa mendatang.
Kami mengajak para pembaca utk memperhatikan sisi aktualisasi terhadap ayat-ayat berikut ini:
Dalam kisah nabi Ibrahim Allah berfirman :
قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ. قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ . قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ
“Mereka berkata : “Siapakah yg melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yg zalim. Mereka berkata : “kami dengar ada seorang pemuda yg mencela berhala-berhala ini yg bernama Ibrahim. Mereka berkata : “(kalau demikian) bawalah dia dg cara yg dapat dilihat orang banyak, agar mereka mau menyaksikan”. 2 (Al-Anbiya : 59-61)
dan Firman Allah tentang kisah ashabul kahfi:
وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا . إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا
“Mereka berkata : Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (disini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dg membawa uang perakmu ini, & hendaklah dia lihat manakah makanan yg lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu,d an hendaklah dia berlaku lemah lembut & janganlah sekali-kali memberitakan helmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dg batu, / memaksamu kembali kepada agama mereka, danjika demikian niscaya kamu tdk akan beruntung selama-lamanya”. (Al-Anbiya : 19-20) & firman Allah pd saat men yeru nabi Zakaria utk memberikan rizkinya kepada anak kecil : “…Maka anugrahilah aku dari sisi Engkau. Yang akan mewarisi aku & mewarisi sebahagian keluarga Yaqub; & jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yg diridloi”2 (Maryam : 19-20)
Alalh berfirman tentang raja fir’aun yg menjadi contoh nyata bagi setiap pemimpin yg zhalim & pemimpin yg durjana :
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi & menjadikan penduduknya berpecah belah, dg menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka & membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yan gberbuat kerusakan”. 2 (Al-Qoshosh: 4)
Allah berfirman tentang penyiksaan & penghinaan yg dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman:
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ . وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ . وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ . وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ
“Sesungguhnya orang-orang yg berdosa, adalah mereka yg dulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yg beriman. Dan apabila orang-orang yg beriman lalu dihadapan mereka,mereka saling mengedip-ngedipkan. Dan apabila orang-orang yg berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dg gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mumin, mereka mengatakan : “ Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yg sesat”. 2 (Al-Muthaffifin : 29-32)
Hendaknya pembaca Al-Quran memperhatikan sisi realita pd bidang ekonomi dalam ayat berkut ini :
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yg belum sempurna akalnya, harta (mereka yg berada dalam kekuasaanmu) yg dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan”. 2 (An-Nisa : 5)
Sisi realitas tentang sunnah Rabbaniyah :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman & bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit & bumi, tetapi mereka endustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. 2 ( Al-Arof : 96)
Sisi realitas tentang keluarga :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan bergaullah dg mereka secara patut. Kemudian apabila kamu tdk menyukai mereka, (maka bersabarlah) kerena mungkin kamu tdk menyukai sesuatu, padahal Allah menjdaikan padanya kebaikan yg banyak”. 2 (An-Nisa : 19)
Sisi realitas tentang ayat yg menetapkan akibat memerangi agama ini, kekalahan tentaranya dimana saja mereka :
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ . هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Alalh dg mulut (ucapan-ucapan) mereka. Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yg mengutus Rasul-Nya dg membawa petunjuk & agama yg benar agar Dia memenangkannya diatas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci”. 2 (As-Shof : 8-9)
Dan contoh-contoh lainnya…
Sumber: al-ikhwan. net

Perintah Untuk Mengikuti Sunnah Rasulullah Dan Larangan Dari Fanatisme Dan Taqlid, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat & salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya & semua sahabatnya.
Saudara-saudara yg saya cintai karena Allah. Saya bersaksi di hadapan Allah, bahwa saya mencintai antum semua & orang-orang shalih di negeri ini semata karena Allah. Saya datang ke Indonesia utk yg ketiga kalinya. Dan saya –alhamdulillah- mendapatkan kebaikan yg sangat banyak di negeri ini. Saya berdoa semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yg dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits qudsi:
وَجَبَتْ مَحَبَّتِي فِي الْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَ وَجَبَتْ مَحَبَّتِي فِي الْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ
Orang-orang yg duduk di satu majelis karena Aku, maka mereka pasti mendapatkan kecintaan dariKu. Orang-orang yg berkumpul karena Aku, maka telah mendapatkan kecintaan dariKu.
Sudah kita ketahui bersama, orang yg masuk ke dalam agama Islam harus mengatakan:
أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلا الله, وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Dua kalimat tersebut merupakan kalimat yg sangat agung. Seseorang tdk bisa dikatakan muslim, kecuali jika dia telah mengucapkan dua kalimat tersebut, memahami & melakukan konsekuensi dari kedua kalimat itu.
Dan makna perkataan أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلا اللهadalah tdk ada sesembahan yg berhak utk disembah kecuali Allah. Maka wajib bagi seorang muslim utk merealisasikan ubudiyahnya kepada Allah. Ubudiyah kepada Allah adalah kecintaan yg sempurna, taat & tunduk terhadap perintahNya. Oleh sebab itulah, semua para nabi datang membawa panji Islam.
Allah berfirman.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama yg Allah diridhai di sisiNya adalah Islam. (Ali Imran: 19).
Allah berfirman.
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ
Dan barangsiapa yg menginginkan agama selain Islam, maka tdk akan pernah diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85).
Semua agama di atas bumi adalah agama yg batil, kecuali Islam. Allah tdk akan menerima & rela utk hambaNya, kecuali agama Islam ini. Agama ini wajib dijalankan & diamalkan oleh kaum muslimin. Allah berfirman.
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
Allah telah mensyariatkan bagi kalian agama seperti yg telah diwasiatkanNya kepada Nuh & apa yg telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) & Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa & Isa yaitu: “Tegakkanlah agama & janganlah kalian berpecah-belah tentangnya. Amat berat bagi kaum musyrikin agama yg kamu serukan mereka kepadanya. Allah memilih orang-orang yg dikehendakiNya kepada agamaNya & memberikan petunjuk kepada (agama)Nya orang-orang yg kembali (kepadaNya). (Asy Syura: 13).
Dalam ayat lain, Allah berfirman.
Allah menentukan utk (diberi) rahmatNya orang-orang yg Dia kehendaki. (Al Baqarah: 10)
Allah memilih orang-orang tertentu dari kalangan ahli tauhid & ahli din.
Namun syi’ar (slogan) seorang muslim adalah tauhid & Sunnah. Karena itu, keimanan seorang muslim tdk akan sempurna kecuali jika dia telah mengatakan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّّ اللهُ
Dengan itulah, tauhid akan terwujud, & juga dg kalimat:
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Makna kalimat ini, ialah tdk ada orang yg berhak diikuti, kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Maka, seorang muslim tdk boleh menjadikan seorang syaikh, madzhab, kelompok, jama’ah, nalar, pendapat, (aturan) politik, adat, taqlid, budaya, warisan nenek moyang, sebagai panutan & diterima begitu saja tanpa melihat dalil. Seorang muslim tdk bisa dikatakan muslim yg sempurna, sampai ia melaksanakan ubudiyah (penghambaan diri) hanya utk Allah saja & menjadikan Rasulullah n sebagai orang yg dia ikuti. Barangsiapa yg menisbatkan diri kepada salah satu madzhab, kelompok / jama’ah / akal, maka ucapannya “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” masih dianggap kurang & tdk sempurna.
Pernyataan yg telah kami sebutkan itu merupakan ketetapan semua ulama Islam, terutama para imam yg empat, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik & Imam Ahmad, semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka semua.
Imam Abu Hanifah berkata: ”Haram bagi seseorang mengemukakan pendapat kami, sampai dia mengetahui dari mana kami mengambilnya”.
Dan Imam Malik, sambil memberikan isyarat ke arah makam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sambil berkata: ”Semua orang, perkataannya bisa diambil & bisa ditolak, kecuali perkataan orang yg ada di dalam kuburan ini,” yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Imam Syafi’i berkata: ”Jika ada hadits shahih, maka itulah madzhabku”.
Pada suatu hari, datang kepadanya seseorang & berkata: “Wahai, Imam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda begini & begini (sambil menyebutkan hadits) dalam masalah ini. Lalu, apa pendapatmu, wahai Imam?” Maka Imam Syafi’i marah besar & berkata: ”Apakah engkau melihat saya keluar dari gereja? Apakah engkau melihatku keluar dari tempat peribadatan orang Yahudi? Engkau menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka aku tdk berkata apa pun, kecuali seperti apa yg dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam“.
Karena itulah, salah satu muridnya yg bernama Yunus bin Abil A’la Ash Shadafi dalam satu majelis pernah ditanya tentang satu masalah. Maka dia menjawabnya dg hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu ada yg bertanya: ”Apa pendapat Imam Syafi’i dalam masalah tersebut?” Beliau menjawab: ”Madzhab Imam Syafi’i ialah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena saya pernah mendengar beliau berkata: ”Jika ada hadits shahih, maka itulah madzhabku”.
Begitu pula Imam Ahmad, beliau adalah orang yg selalu mengikuti atsar & dalil. Beliau tdk pernah berhujjah, kecuali dg dalil dari firman Allah / sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian ini merupakan kewajiban bagi seorang alim, mufti & orang yg meminta fatwa. Karena Allah memerintahkan orang-orang yg tdk memiliki ilmu agar bertanya.
فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Maka tanyakanlah kepada orang-orang yg memiliki pengetahuan jika kalian tdk mengetahui. (An Nahl: 43).
Akan tetapi, (sebagian) kaum muslimin berhenti sampai ayat ini saja. Mereka lupa & tdk melanjutkan ayat tersebut. Padahal kelanjutan dari ayat tersebut adalah:
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ
Dengan keterangan-keterangan & kitab-kitab. (An Nahl: 44).
Maksudnya, jika Anda tdk mengetahui, maka bertanyalah kepada orang yg mengetahui dg disertai dalil, hujjah & bukti-bukti. Itulah makna firman Allah:
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ
Agama & hukum Allah tdk diambil kecuali berdasarkan keputusan (ijma’), penjelasan & kaidah-kaidah para ulama yg dilandasi dg dalil-dalil syar’i. Dari situ, tumbuhlah persatuan. Persatuan yg wajib digalang oleh kaum muslimin harus bertumpu pd tauhid & ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Persatuan secara fisik yg kita serukan harus didahului oleh persatuan / kesamaan pemahaman. Pemahaman kita harus dilandasi dg tauhid & ittiba’ hanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan inilah makna dari firman Allah.
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Tegakkanlah agama & jangan kalian berpecah belah tentangnya. (Asy Syura: 13).
Allah melarang kita berpecah-belah, & jangan sampai ada sesuatu yg memecah-belah kita. Allah juga melarang kita meninggalkan Al Qur’an & Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita, bahwa pd akhir jaman nanti akan ada beberapa kaum yg mengingkari Sunnah. “Aku akan mendapati salah satu dari kalian bersandar di atas kursinya sambil berkata “Dihadapan kita ada Kitab Allah. Jika kita mendapatkan sesuatu yg halal di dalamnya, maka kita akan halalkan. Dan jika kami menemukan sesuatu yg haram, maka kami haramkan”. Ketauhilah, bahwa aku telah diberi sesuatu yg sama dg Al Qur’an”. (HR Abu Daud & Tirmidzi).
Kedudukan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sama dg Al Qur’an. Di dalamnya disebutkan hal-hal yg halal & haram. Orang yg mengingkari Sunnah, hukumnya kafir, keluar dari agama. Orang yg mengingkari Sunnah, berarti mengingkari Al Qur’an.
Kita lihat, bagaimana Al Qur’an bisa sampai kepada kita? Al Qur’an sampai kepada kita dari generasi ke generasi. Para tabi’in mengambilnya dari para sahabat, & para pengikut tabi’in mengambilnya dari para tabi’in. Begitu seterusnya, sehingga Al Qur’an bisa sampai kepada kita.
Pada masa-masa terakhir ini, telah terjadi perbedaan. Kami menemukan beberapa kaum di antara mereka ada yg mengingkari Sunnah. Di antara mereka ada yg membacanya dg niat mencari barakah & tdk beramal dg sunnah. Ada sebagian orang, yg sama sekali tdk perduli sama sekali dg Sunnah, & dia beranggapan bahwa yg dimaksud dg Sunnah adalah satu hukum yg tdk ada sangsinya. Demikian ini merupakan dugaan yg salah.
Sebab, para ulama, jika mengatakan “Sunnah” secara mutlak, maka maknanya tdk lepas dari dua hal.
Pertama: Sunnah, sebagai sumber syari’at (hukum). Dalam hal ini, kedudukan Sunnah sama dg Al Qur’an, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
Kedua: Sunnah yg berarti sebagai salah satu hukum syar’i yg lima, yg berada di bawah wajib & di atas mubah. Berdasarkan (makna) yg kedua ini, pelakunya akan diberi pahala, & yg meninggalkannya tdk mendapat sangsi.
Jika seseorang tdk memiliki kemampuan utk mengambil dalil yg benar, maka lebih baik dia mengikuti jalan para sahabat, karena kebaikan hanya dari jalan mereka. Kemudian kebaikan ini diriwayatkan & diambil oleh para tabi’in. Akan tetapi, pd jaman tabi’in, kebaikan tersebut tercampuri dg noda & bid’ah yg mulai muncul. Sehingga, muncullah kelompok-kelompok seperti Rafidhah, Qadariyah & kelompok-kelompok sesat lainnya. Padahal, kebanyakan orang umumnya masih berada di atas kebaikan tersebut. Seiring dg perjalanan waktu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan tentang keterasingan agama ini. beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya agama (Islam) muncul dalam keadaan asing & akan kembali menjadi asing. Maka keberuntungan bagi orang-orang yg asing. Ditanyakan kepada nabi n: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sekelompok orang yg sedikit, yg berada di kalangan orang yg banyak. Mereka memperbaiki Sunnah-ku yg telah dirusak oleh orang. ” (HR Tirmidzi)
Oleh karenanya, ketika Imam Ahmad mendengar seseorang berkata – saat fitnah banyak bermunculan, di antaranya bid’ah yg menyatakan Al Qur’an adalah makhluk & fitnah lainnya,: “Ya, Allah. Matikanlah aku di atas Islam. ” Maka Imam Ahmad berkata kepadanya: ”Katakanlah, ‘Ya, Allah. Matikanlah aku di atas Islam & Sunnah’. ”
Kita memohon & berdo’a kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas Islam & Sunnah, & semoga kata-kata terakhir dalam hidup kita ialah laa ilaaha illallah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberitahukan kepada kita, bahwa setiap satu jaman berlalu & datang jaman lain, maka semakin berat fitnah yg melanda umat ini & perpecahan akan semakin nampak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm berkata kepada sahabatnya:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي – أي من يطول به العمر- فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Sesungguhnya, barangsiapa yg hidup di antara kalian (panjang umurnya), maka dia akan mendapatkan perbedaan yg sangat banyak. (HR Abu Daud).
Perpecahan tersebut telah terjadi, & ini adalah penyakit. Dan tdk ada satu penyakit, (kecuali) pasti ada obatnya. Obat dari penyakit ini, ialah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam lanjutan hadits itu sendiri.
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Maka hendaklah kalian berpegang teguh dg Sunnah-ku, & sunnah para khulafaur rasyidin yg mendapat petunjuk. Gigitlah (peganglah) sunnah tersebut dg gerahammu.
Jadi, Sunnah para khulafa’ & Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah satu. Karena itulah Rasulullah n bersabda: فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي , lalu setelah itu Beliau berkata “عَضُّوْا عليها” dg lafazh satu (tersirat dalam sabda beliau ini bahwa sunnah Rasulullah & sunnah khulafa’ Ar Rasyidin adalah satu –red) & tdk berkata “عَضُّوْا عَلَيْهِمَا” (gigitlah keduanya, maksudnya peganglah ia dg sekuat-kuatnya).
Pada hakikatnya, semua ini merupakan agama Allah. Karena, sebagaimana Allah memilih Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusanNya dari kalangan manusia, maka Allah juga memilih utk nabiNya sahabat-sahabat yg pilihan. Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada mereka utk mengajar & membersihkan mereka, sebagaimana yg telah Allah firmankan:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Dia-lah yg mengutus kepada umat yg buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yg membaca ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka & mengajarkan kepada mereka Kitab & Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yg nyata. (Al Jumu’ah: 2).
Orang yg mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, berarti dia telah mencela Allah. Orang yg mencela sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sungguh dia telah mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Agama ini adalah dari Kitab Allah & Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dg pemahaman para salaful umah, dari para sahabat & tabi’in, seperti difirmankan Allah.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya & mengikuti jalan yg bukan jalannya orang-orang mukminin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yg telah dikuasainya itu, & Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (An Nisaa’: 115).
Yang dimaksud jalan orang-orang mukminin, ialah para sahabat & orang-orang yg berjalan di atas jalan mereka dari kalangan para tabi’in & pengikut tabi’in sampai hari kiamat tiba. Keberadaan mereka, akan terus ada sampai hari kiamat datang, seperti yg akan kita jelaskan, insya Allah.
Agama ini adalah agama yg nilai-nilainya dipraktekkan, bukan agama filsafat / teori semata. Agama ini telah tegak pd masa-masa yg lalu, sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, era sahabat & para tabi’in. Apa yg menjadi agama pd masa itu, maka pd sekarang ini, hal tersebut juga merupakan bagian dari agama. Dan jika pd zaman mereka ada satu hal yg bukan dari agama, maka sekarang ini, hal tersebut juga bukan termasuk dari agama yg dicintai & diridhai Allah.
Agama ini adalah Kitab Allah, & Kitab Allah memerintahkan agar kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Rasulullah, memerintahkan kita utk mengikuti sahabat Rasulullah. Ini semua dicintai & diridhai Allah. Begitulah yg difahami Imam Syafi’i & ulama lainnya.
(Suatu waktu), Imam Syafi’i datang ke Masjidil Haram di Mekkah utk menunaikkan ibadah haji. Beliau duduk & berkata kepada orang-orang yg ada: “Tanyalah kepadaku. Tidak ada orang yg bertanya tentang sesuatu kepadaku, kecuali aku akan menjawabnya dg Kitabullah”.
Maka ada orang awam berdiri & bertanya: “Wahai, imam. Ketika aku masuk Masjidil Haram, aku menginjak & membunuh satu serangga. Padahal orang yg dalam keadaan ihram tdk boleh membunuh sesuatu. Akan tetapi, aku telah membunuh seekor serangga. Apa jawabannya dari Kitabullah?”.
Setelah memuji Allah & shalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Imam Syafi’i berkata: Allah berfirman: Apa-apa yg telah diperintahkan Rasul, maka haruslah kalian mengambilnya. (Al Hasyr:8).
Sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي
Maka hendaklah kalian berpegang teguh dg Sunnah-ku & sunnah para khulafaur rasyidin yg mendapat petunjuk. (HR Abu Daud)
Dan di antara Khulafaur Rasyidin adalah Umar bin Khaththab. Kemudian beliau membawakan sebuah riwayat bahwa ada seseorang bertanya kepada Umar bin Khaththab tentang seseorang yg membunuh seekor serangga dalam keadaan ihram. Maka Umar menjawab, ”Tidak ada denda (sangsi) apa pun atas kamu”. Maka Imam Syafi’i berkata: “Jawabanku dari Kitabullah, wahai orang yg berbuat (seperti) itu, sesungguhnya engkau tdk mendapat sangsi apapun. Itulah jawaban dari kitab Allah. ”
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita, bahwa akan terjadi perpecahan pd umat ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan, Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, Nashara akan terbagi menjadi 72 golongan. Dan kaum muslimin, akan terpecah menjadi 73 kelompok. Rasulullah kemudian berkata, semua kelompok itu –semuanya- akan masuk ke dalam neraka, kecuali satu kelompok saja. Ditanyakan kepadanya: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Yaitu orang-orang yg berada di atas jalanku & jalan para sahabatku pd hari ini. ”
Perpercahan itu juga telah dijelaskan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Para sahabat benar-benar menekuni agama ini dg amalan nyata. Karena sesuatu yg bersifat teori, akal & pemahaman bisa berbeda-beda. Namun, jika berbentuk praktek & amalan, maka itu merupakan hal yg terbaik dalam menafsirkan firman Allah & ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Perbedaan seperti ini sudah ada ketika muncul para imam & Daulah Islam. Para fuqaha (ahli fiqih) jatuh ke dalam perbedaan tersebut. Namun perbedaan yg terjadi pd di kalangan mereka memiliki ketentuan-ketentuan & kaidah-kaidah yg sesuai dg syar’i, sehingga tdk ada saling mencela & perpecahan.
Para fuqaha, terutama para imam yg empat, mereka saling mencintai. Kita juga harus mencintai mereka, berlepas diri dari orang-orang yg mencela mereka. Namun kita juga yakin, di antara mereka, tdk ada satu pun yg ma’shum. Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada mereka.
Akan tetapi, setelah itu, pd masa akhir-akhir ini muncul fanatisme & taqlid buta kepada imam-imam tersebut. Sehingga ada sebagian orang yg bermadzhab Syafi’i berkata, bahwa orang yg bermadzhab Syafi’i tdk boleh menikah dg wanita yg bermadzhab Hanafi. Dan orang yg bermadzhab Hanafi tdk boleh menikah dg wanita yg bermadzhab Syafi’i. Sehingga terjadilah fanatisme yg tercela & taqlid buta yg tdk dicintai & diridhai Allah.
Umat ini terpecah dg perpecahan yg sangat dahsyat. Setiap golongan umat ini tdk beribadah kepada Allah, kecuali dg madzhab satu imam. Kemudian pemahaman agama hanya diambil dari catatan-catatan & buku-buku ulama terdahulu tanpa kembali kepada dalil-dalil yg syar’i. Sehingga semakin menambah perbedaan & perpecahan umat ini, karena persatuan tdk akan mungkin terwujud kecuali jika dilandasi dg Kitabullah & Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seiring dg bergulirnya waktu, maka perbedaan yg ada semakin keras & dahsyat.
Ketika kekuatan & kekuasaan Islam hilang, muncul sekelompok orang yg ingin memperbaiki keadaan & mendirikan agama ini. Masing-masing kelompok menempuh metode tersendiri, sehingga terjadi perpecahan & perbedaan yg tajam di antara mereka. Padahal ahlul haq (orang-orang yg berada di atas kebenaran) masih ada. Dan sebelumnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menceritakan tentang orang-orang tersebut dalam haditsnya:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Masih akan terus ada satu kelompok pd umatku, mereka akan tetap berada di atas kebenaran sampai hari kiamat datang. (HR Bukhari & Muslim).
Pada asalnya, kaum muslimin harus menjadi umat yg bersatu di atas tauhid & Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yg telah kami jelaskan. Dan juga, satu sama lain harus saling mencintai karena agama Allah. Ketika terjadi perselisihan antara seorang Muhajirin & seorang Anshar, & Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar orang Anshar berkata “Wahai orang-orang Anshar!” & yg Muhajirin berkata “Wahai orang-orang Muhajirin!”
Sebutan Muhajirin & Anshar adalah dua nama yg syar’i & dicintai Allah. Allah telah menyebutkan dalam KitabNya, artinya: Dan orang-orang yg terdahulu dari kalangan Muhajirin & Anshar serta orang-orang yg mengikuti mereka dg kebaikan, maka Allah telah ridha kepada mereka & mereka juga telah ridha kepada Allah. (At Taubah: 100)
Namun ketika terjadi perbedaan antara keduanya & masing-masing memanggil kelompoknya, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Apakah kalian melakukan adat jahiliyah, padahal aku berada di tengah-tengah kalian?”
Sabda Beliau “kalian telah melakukan adat jahiliyah” ini ditujukan kepada orang yg mengatakan “Wahai orang-orang Anshar” & yg berkata ”Wahai orang-orang Muhajirin”.
Jadi, seharusnya umat ini bersatu & menjadikan Kitabullah & Sunnah Rasulullah n sebagai penentu hukum di antara mereka. Keduanya adalah agama yg diamalkan oleh para sahabat. Mengamalkan agama dg pemahaman & amalan para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Orang-orang yg mengikuti para sahabat akan terus ada, seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Masih akan terus ada satu kelompok pd umatku, mereka akan tetap berada di atas kebenaran sampai hari kiamat datang.
Hadits ini harus kita cermati. Dengan memahaminya, maka orang akan merasa tenang, tdk goncang & bingung. Hadits ini penting.
Berikut penjelasannya:
Pertama: Disebutkan di dalamnya “masih akan terus ada”, yg artinya “tidak akan terputus”. Maka siapa pun yg mengajak kepada kebenaran, lalu dakwahnya sampai kepada seorang tertentu, & sebelumnya tdk ada kelompok / jama’ah kecuali setelah orang tersebut muncul, maka dia tdk termasuk di dalam hadits ini. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: ”Masih akan terus ada pd umatku”. Dan ahlul haq tdk pernah mengajak, kecuali kepada Al Qur’an & Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dg pemahaman para salafush shalih. Kelompok yg disebutkan Rasulullah n ini akan terus ada & memiliki sanad (jalur periwayatan) yg sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua, sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam “akan tetap eksis / menang”. Ini tdk berarti mereka haruslah golongan yg kuat / menang dg kekuatan materi. Akan tetapi, mereka tetap menang dg hujjah, dalil, keterangan, penjelasan & kaidah-kaidah para ulama. Mereka tetap teguh di atas kebenaran. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang keadaan mereka dalam sabdanya:
لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ
Tidak mempengaruhi mereka orang-orang yg tdk memperdulikan mereka.
Dan dalam riwayat Musnad Imam Ahmad:
إِلاَّ لَعْوَاءُ تُصِيْبُهُمْ
(Kecuali jika musibah yg menimpa mereka).
Maka kelompok manapun, di negeri manapun, & kapanpun mereka berada sementara musuh-musuh mereka berhasil mengecilkan nyali & menekan mentalnya, maka mereka ini bukan yg termasuk dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata “tidak mempengaruhi mereka orang-orang yg mencela & mengganggu mereka”.
Kelompok yg disebutkan ini adalah yg berada di atas agama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam & para sahabatnya. Kelompok tersebut akan menjadi kelompok yg mendapat pertolongan & akan menggenggam masa depan yg bagus. Allah telah menceritakan dalam KitabNya, & Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Sunnah-nya yg shahih, bahwa masa depan akan menjadi milik agama ini. Dan agama ini akan menang & merambah seluruh wilayah. Barangsiapa yg menduga bahwa Allah tdk akan menolongnya (Muhammad) di dunia & akhirat, maka hendaknya dia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah dia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yg menyakitkan hatinya. (Al Hajj: 15).
Makna ayat ini (ialah): Wahai, seluruh manusia. Barangsiapa yg menduga Allah tdk akan menolong Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam & agamanya, maka lebih baik dia menggantung dirinya dg tali di atap rumahnya, lalu membunuh dirinya. Karena Allah benar-benar menolong Nabi & agamaNya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm pernah ditanya: “Kota manakah yg lebih dulu dibebaskan, Qostantiniyah (Konstantinopel yaitu di Turki) / Roma (ibukota Italia)?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Qostantiniyah) dahulu, kemudian Roma. ”
Dan (Qostantiniyah) telah dibebaskan semenjak tahun 1543M, dibebaskan lebih dari 800 tahun setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kabar tersebut dalam haditsnya. Dan kita sedang menunggu penaklukkan kota Roma, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan dalam hadits yg diriwayatkan oleh Tsauban:
سَتَكُوْنُ فِيْكُمْ النُّبُوَّةُ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ تَنْقَضِي, ثُمَّ تَكُوْنُ فِيْكُمْ خِلاَفَةٌ رَاشِدَةٌ مَاشَاءَ اللهُ لَهَا أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ تَنْقَضِي, ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْكُمْ مُلْكٌ مِيْرَاثِي مَاشَاءَ اللهُ لَهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَنْقَضِي, ثُمَّ يَكُوْنُ لَكُمْ مُلْكٌ عَضُوْدِي –ملك جبري –مَاشَاءَ اللهُ لَهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَنْقَضِي , ثُمَّ تَكُوْنُ فِيْكُمْ خِلاَفَةٌ عَلَى نَـهْجِ النُّبُوَّةِ
Akan datang pd kalian masa kenabian sesuai dg kehendak Allah, setelah itu habis masanya. Lalu akan datang zaman Khilafah Rasyidah sesuai dg kehendak Allah, lalu setelah itu habis masanya. Lalu datang masa kerajaan yg turun menurun sesuai dg kehendak Allah, lalu setelah itu habis masanya. Lalu datang masa kerajaan dg cara paksaan (peperangan) dg kehendak Allah berdiri, lalu setelah itu habis masanya. Kemudian datang masa Khilafah yg berada di atas jalan kenabian.
Di samping Allah mempersiapkan segala sesuatunya utk pendirian khilafah yg berada di atas jalan kenabian tersebut, Allah juga mempersiapkan sebab-sebabnya. Di antara sebabnya, adalah Allah memberikan kemudahan kepada para ulama utk menjelaskan hadits-hadits shahih & jalan para salafush shalih dari umat ini.
Para imam-imam (ulama) tersebut yg diawali oleh Bukhari, lalu Muslim, Nasaa-i, Abu Dawud & Ibnu Majah. Mereka semua bukanlah dari golongan bangsa Arab. Bukhari dari negeri Bukhara, Muslim dari Naisabur, Nasaa-i dari Nasaa’, Abu Dawud dari Sijistan, Ibnu Majah dari Qozwin. Mereka semua adalah orang ajam (bukan Arab). Mereka adalah para ulama hadits, muncul setelah masa para imam empat, (yaitu): Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, & Ahmad. Pada zaman para fuqaha, Sunnah belum dibukukan dalam satu buku, namun setelah zaman mereka.
Kemudian Allah menurunkan keutamaanNya utk kita di negeri Syam dg munculnya Syaikh Imam dalam ilmu hadits (yaitu) Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati Al Albani. Beliau datang dari negeri Albania, dibawa hijrah oleh ayahnya ke Damaskus guna menjaga agamanya. Kemudian diusir dari Damasqus, lalu menuju ke Yordania. Beliau tinggal (disana) lebih dari 50 tahun. Setiap hari selama lebih dari 18 jam, beliau melakukan penelitian terhadap hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , baik dari buku-buku cetakan / dari manuskrip-manuskrip kuno. Selama itu, beliau mengarang & menjelaskan hadits-hadits Nabi .
Setelah itu, dg keutamaan Allah, muncul ulama-ulama sunnah di negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengajak utk kembali kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam & sunnah para sahabatnya. Inilah tanda-tanda khilafah yg telah diceritakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam & yg akan kembali kepada umat ini, Insya Allah. Khilafah tersebut berada di atas jalan kenabian, jalan para sahabat & tabi’in yg datang setelah Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Oleh sebab itu, wahai saudara-saudaraku! Jika ingin menolong & menyebarkan agama kita, maka kita harus mempelajari Al Qur’an. Karena dg menghafal & menjaganya, hati akan menjadi mulia. Dengan memahami & mentadabburinya (menghayatinya), akal pikiran menjadi mulia. Kita juga harus menghafal & menjaga hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , atsar para sahabat & tabi’in. Mengetahui perkataan-perkataan mereka dalam menghukumi masalah-masalah. Kita juga harus selalu mempelajari agama Allah dg dalil-dalilnya yg syar’i & shahih. Kita jangan bersikap fanatik kepada seseorang, madzhab, kelompok & jama’ah. Kita harus bersikap lembut, memberi nasihat, menunjukkan rasa cinta kepada saudara-saudara kita yg terjerumus ke dalam jurang fanatisme terhadap satu kelompok. Jika kamu menolak nasihat kami, maka jangan kamu berikan semua akalmu kepada yg engkau ikuti, teapi sisakan sedikit, agar kamu bisa bertadabbur & berpikir. Jika kamu merasa berat utk melihat kebenaran kecuali dari tempat yg sempit & kamu merasa tertahan di tempat tersebut, maka hendaklah kamu menjaga kunci tempat tersebut di tanganmu / di sakumu; jangan engkau buang jauh & jangan berikan kepada orang lain. Karena, jika pd suatu saat kamu mengetahui mana yg benar, maka kamu bisa keluar dari tempat tersebut dalam keadaan tenang & bebas. Dan kamu bisa melihat kebenaran dari tempat yg luas dg dalilnya yg shahih & syar’i. Akhirnya, engkau akan berjalan di atas jalan para ulama.
Dan ketahuilah dg seyakin-yakinnya, wahai saudara-saudaraku! Sesungguhnya akhir umat ini tdk akan menjadi baik, kecuali jika mencontoh umat yg pertama. Tidak ada jalan utk memperbaiki umat ini, kecuali dg jalan para ulama, duduk di majlis para ulama, mempelajari agama dg pemahaman mereka & mengamalkannya, kemudian menyebarkannya. Maka dg itu, kaum mukminin akan bergembira dg pertolongan dari Allah. Saya mengharap kepada Allah, agar kita dijadikan dari salah satu sebab ditolongnya agama ini, & sebab penyebarluasan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita & menjadikan kita berguna bagi orang lain, juga menjadikan apa yg telah kita katakan & kita dengar ini menjadi hujjah (pembela) utk kita, bukan penggugat diri kita. Semoga Allah menjadikan itu semua sebagai timbangan kebaikan kita, & menjadikan timbangan kita berat karenanya, Insya Allah.
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296)
oleh: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman & diterbitkan di almanhaj. or. id

Perbedaan Pandangan Fiqh dalam Penunjukkan dari Sebuah Dalil

الخلاف الفقهي في تحقيق المناط
Rambu-Rambu Penetapan Hukum dalam Fiqh Islam:2
Perbedaan Pandangan Fiqh dalam Penunjukkan dari Sebuah Dalil
2
Dalam berbagai kesempatan jaulah-dakwah sering ada ikhwah yg menyampaikan pendapatnya pd ana sebagai berikut: “Berkoalisi dg kelompok sekular itu haram!” Ana tanya: “Mengapa?” Jawab ikhwah tersebut: “Ya jelaslah, berdasarkan ayat & hadits yg melarang ber-muwalah dg musuh-musuh ALLAAH SWT. ” Dalam kesempatan lainnya ada ikhwah lain yg berkata: “Mengapa kita harus bergandengan dg ahlul-ma’ashiy (ahli maksiat) utk memimpin ummat, bukankah itu berarti mengorbankan prinsip dakwah demi kepentingan kekuasaan?!”
Demikianlah semangat yg berkobar-kobar di dada para ikhwah, yg sungguh ana bersyukur bisa mengkaruniakan masa-masa dalam hidup ana, utk selalu berkumpul bersama orang-orang yg punya ghirah terhadap Islam yg demikian tinggi, & semoga ALLAAH SWT bisa mengumpulkan ana & mereka kelak di Jannah-NYA, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: . Orang-orang yg saling mencintai karena ALLAAH, saling bertemu karena ALLAAH & berpisahpun karena ALLAAH(1). Aamiin ya RABB
Namun ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’azzakumuLLAAH, ketahuilah bahwa masalah yg kita diskusikan di atas tidaklah sesederhana seperti yg diperkirakan oleh sebagian ikhwah di atas, oleh karenanya izinkan dalam kajian kali ini ana memaparkan sedikit tentang mana-mana masalah yg pokok yg tdk berubah dalam Islam (ats-tsawabit) & mana yg bisa berubah, & setelah itu akan sedikit ana paparkan juga bagaimana perbedaan pendapat para fuqaha atas penunjukan dari sebuah dalil (khilafiyyah dalam tahqiqul-manath) yg tdk boleh sembarangan, karena ia tdk boleh asal melihat dalil lalu dimaknai dalam suatu kasus secara serampangan, karena jikalah masalahnya sesederhana itu maka tdk perlu lagi adanya fuqaha & tak perlu lagi diajarkan disiplin ilmu fiqh syari’ah.
Tsawabit Wal Mutaghayyirat 2
Tsawabit adalah hal-hal yg bersifat tetap & tdk menerima pengembangan ijtihad maupun tambahan & perubahan apapun. Menurut Syaikh DR Abdurrahman Abdul Khaliq rahimahuLLAH: Yang termasuk kelompok ini adalah bidang aqa’id (masalah-masalah keimanan), ibadah (rukun Islam yg lima) & akhlaq (kumpulan pekerti yg utama seperti kejujuran, ihsan, keikhlasan, keberanian, dsb). Semua perkara ini adalah tsawabit dalam ad-Din, manusia sama sekali tdk boleh memasukkan tambahan / pengurangan apapun ke dalamnya.
Sifat-sifat ALLAH SWT, malaikat, surga & neraka, hari akhir, azab kubur & masalah-masalah gaib yg lain, mutlak menerima tambahan baru / pengurangan apapun, karena ilmu baru dalam masalah ini hanya bisa didapat melalui wahyu, padahal tdk ada lagi wahyu sepeninggal RasuluLLAH SAW. Inilah perbedaan mendasar antara kita dg sebagian kelompok tasawwuf, karena ada di antara mereka yg bertumpu kepada takhayyul, khurafat & mukasyafah utk mengetahui hal-hal aqidah di atas, sehingga ada di antara mereka yg berkata: Kami telah bertemu dg ALLAH SWT, / kami telah bertemu dg malaikat anu & anu… Padahal pintu kegaiban seperti ini tdk akan didapatkan kecuali melalui wahyu, sedangkan setelah nabi SAW wafat maka tdk ada lagi wahyu.
Ibadah-ibadah pun tdk boleh diadakan penambahan / pengurangan, menambah 1 raka’at saja dari shalat fardhu yg telah ditetapkan akan membatalkan shalat tersebut, demikian pula mengadakan shalat sunnah yg belum pernah dilakukan oleh nabi SAW, / menambah berbagai kaifiyyat ibadah manapun seperti zakat, puasa & hajji adalah tdk boleh, semuanya harus dilakukan seperti yg telah dicontohkan oleh nabi SAW tanpa ditambah ataupun dikurangi.
Demikian pula dalam masalah akhlaq & tazkiyyah-nafs, tdk boleh ditambah / dikurangi, karena akan menjadi berlebihan / berkurangan dari yg telah dicontohkan oleh nabi SAW. Kesemua hal ini adalah tsawabit dalam Islam, apapun tambahan & pengurangan di dalamnya adalah merupakan bid’ah yg diharamkan & pelakunya adalah sesat & tempatnya adalah di neraka(2). SELESAI KUTIPAN.
Adapun yg mutaghayyirat menurut beliau adalah sebagai berikut: Nash-nash al-Qur’an yg turun dalam masalah mu’amalah, maka ia bagaikan kaidah-kaidah, pokok-pokok yg umum & bingkai yg memberikan penerangan bagi kaum muslimin & memberikan legalitas utk mereka mengatur diri mereka sendiri sesuai petunjuk ketika muncul perubahan yg baru baik yg berkaitan dg diri mereka sendiri maupun dg musuh-musuh mereka. Karena itulah masalah mu’amalah merupakan mutaghayyirat terbesar dalam diin ini.
Singkatnya bidang mu’amalah adalah pintu-pintu terbesar dari pintu-pintu ijtihad. Karena luasnya cakupannya, besarnya variasi serta cepatnya perubahannya, maka dapatlah dikatakan bahwa bidang ini seperti urusan politik, ekonomi & sosial, maka ini merupakan suatu problema. Sebab yg tsawabit dalam Islam (aqidah, ibadah & akhlaq) tdk menimbulkan problema karena memang nashnya jelas, bisa difahami serta sedikit sekali perbedaan pendapat di dalamnya. Sedangkan urusan politik, sosial & ekonomi, sekalipun pokok-pokoknya tetap namun perubahannya besar sekali. Situasi politik dunia tiap hari berubah & membutuhkan ijtihad baru. Kita tdk hidup sendirian di bumi ini, tapi turut hidup pula bersama kita ummat & bangsa-bangsa lain. Mereka memiliki sistem mu’amalah tersendiri & memberikan pula tekanan politik pd kita(3).
Khilafiyyah dalam Tahqiqul-Manath2
Adapun persoalan khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan fuqaha dalam penetapan tahqiqul-manath (menerapkan suatu hukum/nash yg bersifat umum kepada kasus-kasus yg bersifat khusus) maka hal ini termasuk perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang syariat), dimana pihak yg berbeda dalam penetapannya tdk boleh dicela / diragukan dien-nya & keadilannya.
Mengapa? Karena cakupan persoalan ini ke dalam ilmu waqi’i (ilmu realitas) lebih banyak dari cakupannya ke ilmu syar’i (ilmu agama). Maka barangsiapa melihat kebenaran dari salah satu di antara 2 pendapat, maka ia wajib mengikutinya, & barangsiapa menguatkan pendapat yg lain dg ijtihad (kalau ia seorang mujtahid baik juz’i maupun muthlaq) / dg taqlid kepada seorang yg ia percayai din-nya & ilmunya (jika ia dari golongan awam), maka tdk ada celaan atasnya.
Berkata seorang ulama salaf pembela sunnah, Imam Asy Syatibi –rahimahuLLAAH-: “Adapun ijtihad yg berkenaan dg tahqiqul-manath maka mengenai penerimaannya sudah tdk ada khilaf lagi di antara ummat. Contohnya tafsir dari ayat: Dan persaksikanlah dg 2 orang saksi yg adil di antaramu(4), makna adil adalah jelas, tapi bagaimana menentukan kualitas keadilan tersebut? Maka manusia tdk memiliki standar yg sama, bahkan akan jauh berbeda. Ujung teratas adalah jelas, yaitu sebagaimana keadilan pd diri sahabat Abubakar ra, yg tdk ada kesamaran dalam keadilannya. Demikian pula ujung terbawah yg merupakan awal yg berbatasan dg sifat zhalim, seperti orang yg pernah mendapatkan hukuman had dalam Islam. Adapun antara 2 ujung tersebut ada banyak tingkatan adil yg tak terhingga jumlahnya, yg pertengahan sangat samar, maka disinilah perlu pengerahan akal fikiran secara maksimal utk menentukannya, inilah lapangan ijtihad(5).
Lebih lanjut beliau menjelaskan: “Cukuplah anda mengetahui bahwa syariat tdk menetapkan hukum atas setiap perkara yg bersifat juz’i, namun syariat datang membawa perkara-perkara yg bersifat kulli & keterangan yg bersifat mutlak. Maka seorang mujtahid haruslah seorang yg sangat faham tentang sisi masalah fiqh yg ia amati, agar hukum syar’i turun selaras dg tuntutannya. Sebagaimana juga seorang muhaddits yg harus mengetahui keadaan sanad & jalur-jalur periwayatannya, mengetahui shahihnya dari dha’ifnya, mana yg bisa dijadikan hujjah & mana yg tdk bisa(6).
Contoh pembahasan fiqh dalam masalah ini adalah sebagai berikut: Menolak Hukum Syar’i adalah Kufur Besar, & perkara ini merupakan hal yg qath’i (pasti) dalam syariah. Akan tetapi tahqiqul-manath nya (penerapannya pd suatu kasus tertentu), akan berbeda-beda tergantung pd situasi, kondisi, sebab, dsb. Seorang tdk bisa langsung dihukumi kafir hanya karena menggunakan suatu sistem dari Barat misalnya, tapi hendaknya dibandingkan antara manfaat & mafsadat dari sistem tersebut & dilakukan pengujian serta penelitian secara teliti, sampai jelas perbandingan mafsadat & manfaatnya, karena pengharaman dilakukan bukan lidzatihi (karena menggunakan salah satu sistem impor tersebut) melainkan li dhararihi (karena dampaknya). Dan dampak ini merupakan hal yg perlu kajian & penelitian yg seksama, & setiap orang dapat memperkuat argumen nya masing-masing tanpa memvonis kepada yg berbeda, karena ia merupakan masalah ijtihadiyyah.
Contoh lainnya adalah al-muwalah bil kuffar (memberikan loyalitas kepada orang kafir) adalah haram berdasarkan nushush yg qath’iy & masalah ini la syakka fiihi (tidak ada keraguan di dalamnya) bagi orang yg beriman kepada ALLAAH & hari Akhir, namun jika ada kasus sebuah kelompok dakwah melakukan koalisi politik dg kelompok sekularis tdk dapat serta-merta di vonis sebagai muwalah bil kuffar, sebelum dilihat illat (sebab-sebab)-nya apakah karena memang ada muwalah disana / karena strategi dalam peperangan, / juga karena fiqh muwazanah bayna al-maslahah wa al-mafsadah. Sekali lagi masalah-masalah seperti ini amat banyaknya & ia lebih dekat kepada Fiqh Waqi’ dibandingkan dg Nushush Syari’ah itu sendiri. Kasus seperti ini amat banyaknya dalam waqi’iyyah keseharian kita dalam beramal jama’i, sebagaimana telah dicontohkan pd pernyataan-pernyataan ikhwah di atas. Wallahu a’lamu bish shawaab…
___
Catatan Kaki:2
(1) HR Bukhari, III/116 & Muslim, VI/381
(2) As Salafiyyun wal ‘Aimmah al Arba’ah, DR Abdurrahman Abdul Khaliq, hal. 24-25.
(3) Ibid, hal 26-28.
(4) QS at-Thalaq-2
(5) Al-Muwafaqaat, Imam Syathibi, IV/89
(6) Ibid, IV/165
Sumber: al-ikhwan. net