Laman

Minggu, 21 Agustus 2011

Dzikir


A. Pengertian Dzikir
Dalam kamus Al Munjid fi lughoh kata dzikir berasal dari kata
dzakara, yadzkuru, dzikran
menjaga, mengerti, mengingat
arti mengagungkan, menyucikan, menyebut,1
Setiap aktifitas mengingat secara bahasa (umum) dapat dikatakan
sebagai dzikir. Namun dalam pengertian disini, perkataan dzikir yang
dimaksud adalah proses atau aktifitas kejiwaan berupa mengingat hal yang
hanya disandarkan kepada Allah dan bukan kepada yang lain serta sifatnya
yang abstrak. Dalam al-Quran kata dzikir merupakan istilah yang banyak
digunakan baik dalam bentuk lampau (
(
madhi), sekarang (mudhori’), perintahamar) dan sebagainya misalnya:
قد افلح من تزكى وذ كراسم ربه فصلى بل تؤثرون الحيوةالدنيا والاخرة
خير وابقى
“ Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan
beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi
kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedangkan
kehidupan akherat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S. al-A’la,
87:14)
2
يايهاالذ ين امنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama)
Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Q.S Al ahzab,33:41)
3
Dari dua ayat diatas nampak bahwa kata dzikir oleh al-Qur’an sering
dan banyak disandarkan kepada Allah, meskipun tidak menutup kemungkinan
1
236.
Louis Ma’luf, al-Munjid Fi al-Lughoh al Matba’ah al Kasulikiyah, Bai’rut, t.th, hlm.
2
hlm. 1052.
Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, CV. Alwaah, Semarang 1993,
3
Ibid., hlm. 674.
12
disandarkan kepada yang lain, misalnya nikmat Allah, kitab-kitab para nabi
dan sebagainya. Disebutkan juga bahwa dzikir merupakan amaliah penting
dalam Islam. Kedua ayat diatas yang diajukan penulis, hanyalah sebagian saja
dari penyebutan al-Quran tentang dzikir.
Sedangkan pengertian dzikir secara terminologis sebagaimana yang
dikemukakan oleh para ahli, sebagai berikut:
1. H. Aboe Bakar Atjeh, dzikir adalah ucapan yang dilakukan dengan lidah
atau mengingat akan Tuhan dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang
mempersucikan Tuhan dan membersihkannya. Dari sifat-sifat yang tidak
layak untuk-Nya, selanjutnya memujinya dengan puji-pujian dan
sanjungan-sanjungan dengan sifat yang sempurna, sifat-sifat yang
menunjukan kebesaran dan kemurnian.
4
2. Hamzah Ya ‘qub, dzikir adalah mengingat Allah dalam hati dan menyebut
nama-Nya dengan lisan berdasarkan perintah Allah dalam al-Qur’an dan
contoh-contoh dari nabi.
5
3. Sayyid Sabiq, dzikir adalah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa
tasbih atau mensucikan Allah, memuji dan menyanjung-Nya, menyebut
sifat-sifat kebesaran dan kesempurnaan yang dimiliki-Nya.
6
4. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, dzikir adalah menyebut Allah dengan mmbaca
tasbih (
(
wala quwwata illa billah
(
do’a-do’a yang ma’tsur, yaitu do’a-do’a yang diterima nabi SAW.
Subhanallah), membaca tahlil (la ilaha illallah), membaca tahmidalhamdulillah), membaca taqdis (Qudusun), membaca haukalah (la haula), membaca hasbalah (hasbiyallahu), membacabismillahirrahmanirrahim). Membaca Qur’anul majid dan membaca7
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat diambil;
kesimpulan bahwa dzikir merupakan aktifitas mengingat Allah dengan cara
4
hlm. 276.
H. Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadhani, Solo, 1996,
5
H. Hamzah Ya’qub, Tasawuf dan Tariqah, Pustaka Madya, Bandung, 1987, hlm. 311.
6
1981, hlm. 213.
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid IV, terj. Mahyyudin Syaf, PT. Al-Ma’arif, Bandung,
7
hlm. 36.
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Do’a, Bulan Bintang, Jakarta 1958
13
mengucapkan bacaan–bacaan tertentu atau mengingat-Nya dengan hati dengan
tujuan untuk mengagungkan Allah, mensucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak
layak serta memuji dengan sifat-sifat yang sempurna kepada-Nya.
Di dalam tasawuf dzikir dilakukan sebagai cara untuk membersihkan
jiwanya dari sifat sifat tercela. Sifat-sifat tercela inilah yang mengotori jiwa
manusia setiap waktu dan kesempatan yang diperbuat oleh diri sendiri tanpa
disadari. Kelalaian untuk membersihkan kotoran-kotoran hati itu
mengakibatkan semakin lama semakin tebal kotoran itu membungkus hati,
sehingga cahaya hati tertutup dengan kotoran-kotoran itu yang merupakan
hijab yang membatasi diri dengan Tuhan.
8
Upaya untuk menerima nurullah (sinar suci dari Allah) yang
diharapkan masuk kedalam hati tidak mudah, apabila dalam jiwa dan batinnya
masih tersisa kotoran dunia dan sifat-sifat madzmumah, maka nurullah itu
sulit memantul masuk kedalam batinnya. Kotoran batin yang menghijab
antara dirinya dengan Allah, perlu dimusnahkan terlebih dahulu sampai ke
akar-akarnya, agar nurullah dapat menyinari jiwa dan bercahaya didalamnya.
9
Adapun sifat-sifat tercela yang mengotori jiwa manusia itu meliputi:
hasad
(iri hati), haqad (dengki/benci), su’udzon (buruk sangka), kibir
(sombong),
kelebihan),
mal
‘ujub (merasa sempurna diri dari orang lain). Riya (memamerkansuma’ (mencari-cari nama atau kemasyuran), bukhl (kikir), hub al(materialistis), takabur (membanggakan diri), ghadab (pemarah), ghibah
(pengumpat),
namimah (bicara di belakang orang), kidzib (dusta), khianat
(ingkar janji).
10
Sifat-sifat tercela semacam itulah yang sebenarnya mendominasi
pemikiran dan tingkah laku seseorang, yang muaranya melakukan berbagai
penyimpangan. Secara konseptual, para ahli tasawuf telah merinci tujuh
8
Mustafa Zahri, Kunci memahami Ilmu Tasawuf, Bina Ilmu, Surabaya, 1998 hlm. 75.
9
Pustaka, 2002, hlm. 27.
Djamaluddin Ahmad Al-Buny, Menelusuri taman-taman Mahabbah Shufiyah, Mitra
10
Mustafa Zahri, Op.cit, hlm. 74.
14
macam sebab pembuat dosa batin atau jiwa yang dinamakan tujug
lathaif,11
yaitu :
Pertama,
letaknya dua jari di bawah susu kiri. Di sini terletak sifat-sifat
kemusyrikan, kekafiran, ketahayulan dan sifat-sifat iblis. Kedua,
al-ruh
Di sinilah letaknya sifat bathiniyah (binatang jinak) yakni sifat-sifat
menuruti hawa nafsu. Ketiga,
susu kiri. Di sinilah terletak sifat
zhalim atau aniaya, pemarah pendendam. Keempat,
terletak dua jari di atas susu kanan, di pengaruhi oleh limpa jasmani”.
Disinilah letaknya sifat-sifat pendengki, khianat, yaitu sifat syaithoniyah
yang membawa celaka dunia dan akhirat. Kelima,
letaknya di tengah dada, yang berhubungan dengan empedu jasmani. Di
sinilah letaknya sifat robaniyah, seperti ria, takabur, ujub, suma’/pamer,
Keenam
tempatnya nafsu amarah, nafsu yang selalu mendorong kepada
kejahatan. Ketujuh
seluruh tubuh jasmani. Disinilah terletak sifat-sifat jahil dan
lathifah al-qalbiy, yang berhubungan dengan jantung jasmani,lathifah, terletak dua jari di bawah susu kanan berhubungan dengan hati.lathifah al-sirri, terletak dua jari di atassab’iyyah (binatang buas) yaitu sifatlathifah al-khafi,lathifah al akhfa,lathifah al-nafs al-natiqa, terletak antara dua kening. Disinilah, lathifah kalbu jasad, yaitu latifah yang mendominasi
ghaflah
Agar seseorang dapat mencapai maqam ma’rifat Allah, segala macam
kekotoran jiwa yang berada pada tujuh lathaif tadi harus di bersihkan terlebih
dahulu dengan dzikir. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut seorang sufi
harus melalui jalan panjang, berat dan sulit, ia harus melintasi tahapantahapan/
/lalai.
station-
tahapan (maqam) ke satu tahapan berikutnya sebelum mencapai tujuan
(hakikat).
station yang disebut maqamat, dan berpindah dari satu12
Adapun station-station yang harus dilalui, para sufi berbeda satu sama
lain. Menurut Al-Ghazali misalnya maqamat terdiri atas: at-taubat, as-sabr, alfakr,
az-zuhud, at-tawakal, al-mahabbah, al-ma’rifah, ar-ridho. Sedangkan
menurut Al-Qusyairi terdiri atas, at-taubah, al-wara, az-zuhud, at- tawakal, assabr,
ar-ridho.
13 Pada setiap maqam itulah sufi berjuang melakukan riyadlah
untuk selanjutnya berusaha meningkat pada maqam berikut .
11
Ibid.,hlm. 79.
12
hlm. 63.
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1973
13
Ibid., hlm. 62.
15
Kaum sufi yang telah melampaui tahap-tahap ini sudah sempurna
dalam menempuh perjalanan spiritual. Bila tahap-tahap ini sudah ditempuh
secara keseluruhan, maka tercapailah tingkat
psikis tertentu, dimana seorang sufi tidak merasa adanya diri atau keakuannya.
Pada tingkat ini. Sufi telah benar-benar
merasakan lagi seluruh lahiriah dan bathiniah panca inderanya, serta tidak
merasakan segala sesuatu di sekelilingnya. Ia pergi menunju Tuhannya dan
kemudian berada di dalam-Nya (
maka sufi akan memungkinkan memperoleh pengetahuan intuitif langsung,
bagaikan sinar kilat yang muncul dan pergi secara tiba-tiba. Selanjutnya, oleh
karena tasawuf diniatkan sebagai petunjuk dan pengendali hawa nafsu, secara
psikis akan muncul pengalaman rohani yang dirasakan sebagai ketentraman
dan kebahagiaan rohani. Apa yang dialami itu diungkapkan dengan
penggunaan simbol-simbol dalam ungkapan-ungkapan khas. Dalam hal ini
setiap sufi mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan kondisi yang
dialami, karena hal itu merupakan pengalaman subyektif.
fana’ (sirna), yakni kondisifana dari dirinya, ia tidakbaqa).14 Jika kondisi fana itu bisa terwujud15
B. Tata cara Melaksanakan Dzikir.
Agar supaya dzikirnya lebih sempurna, seseorang yang hendak
melaksanakan amalan dzikir menggunakan tata cara dan adab baik yang
bersifat lahiriah maupun yang bersifat bathiniah. Ada sepuluh adab yang
disepakati oleh para ulama ketika seseorang melakukan dzikir.
adalah :
1. Pedzikir senantiasa dalam keadaan suci, yaitu dengan wudhu.
2. Memakai pakaian yang bersih.
3. Memakai wewangian.
4. Duduk dalam keadaan khusyuk menghadap kiblat.
16 Diantaranya
14
abad 17
Oman Fathur Rahman, Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrouf Singkel di Aceh, Mizan , Bandung, 1999 hlm. 75.
15
Ahmad Rafi Utsmani,
Abu Al Wafa Al Ghanimi Al Taftazani, Madkhal Ila al-Tasawwuf al-Islamy, Terj.Sufi dari Zaman Kezaman, Penerbit Pustaka, Bandung 1985 hlm. 6.
16
Spiritrual Kaum Sufi
Ian Richard Netton Sufi Ritual, The parallel: Universe, Terj. Machnun Huzain, Dunia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001 hlm. 61.
16
5. Mata sedikit di pejamkan, sebab memejamkan mata melambangkan
ketertutupan terhadap dunia dan keterbukaan terhadap alam kerohanian.
6. Ada mursyid atau guru yang mengawasi selama berdzikir.
7. Duduk bersila, dengan telapak tangan kanan diatas lutut sebelah kiri dan
tangan kiri di letakkan di dada kanan. Posisi semacam ini membentuk
huruf “
dari segala sesuatu, termasuk kediriannya. Dengan begitu, tubuh
diharapkan berada dalam keadaan selaras dengan hati.
8. Mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah.
9. Selama melakukan dzikir, seseorang harus diam dan tidak bercakap-cakap,
kecuali mengatakan sesuatu yang benar-benar diperlukan.
10. Menerima kondisi apa pun yang di turunkan kepadanya selama amalan
dzikir dilakukan.
Sedangkan adab sesudah berdzikir itu ada lima,
1. Menahan nafas beberapa kali, karena dengan demikian lebih segera
menerangkan hati, membukakan hijab dan memutuskan godaan nafsu dan
syaitan.
2. Sesudah selesai berdzikir jangan minum air hingga beberapa menit,
Karena dzikir itu meninggalkan panas dan rindu yang membangkitkan
gemar berdzikir.
3. Berdiam diri sesudah berdzikir, karena diam itu menimbulkan khusu’
sebagaian ulama mengatakan bahwa dengan sebab diam itu timbullah halhal
sebagai berikut :
a. Seolah-olah menghadirkan diri dihadapan Tuhannya dan Dia
melihatnya.
b. Mengkonsentrasikan indrawinya, dan sedapat mungkin tidak bergerak
sedikitpun.
c. Menafikan seluruh godaan, dan melakukan dzikir itu atas hatinya.
4. Menantikan warad dzikir, mudah-mudahan datang kepadanya dan
menghidupkan hatinya dalam waktu yang sesaat itu. Yang dimaksud warid
Lam” (tidak) yang bermakna bahwa seseorang mengosongkan diri17 yaitu :
17
M. Zain Abdullah, Tasawuf dan Dzikir, Ramadhani, Solo, 1993 hlm. 73.
17
itu ialah sesuatu yang datang atas hati manusia, yaitu ma’rifat, nur dan
lain-lain sehingga berbukalah hati dan bercahaya mata hatinya.
5. Mensyukuri nikmat Allah karena telah memudahkan dia mengerjakan
perintah-Nya dan mengucapkan istighfar tiga kali.
Adab-adab yang disebutkan diatas ialah untuk dzikir yang sudah
tertentu waktu dan cara-caranya, yang biasanya mengiringi sholat dan ibadahibadah
lain yang tertentu. Tetapi dzikir dalam arti kata ingat kepada Tuhan
dalam hati di anjurkan setiap waktu dengan tak tentu tempat dan caranya.
18
Dikalangan para sufi dikenal dua jenis praktek dzikir yaitu dzikir lisan
dan dzikir kalbu. Kalau yang pertama adalah berdzikir dengan melafalkan
dalam ucapan lisan, yang kedua hanya menyebut dalam hati. Terkadang
disebut juga dengan
dzikir jahar (dzikir terang-terangan) dan dzikir khafi
(samar-samar).
19
Adapun teknis pelaksanaan dzikir
menghadapkan wajah ke kiblat sambil memejamkan mata dengan
mengucapkan
kepala. Sesudah itu diucapkan ilaha. Lalu memulai lagi mengucapkan
Allah
kiri dan berkesudahan pada hati sanubari di bawah tulang rusuk lambung
dengan menghembuskan
geraknya pada seluruh badan seakan-akan di seluruh bagian badan amal yang
rusak itu terbakar dan memancarlah nur di dalam badan dari seluruh badan
yang baik dengan nur Tuhan.
Dalam melantunkan dzikir
dimaksudkan agar gema suara dzikir yang kuat dapat mencapai rongga batin
mereka yang berdzikir, sehingga memancarlah nur dzikir dalam jiwanya.
jahar, seorang pedzikirla dari bawah pusat dan diangkatnya sampai ke otak dalamilladari bahu kanan dengan menurunkan kepada pangkal dada di sebelahlafadz nama Allah sekuat mungkin sehingga terasajahar, digunakan dengan tekanan keras,20
Demikian pula gerakan dzikir pada dzikir tersebut di ulang-ulang secara
18
H. Aboe Bakar Atjeh, Op.cit., hlm. 283.
19
Muhammad Lukman Hakim,
Surabaya 1997, hlm. 262.
Al-Qusayairy An Naisabury, Ar Risyalatul Qusyariyyah Fi Ilmi at tasawwuf, Terj.Risalatul Qusyariyyah Induk Ilmu tasawwuf, Risallah Gusti,
20
Pembuka Dada
KH. Shohibul Wafa’ Tadjul Arifin, Miftah al-Shudur, Terj. H. Aboe Bakar Atjeh, Kunci, Kutamas, Sukabumi, t.t, hlm. 24.
18
pelan-pelan, kemudian semakin lama semakin cepat. Setelah terasa meresap
dalam jiwa maka terasa panasnya dzikir itu ke seluruh bagian tubuh
Keterangan dzikir
Allah :
21.jahar menurut para ahli tasawuf, didasarkan pada firman
في بيوت اذ ن الله انترفع ويذ كرفيها اسمه يسبح له فيها بالغدو والاصال
“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan
untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya didalamnya, pada waktu pagi
dan petang.” ( Q.S. An-Nur, 24, 36).
22
Lafadz
“berdzikir sambil mengucapkan/ menyebut nama Allah dengan bersuara”.
Atau dengan kata lain dibaca secara keras (
tasawuf pun telah memberikan beberapa kriteria dalam berdzikir, seperti
dikatakan :
wa yudzkara fiha’smuhu pada ayat tadi, mempunyai pengertianjahar). Kecuali dari itu, para ulama
-
قال العلماء: شروط الذكر ثلاثة: 1- بقول المد 2- بصوت فوي 3
بضرب شد يد
“Telah berkata para ulama: Syarat-syarat berdzikir itu ada tiga. 1) Dengan
ucapan yang panjang dan mantap; 2) Dengan suara yang kuat; 3) Dengan
pukulan yang tepat.”
23
Maksud kata
illa Allah
penentuan harakat tersebut meliputi:
Allah
yang kuat disertai pukulan yang kuat, agar dengan lafadz
bi qawli al-maddi disini , dalam membaca lafadz la ilahaharus sesuai dengan harakat yang tepat. Menurut para ahli tasawuf,la ( لا ) sepanjang dua harakat; dan illa( إلاالله ) enam harakat sampai dengan 10 harakat. Adapun maksud suaranafi isbat tadi
21
Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994,hlm.81.
22
Departemen Agama RI,Op.cit., hlm.550
23
bandung, 1985, hlm. 16.
H.M.A. Sodikin Fakih, Dialog Tentang Ajaran Thariqat Naqsyabandiyah, Orba Shakti,
19
mampu menghancurkan dan mengeluarkan segala sifat-sifat
madzmumah
(sifat tercela) dan memasukkan sifat-sifat
mahmudah (sifat yang terpuji).24
Dapat diambil kesimpulan, bahwa dengan berdzikir
dimaksudkan sebagai tahap pembersihan jiwa dari segala kotoran yang
melekat pada batin manusia.
Sedangkan pada
hanya hati yang mengucapkan
memenuhi qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama
dengan detak jantung serta mengikuti keluar-masuknya nafas.
mula-mula mulut berdzikir
berdzikir sendiri, dengan dzikir tanpa sadar-kekuatan akal tidak berjalanmelainkan
terjadi sebagai
naik ke mulut sehingga lidah bergerak sendiri mengucapkan
jahar,dzikir khafi dilakukan dengan tanpa suara dan katakata,(lafadz Ismudzat). Dzikir ini hanya25 CaranyaAllah, Allah diikuti hadirnya hati. Lalu lidahilham yang tiba-tiba masuk ke dalam hati, kemudianAllah-Allah.26
Pada dzikir ini, pikiran diarahkan kepada hati, dan hati kepada Allah.
Selama dzikir berlangsung, perlu adanya
dan dzikir harus banyak diucapkan agar kesadaran dan keberadaan Allah, yang
merupakan esensi hakekat manusia, bisa lahir dalam hati.
tasawuf mendasarkan dzikir ini pada firman Allah :
wuquf al-qalbi (keterjagaan hati),27 Para ulama
واذكر ربك فى نفسك تضرعا وخيفة ود ون الجهر من القول بالغد و
والاصال ولاتكن من الغافلين
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri
dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan
petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Q.S. Al-
A’raf 7:205)
28
24
Mustafa Zahri, Op. cit., hlm. 95.
25
Sufi
Asep Usman Ismail, Dzikir Lisan dan Dzikir Kalbu, dalam Komarudin SF (ed.) Dzikir, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2000, hlm. 176.
26
Asmaran As., Loc. Cit., Cf., M. Zain Abdullah, Op. cit., hlm. 66.
27
Kontemplasi dalam Tasawuf
Mir Valiuddin, Contemplative Disiplines in Sufism, Terj. M.S. Nasrullah, Dzikir dan, Pustaka Hidayah, Bandung 2000, hlm. 144.
28
Departemen Agama RI., Op. cit., hlm. 256.
20
Diantara berbagai aliran tarekat, yang merupakan aliran-aliran dalam
tasawuf, tidak ada kata sepakat mengenai jumlah frekuensi dzikir yang harus
dibaca, tergantung dari masing-masing aliran. Misalnya, pada tarekat
qadiriyah ditetapkan jumlah 7.000 kali sehari semalam dengan rincian masingmasing
Lathifah dibacakan
tetapi, bagi tareqat naqsabandiyah, dalam sehari semalam harus dibaca dzikir
sejumlah 11.000 kali. Dengan rincian,
masing-masing 1.000. Adapun dzikir yang dibaca berupa lafadz
Allah.
dzikir 200 kali setiap sesudah sholat fardhu. AkanLathifah al-qalby 5.000, dan lainnyaAllah,29
Rincian jumlah dzikir yang sedemikian itu, secara
dasar hukumnya. Akan tetapi telah ditentukan oleh ulama tarekat itu sendiri.
Sebab al-Qur’an hanya memberikan keterangan global saja.
syar’i tidak ditemui
C. Manfaat Dzikir
Dalam Islam, setiap aktifitas muslim selalu memiliki tujuan yang
bersifat essensi dan transenden. Karena menurut al-Qur’an semua ciptaan
Allah tercipta berdasarkan tujuan, baik yang telah mampu diterjemahkan oleh
manusia maupun yang tidak mampu dijangkau oleh analisa akal manusia,
dalam hal ini ada beberapa pendapat. Akan tetapi yang paling essensial dan
sesuai sebagaimana yang diharapkan Allah adalah bahwa manusia diciptakan
oleh Allah agar menyembah robnya, dzat yang menciptakan dan memelihara
alam semesta. Hal ini sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an :
وما خَلقْت ْالِج ن وْالاِن  ساِلاَّلِيعبدو َن
menyembahku.” (Q.S. Adz Dzariyah : 56).
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk30
Berdzikir dalam Islam juga memiliki tujuan-tujuan tertentu, dan tujuan
yang paling utama adalah agar manusia menjadi lebih dekat dengan Tuhan.
Menjadikan jiwa lebih dekat kepada Tuhan dengan cara berdzikir, berbeda
29
Aboe bakar Atjeh, Op. cit., hlm. 320.
30
Departemen Agama RI., Op. cit., hlm. 775.
21
halnya dengan
merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi cara
pendekatannya adalah melalui hati dengan mengingat Allah dalam dzikirnya.
Sedangkan
merenungkan ciptaan Allah kekuasaan-Nya yang nyata dan tersembunyi serta
kebesan-Nya di seluruh langit dan bumi.
ilmiah serta lebih cenderung kepada logika rasionalistik, sedangkan dzikir
memiliki konteks ruhaniah berupa perjalanan ruhani.
Dengan demikian maka dzikir akan senantiasa memiliki manfaat yang
terefleksikan dalam kehidupan seorang
1. Menghindarkan diri dari perbuatan jahat.
Dengan berdzikir, maka orang senantiasa ingat kepada Allah,
bahwa Allah adalah dzat yang selalu melihat kepada gerak-gerik alam
semesta, baik yang
perbuatan manusia. Sebagaimana dikatakan Al-Ghazali, “
ingatnya seseorang bahwa Allah mengamati seluruh tindakan dan
pikirannya.
kehidupan sehari-hari. Ia akan semakin berhati-hati dalam segala
tindakannya, karena merasa bahwa dirinya selalu diawasi oleh Tuhan.
Seorang sufi yang melakukan dzikir secara konstan, akan mampu
mengontrol perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang
melupakan dzikir atau lupa kepada Tuhan, kadang-kadang tanpa sadar
dapat saja berbuat maksiat. Namun, manakala ingat kepada Tuhan,
kemudian mengucapkan dzikir, kesadaran akan dirinya sebagai hamba
Tuhan akan segera muncul kembali.
menjelaskan bahwa sholat akan dapat menghindarkan diri dari kejahatan
dan perbuatan
tafakur, meskipun memiliki tujuan yang sama. Berdzikirtafakur adalah pendekatan diri kepada Allah dengan cara31 Sehingga tafakur memiliki dimensimudzakir, antara lain adalah:dhohir maupun yang bathin, juga terhadap segaladzikrullah berarti32 Hal ini membawa pengaruh terhadap jiwa dan perilaku33 Itulah sebabnya mengapa al-Qur’anmunkar.
31
Sudirman Tebba, Meditasi Sufistik, Pustaka Hidayah, bandung, 2004, hlm. 67.
32
bandung, 1984, hlm. 80.
Al-Ghozali, Al-Kimiya-u-al-Sa’adat, Terj. Haidar Bagir, Kimia Kebahagiaan, Mizan,
33
33.
Afif Anshori, Dzikir Demi Kedamaian Jiwa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hlm.
22
Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Ankabut: 45:
اتل مااوحي اليك من الكتاب واقم الصلوة ان الصلوة تنهى عن
الفحشاء والمنكر و لذ كرالله اكبر والله يعلم ماتصنعون
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-
Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah
dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaanya dari
ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Q.S. al-Ankabut: 45)
34
Disebutkan juga dalam ayat lain bahwa sholat merupakan jalan
untuk berdzikir kepada-Nya.
واقم الصلوة لذكرى
“Dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku”. (Q.S. Thaahaa:
14)
35
Oleh karena penjelasan itulah, maka sebagian ulama menyebut
sholat sebagai dzikir yang paling sempurna karena sholat merupakan
manifestasi yang paling sempurna dari pelaksanaan perintah al-Qur’an
untuk berdzikir. Ia adalah menifestasi dan wujud tertinggi serta paling
sempurna dari dzikir kepada Allah.
36
Dzikir juga sholat yang esensinya adalah dzikrullah akan memiliki
dampak positif bagi kehidupan muslim, yaitu menghindarkan diri dari
perbuatan jahat, aniaya dan mungkar. Karena kemungkaran merupakan
biang dari segala kehinaan dan kehancuran.
2. Menjadikan diri gemar melakukan kebaikan
Dzikir mempunyai pengaruh yang signifikan dalam tertanamnya
nilai ketuhanan secara kukuh dalam kalbu yang memancarkan kesadaran
tentang nilai kemanusiaan. Dzikir yang berarti mencintai Tuhan;
34
Departemen Agama RI., Op. cit., hlm. 592.
35
Ibid., hlm. 454.
36
Sa’id Hawwa, Jalan Rohani, Mizan, Bandung, 1995, hlm. 326.
23
sedangkan mencintai Tuhan secara benar ditandai dengan mengimbasnya
cinta itu pada makhluk-Nya. Sebaliknya, orang yang mencurahkan
cintanya kepada makhluk Tuhan tidak akan mengimbas kepada cinta
Tuhan. Sebab, mencintai yang sejajar atau lebih rendah dari manusia
terlampau berat untuk mengimbaskan cinta kepada yang lebih tinggi,
Allah SWT.
37
Dengan berdzikir menjadikan diri orang yang berdzikir gemar dan
melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dengan harapan mendapat
ampunan serta ridho-Nya. Merupakan suatu bentuk kewajaran dari
seorang yang berusaha dekat dan mencintai seseorang yang lain, yaitu ia
senantiasa berbuat baik. Demikian pula kiranya sikap seseorang yang
berusaha dekat dengan Tuhannya, selalu merasa bahwa Allah senantiasa
melihatnya. Maka ia akan selalu bertaqwa kepada Allah dimanapun
berada.
Perbuatan baik yang terefleksikan dari
hanya terbatas pada pelaksanaan ibadah kepada Allah, tetapi juga bersifat
horizontal berupa berbuat baik kepada sesama manusia. Pada saat
beribadah kepada Allah tidak dilaksanakan secara langsung, melainkan
dengan menempuh jalan hidup untuk secara aktif dan kreatif
melaksanakan tugas dan kewajiban kita sesuai dengan kehendak Tuhan.
dzikrullah tersebut tidak38
3. Meneguhkan Iman dan Menentramkan Batin
Kondisi keimanan seseorang itu tidak selamanya berjalan konstan.
Ia senantiasa bergerak bagaikan sebuah grafik, yang kadang-kadang
menunjukkan kurva menaik dan kadang menurun.
kehidupan sehari-hari menghadapi situasi dan kondisi yang memberi
peluang terjebak ke jalan syaitan.
39 Manusia dalam
37
Komarudin SF (
Asep usman Ismail, Dzikrullah Membeningkan hati, Menghampiri Ilahi, dalamed.) Dzikir Sufi, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2000, hlm. 2.
38
Perkembangannya,
Harun Nasution (ed.),Thriqah Qadiriyah Naqsabandiyah Sejarah Asal-UsulIAI Latifah Mubarakiyah, Tasikmalaya, 1990, hlm. 234.
39
Lihat Q.S. 48; 4; 18; 13.
24
Salah satu cara untuk menjaga konstanitas, atau bahkan
menambahkan keimannya itu, menurut kalangan sufi, adalah dengan
melanggengkan dzikir,
mulazamatu fi al-dzikir.40
Dengan menghadirkan asma Allah dalam hati seseorang di setiap
waktu dapat membawa efek yang sangat besar terhadap kedalaman dan
kemantapan iman individu tersebut. Karena seseorang yang senantiasa
berbuat demikian akan selalu dekat dengan Allah, sehingga segala perilaku
dan perbuatannya selalu memperoleh pancaran Illahi.
kehidupannya tidak mudah goyah dengan berbagai godaan dan cobaan.
Apabila iman telah teguh tertanam dalam dada seorang muslim, maka
tidak sedikitpun wujud keraguan dan kebimbangan mampu bersemayam
dalam hati, bahkan disebabkan orang yang telah memiliki keyakinan
seperti demikian takkan mampu didekati oleh syaitan.
41 Di dalam42
Dzikir juga dapat menjadikan bathin seseorang menjadi tenteram,
karena ia merasa dekat dengan Tuhan, sehingga segala problema hidup
disandarkan kepada Allah dan bukan kepada selain Allah. Hanya kepada
Allahlah tempat mengadu dan tempat ia menggantungkan harapan. Itulah
tempat yang paling ampuh untuk membantu manusia mengatasi
permasalahannya, karena Dia-lah yang memberi dan Dia juga yang
Menahan. Semua keuntungan dan kerugian, manfaat dan madarat, mulia
dan hina, miskin dan kaya, semua itu datang dan bersumber dari Allah.
43
Hal ini menjadikan pedzikir lebih mencintai Allah daripada yang lainnya.
Kondisi hati yang tenteram bagi orang-orang yang berdzikir
kepada Allah. Seperti dijelaskan dalam sebuah ayat al-Qur’an:
40
Al-Ghazali., Op. cit. hlm.32.
41
Kehidupan Modern, Laporan penelitian Individu
58.
Umar Abdurrahman, Epistemologi Kesehatan Mental Islami dan relevansinya Dalam, Puslit IAIN Walisongo, Semarang, 1999, hlm.
42
81.
Sayyid Abdullah Haddad, Thoriqah Menuju Kebahagiaan, Mizan, Bandung, 1993, hlm.
43
Abdul Majid,
Syekh Abdul Qadir al Jilani, Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilaihi al-Abrar, Terj.Rahasia Sufi, Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2002, hlm. 110.
25
الذين امنو وتطمئن قلو مبذكراللهالابذكراللهتطمئنالقلوب
dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram. (Q.S. Ar Raad:
)
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram44
Demikianlah kiranya berbagai manfaat dzikir terhadap kehidupan
manusia baik ditinjau dari dimensi psikologis berupa keteguhan iman dan
ketentraman batin, dan segi sosiologis berupa penghindaran diri dari
perbuatan jahat serta gemar akan berbuat baik yang terefleksikan dalam
kehidupan sehari-harinya.
44Departemen Agama RI., Op. cit. hlm. 357.


 sumber :TQN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar