Laman

Minggu, 21 Agustus 2011

Makna Qonaah

Allah SWT berfirman,”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia beriman, niscaya kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik”.(QS.An-Nahl 98)
Kebanyakan ahli tafsir mengatakan, “kehidupan yang baik di dunia adalah qana’ah”.
Dari Jabir bin Abdullah. Dia mengatakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Qana’ah adalah harta simpanan yang tidak akan pernah habis”.
Abu Hurairah RA. Menyampaikan sabda RasuluLlah SAW yang Menyatakan : Jadilah orang yang wara’ maka engkau akan menjadi orang paling ahli ibadah. Jadilah orang qana’ah maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli bersyukur. Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi orang mukmin yang paling baik. Berbuatlah baik kepada tetanggamu, maka engkau akan menjadi orang Islam yang baik. Sedikitkan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.
Menurut suatu pendapat, orang-orang fakir diibaratkan orang-orang yang telah meninggal dunia, kecuali orang-orang yang telah dihidupkan oleh Allah SAWdengan kemuliaan qana’ah.
Menurut Bisyir Al-Hafi, qana’ah ibarat raja yang tidak mau bertempat tinggal kecuali di hati orang mukmin. Menurut Abu Sulaiman Ad-Daraani qana’ah karena ridha kedudukannya sama dengan wara’ karena zuhud. Qana’ah adalah permulaan ridha sedangkan permulaan wara’ adalah zuhud. Menurut pendapat yang lain, qana’ah adalah sikap tenang karena tidak ada sesuatu yang dibiasakan.
Abu Bakar Al-Maraghi mengatakan, “Orang yang berakal sehat adalah orang yang mengatur dunia dengan sikap qana’ah. Dan memperlambat diri, mengatur urusan akhirat dengan siakp loba dan mempercepat, mengatur urusan agama dengan ilmu dan ijtihad”. Menurut AbdiLlah ibn Khafif qana’ah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu  yang tidak ada dan menganggap cukup dengan sesuatu yang ada.
Yang dimaksud firman Allah SWT yang menyatakan bahwa “Dia akan memberikan rizki kepada meraka dengan rizki yang baik” (QS.AL-Haj 58). Yang dimaksud ayat ini adalah qana’ah. Menurut Muhammad bin Ali At-Tirmidzi, yang dimaksud qana’ah adalah jiwa yang rela tehadap pembagian irzki yang telah ditentukan. Menurut satu pendapat, qana’ah adalah menganggap cukup dengan sesuatu yang ada dan itdak berkeinginan terhadap sesuatu yang tidak ada hasilnya. Wahab mengatakan, “kekayaan dan kemuliaan akan berkeliling mencari teman. Apabila mereka telah menemukan qana’ah, maka mereka akan menetap”. Menurut pendapat yang lain, baang siapa yang qana’ahnya gemuk, maka ia akan mencari makanan yang ada lemaknya. Barang siapa yang mengembalikan diri sendiri kepada Allah (qana’ah) maka dalam segala halnia akan diberi rizki”.
Dalam suatu cerita dijelaskan bahwa Abu Hazib berjalan bertamu di rumah qashab (seorang penjagal dengan membawa daging yang gemuk. Qashhab mengatakan, “ambilah wahai Abu Hazm karena dagng ini gemuk”.
“Saya tidak membawa uang”. Jawab Abu Hazib
“Diriku lebih tahu daripada kamu”. Kata qashab.
Sebagian ualama pernah ditanya, “Siapa orang yang paling qana’ah” ? kemudian dijawab, “orang yang selalu memberikan pertolongan, meskipun kekayaannya  sedikit”. Di dalam kitab zabur diungkapkan bahwa orang yang qana’ah adalah orang yang kaya meskipun serba kelaparan.  Menurut saut pendapat, Allah SWT meletakkan lima hal ke dalam lima tempat. Pertama, kemuliaan dalam taat. Kedua, kehinaan dalam maksiyat. Ke tiga, kehebatan dalam melaksanakan shalat malam. Keempat, kebijaksanaan dalam hati yang kosong. Kelima, kekayaan dalam qana’ah.
Ibrahim Al-Maratsani mengatakan, “Balaslah lobamu dengan qana’ah sebagaimana engkau membalas musuhmu dengan qishash”. Dzunun Al-Mishri mengatakan, “”Barang siapa menerima ketenangan dari ahsil pekerjaan maka ia telah memberikan kenikmatan kepada semua orang”. Muhammad AL-Kattani njuga mengatakan, “Barang siapa yang menjual loba dengan  qana’ah maka ia akan memperoleh kemuliaan dan harga diri”. Sebagian ulama mengatakan, “Barang siapa yang kedua matanya memandang kekayaan orang lain, maka ia akan selalu berduka cita”. Oleh karena itu para ulama berkata :
Sebaik-baiknya pemuda
Adalah orang yang telah memperole apa-apa
Dari hari ke hari. Dia adalah orang yang kaya
Karena memperoleh kemuliaan dan kelaparan

Yang dimaksud firman Allah Ta’ala Sesungguhnya orang-orang yang baik berada di syurga Na’im (QS. Al-Infithar 13), artinya adalah qana’ah di dunia.
Sedangkan yang dimaksud dengan ayat Sesungguhnya orang –orang yang jahat berada di neraka jahanam (QS. Al-Infithar 14), artinya adalah loba di dunia.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud dengan firman Allah Tahukan kamu apakah kesulitan itu, ialah memerdekakan budak (QS. Al-Balad 12-13) Artinya memerdekakan budak dari rendahnya loba.
Menurut sebagian yang lain, yang dimaksud firman Allah Ta’ala Allah hanya menghendaki agar menghilangkan kotoran (dosa) dari kamu sekalian wahai ahlul bayt (QS. AL-Ahzab 33) Artinya adalah kikir dan loba.
Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud firman Allah Berilah diriku ini kerajaan yang tak pantas bagi orang setelahku. (QS. Shad 35), yaitu kedudukan qana’ah sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan dan selalu rela terhadap keputusan-Mu.
Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, yang dimaksud firman Allah Ta’ala Saya (Sulaiman) pasti akan menyikasanya dengan siksaan yag pedih (QS. An-Naml 21), maksudnya adalah –saya pasti akan menmghilangkan qana’ah darinya dan mengujinya dengan loba. Artinya saya akan memohon kepada Allah SAW agar mengabulkan permohonan saya itu.
Abu Yazid Al-Bustami pernah ditanya, “Sebab apa engkau meperoleh kemuliaan setinggi ini ?”
Beliau menjawab, “Saya mengumpulkan seb-sebab kehidupan dunia, kemudian saya lepaskan dengan tali qana’ah. Saya letakkan dalam meriam kebenaran, dan saya lemparkan ke dalam sungai keputus asaan, sehingga hati saya menjadi tenang”.
Muhammad bin Farhan berada di Samura. Dia mengatakan bahwa ia telah mendengar Khali Abdul Wahab mengatakan, “Saya duduk di samping Junaid pada suatu musim. Di sekelilingnya terdapat rombongan orang ‘ajam dan orang-orang tua. Di antara mereka ada seseorang membewa lima ratus dinar dan meletakkannya di hadapan Al-Junaid.
‘bagi-baikanlah dinar-dinar itu kepada orang-orang yang fakir’. Kata pemilik uang terseburt.
‘Apakah engkau memiliki yang lain ?’ tanya Al-Junaid.
‘Ya saya masih memiliki beberapa dinar yang lain’.
‘Apakah engkau hendak memiliki selain barang itu ?’
‘Ya’
‘Kalau begitu ambilah kembali dinar itu karena engkau tentu lebih butuh daripada kami’. Tetapi dia (orang yang hendak bersedekah) tidak mau menerimanya’”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar