Halaman

Kamis, 11 Agustus 2011

1.Thoriqoh jalan menuju Husnul Khotimah

http://goesq.wordpress.com/para-wali-allah/http://alhikmah351.wordpress.com/petunjuk-bagi-al-faqir/thoriqoh-jalan-menuju-husnul-khotimah/
http://mustikabumi.blogspot.com/
http://ciptohusodo.blogspot.com/
A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulilla hi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma’in.
Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.


THORIQOH JALAN MENUJU HUSNUL KHOTIMAH

I. Pengetian Thoriqoh. Arti Thoriqoh menurut bahasa adalah jalan atau bisa disebut Madzhab mengetahui adanya jalan, perlu pula mengetahui “cara” melintasi jalan itu agar tidak kesasar/tersesat. Tujuan Thoriqoh adalah mencari kebenaran, maka cara melintasinya jalan itu juga harus dengan cara yang benar. Untuk itu harus sudah ada persiapan batin, yakni sikap yang benar. Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, maka perlu latihan-latihan batin tertentu dengan cara-cara yang tertentu pula.
Sekitar abad ke 2 dan ke 3 Hijriyah lahirlah kelompok-kelompok dengan metoda latihan berintikan ajaran “Dzikrullah” . Sumber ajarannya tidak terlepas dari ajaran Rasulullah SAW. Kelompok-kelompok ini kemudian menamakan dirinya dengan nama “Thoriqoh”, yang berpredikat/ bernama sesuai dengan pembawa ajaran itu. Maka terdapatlah beberapa nama antara lain :
a. Thoriqoh Qadiriyah, pembawa ajarannya adalah :Syekh Abdul Qodir Jaelani q.s. (Qaddasallahu sirrahu).
b. Thoriqoh Syadzaliyah, pembawa ajarannya : Syekh Abu Hasan As-Syadzali q.s.
c. Thoriqoh Naqsabandiyah : pembawa ajarannya : Syekh Baha’uddin An-Naqsabandi q.s.
d. Thoriqoh Rifa’iyah, pembawa ajarannya : Syekh Ahmad bin Abil Hasan Ar-Rifa’ i q.s.
dan masih banyak lagi nama-nama Thoriqoh yang sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT. :
Èq©9r&ur (#qßJ»s)tFó™$# ’n?tã Ïps)ƒÌ©Ü9$# Nßg»oYø‹s)ó™V{ ¹ä!$¨B $]%y‰xî ÇÊÏÈ
Artinya :
“Jika mereka benar-benar istiqomah – (tetap pendirian/terus- menerus diatas Thoriqoh (jalan) itu, sesungguhnya akan Kami beri minum mereka dengan air (hikmah) yang berlimpah- limpah.
(Q.S. Al-Jin : 16)
Dalam pertumbuhannya, para Ulama Thoriqoh berpendapat dari jumlah Thoriqoh yang tersebar di dunia Islam, khususnya di Indonesia, ada Thoriqoh yang Mu’tabaroh (diakui) dan ada pula Thoriqoh Ghairu Mu’tabaroh (tidak diakui keberadaannya/ kesahihannya) .
Seseorang yang menganut/mengikuti Thoriqoh tertentu dinamai salik (orang yang berjalan) sedang cara yang mereka tempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan suluk. Banyak hal-hal yang hams dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai kepada tujuan yang dimaksud.
Dalam menempuh jalan (thoriqoh) untuk membuka rahasia dan tersingkapnya dinding (hijab) maka mereka mengadakan kegiatan batin, riyadoh (latihan-latihan) dan mujahadah (perjuangan) keruhaniyan. Perjuangan yang demikian dinamakan suluk, dan orang yang mengerjakan dinamakan “salik”.
Maka cukup jelaslah bahwa Thoriqoh itu suatu sistem atau metode untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan. Dimana seseorang dapat melihat Tuhannya dengan mata hatinya (ainul basiroh), sesuai dengan hadist sebagai berikut :
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat- Nya, kitab-kitab- Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul- Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan- Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan
tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. {QS Al-Lukman ayat 34} Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw.
bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadist tersebut jelas merupakan tujuan bagi semua orang yang mengaku dan menyatakan muslim, tidak hanya sekedar iman dan islam tetapi juga dituntut untuk menjadi jati diri yang ‘ihsan’, dan ath-Thariqoh adalah merupakan jalan yang untuk menggapai derajat ihsan dengan baik sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Hal yang demikian didasarkan pertanyaan Sayidina Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah SAW. Ya Rasulullah, manakah jalan yang paling dekat untuk menuju Tuhan. Jawab Rasulullah : Tidak ada lain, kecuali dengan dzikrullah.
Dalam hal ini pun Allah SWT juga menegaskan dalam Firman-Nya di dalam Al-Qur’an Kariim ;
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ’ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.É‹Î/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2É‹Î/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS Ar-Ra’d ayat 28)
Dengan demikian jelaslah bahwa jalan yang sedekat-dekatnya mencapai Allah SWT ; merasa dilihat dan diperhatikan, hanya bisa diraih oleh seorang hamba dengan dzikir kepadaNya (Zikrullah), disamping melakukan latihan (riyadoh) lahir-batin seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Shufi antara lain : Ikhlas, jujur, zuhud, muraqabah, musyahadah, tajarrud, mahabah, cinta kepada Allah SWT. dan lain sebagainya, yang merupakan bentuk dari dzikrullah itu sendiri; para ulama thariqah/tasawuf mendefinisikannya dalam bentuk dzikrullah Amaliyah.
Melihat petunjuk Allah dan Rasulullah SAW tersebut, maka Thoriqah mempunyai dua pengertian :
Pertama : Ia berarti metode bimbingan spiritual kepada individu (perorangan) dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan dengan Tuhan.
Kedua : Thoriqoh sebagai persaudaraan kaum Shufi yang ditandai adanya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Kedudukan Guru Thoriqoh diperkokoh dengan adanya ajaran wasilah dan silsilah(sanad) . Keyakinan berwasilah dengan Guru diper-erat dengan kepercayaan karomah, barokah dan syafa’at atau limpahan pertolongan dari Allah SWT melalui KaruniaNya kepada guru. Kepatuhan murid kepada Guru dalam Thoriqoh digambarkan seperti mayat di tangan orang yang memandikannya.
Dengan demikian dapat diambil benang merah bahwa inti Thoriqoh adalah wushul (bertemu) dengan Allah. Jika hendak bertemu, maka jalan yang dapat dipakai bisa bermacam-macam. Ibarat orang mau berpergian menuju Jakarta, kalau orang itu berangkat dari Surabaya ya harus menuju ke barat. Berbeda jika orang itu berangkat dari Medan ya harus berjalan ke timur menuju Jakarta. Ini artinya bahwa Thoriqoh yang ada, terutama di Indonesia mempunyai tujuan yang sama yaitu wushul, kepada Allah SWT.
II. Jalan menuju wushul ilallah
  1. Melalui Muraqabah.
    Petunjuk Al-Qur’an tentang Muraqabah/pendekata n diri kepada Allah SWT. disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain :
#sŒÎ)ur y7s9r’y™ “ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ’ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=‹Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6‹ÉftGó¡uŠù=sù ’Í< (#qãZÏB÷sã‹ø9ur ’Î1 öNßg¯=yès9 šcr߉ä©ötƒ ÇÊÑÏÈ
186. dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(S. Al Baqarah : 186).
Ketahuilah wahai saudaraku, Allah SWT selalu mengawasi segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an S. Al-Ahzab (33) : 52.
52. ……………. dan adalah Allah Maha mengawasi segala sesuatu.
Hal ini mengandung pelajaran bahwa seseorang selalu merasa diawasi/diintai oleh Allah SWT, karena pada dasarnya Allah adalah sangat dekat dengan hamba-hambanya, sebagaimana petunjuk S. Al-Qof (50) : 16.
16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
Demikian juga petunjuk dari Al-Qur’an dalam S. Al-Hadid (57) : 4.
4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
Hadis Nabi SAW. juga memberi arahan yakni ketika Nabi menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang Ihsan, beliau menjawab : Hendaklah engkau beribadah kepada Allah se-olah-olah engkau melihat nya. Apabila engkau tak mampu melihat- Nya, yakinlah bahwasanya Allah melihatmu.
(HR. Bukhari-Muslim) .
Kesadaran rohani bahwa Allah SWT. selalu hadir di dalam dan disekitar dirinya akan menjadikan dirinya selalu merasa diawasi segala apa yang dilakukan, bahkan sampai apa yang terlintas dalam hatinya.
Banyak kisah dalam dunia sufi Guru dan santrinya yang empat orang itu, satu diantaranya tidak mau menyembelih ayam yang diberikan oleh sang Guru, karena bagi Allah tidak ada suatu yang tersembunyi, Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka luluslah murid tersebut dari ujian yang diberikan gurunya tersebut.
Selanjutnya Al-Imam al-Qusairi.rhm berkata : “Barang siapa yang muraqabah dengan Allah dalam hatinya, maka Allah akan memiliharanya dari perbuatan dosa pada anggota tubuhnya. Imam tokoh Sufi Sufyan Sauri.rhm juga berpesan hendaklah engkau melakukan muraqobah terhadap Dzat yang tidak lagi samar terhadap segala sesuatu, hendaklah engkau selalu mengharap raja’ (pengharapan dengan sangat berharap) terhadap Dzat yang memiliki siksa (Abu Bakar Jabir al-Jazairi 1976 : 85).
Maka dari uraian diatas dapat dicermati adanya dampak positif muroqobah bagi yang mampu melakukannya, yakni :
q Memiliki rasa malu yang positif.
q Akan senantiasa hati-hati dalam segala ucapan dan perbuatannya.
q Tidak pernah merasa ditinggalkan oleh Allah meski sendirian ataupun kelihatan doanya yang dipanjatkan belum dikabul kan
q Tidak mudah putus asa apapun nasib yang menimpanya
q Menjadi hamba yang mukhlis sebagai diisyaratkan dalam Al-Qur’an S. Yusuf (12) : 24.
24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia (Nabi Yusuf) tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[*]. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
[*] Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata Nabi Yusuf tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu Dia jatuh ke dalam kemaksiatan. Dan ayat inilah menunjukkan keimanan dari Nabi Yusuf yang kuat dalam melaksanakan Ihsan, merasa dilihat dan diawasi oleh Allah SWT.
b. Melalui Muhasabah
Muhasabah berarti orang selalu memikirkan, memperhatikan dan memperhitung& shy;kan apa saja yang telah dan yang akan di perbuat. Pedomannya dalam S. Al-Hasyr (59) : 18.
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dari pengertian ini dapat diambil pelajaran bahwa Muhasabah :
1. Membuktikan adanya iman dan takwa kepada Allah dalam dirinya dan Allah mengakui hal itu. Bagi ummat Islam, iman merupakan kekuatan yang maha dahsyat untuk memelihara manusia dari nilai-nilai rendah, dan merupakan alat yang menggerakan manusia untuk meningkatkan nilai luhur dan moral yang bersih. Orang yang beriman akan berusaha mengamalkan akhlak yang mulia/mah mudah, bukan akhlak yang tercela/mazmumah dalam kehidupannya sehari- hari sehingga orang tersebut akan terhindar dari kejahatan apapun. Itulah gambaran orang bertakwa, bersih dari dosa, dapat mengalahkan tuntutan hawa nafsu.
2. Orang yang bermuhasabah, pasti mempunyai keyakinan akan datangnya Hari Pembalasan (secara khusus) begitu merasuk dalam hatinya sehingga ia merasa pelu sangat hati-hati dalam setiap langkahnya. Dia tidak berani main-main akan larangan Allah SWT.
3. Orang tersebut akan selalu berusaha meningkatkan kualitas amalnya, karena ia merasa tak mau merugi dari hari ke hari. Ibaratnya seperti pedagang, sebelum berangkat akan memperhitungkan berapa modalnya, berapa pula ia harus menjual dagangannya, dan setelah selesai akan menghitung lagi berapa hasil uang yang bisa dibawa pulang. Begitu juga dalam hal beragama, modalnya adalah kumpulan kewajiban yang berhasil dikerjakan, sedang labanya adalah amalan-amalan sunnah yang berhasil dikerjakannya.
4. Pesan Sayidina Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a : Perhitungkanlah dirimu sendiri sebelum dirimu diperhitungkan. Oleh karena itu sikap hidup muraqobah dan muhasabah merupakan peningkatan ruhaniyah dan mental manusia sehingga benar-benar menjadi hamba Allah yang bertakwa, hidup dalam ketaatan dan terhindar dari maksiat.
c. Melalui Dzikir
Dzikir berarti ingat, mengingat, merenung, menyebut. Termasuk dalam pengertian dzikir ialah dia, membaca Al-Qur’an, tasbih (mensucikan Allah) tahmid (memuji Allah), takbir (membesarkan Allah) tahlil (mentauhidkan Allah), istighfar (memohon ampun kepada Allah) hauqalah (membaca lahula wala quwwata illah billahi ‘aliylil ‘adziem) dan lain sebagainya.
Ada dzikir yang menyatu dengan ibadah lainnya seperti dengan salat, thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya. Dan ada pula dzikir yang dilakukan secara khusus/ter sendiri diucapkan pada saat-saat tertentu, atau pada, setiap saat. Ada dzikir yang jumlahnya tidak ditentukan oleh syara’, tetapi ada dzikir yang jumlahnya ditentukan oleh syara’ menurut ketentuan Thoriqoh yang bersangkutan, Nabi SAW. sendiri baik dengan pernyataan beliau maupun dengan contoh amalan beliau. Sedang dzikir dalam pengertian ingat atau mengingat Allah, seharusnya dilakukan pada setiap saat. Artinya kegiatan apapun yang dilakukan oleh seorang Muslim hendaknya jangan sampai melupakan Allah SWT.
Dimanapun seorang Muslim berada, hendaknya selalu ingat kepada Allah, sehingga melahirkan cinta beramal saleh kepada Allah dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Dzikir dalam arti menyebut asma Allah yang diamalkan secara rutin, biasanya disebut wind atau jamaknya disebut aurad.
Dzikir dalam menyebut asma Allah termasuk ibadah makhdhoh yaitu ibadah langsung kepada Allah SWT. Sebagai ibadah langsung, maka terikat dengan norma-norma ibadah langsung kepada Allah SWT, yaitu mesti ma’sur ada contoh atau ada perintah dari Rasulullah SWT. atau ada izin dari beliau. Artinya jenis dzikir ini tidak boleh dikarang oleh seseorang. Dzikir hanyalah mengingat atau menyebut asma Allah, atau nama-nama Allah atau kalamullah, Al-Qur’an.
Petunjuk Al-Qur’an dan Hadis perihal kegiatan dzikir cukup banyak, antara lain dapat disebutkan :
Firman Allah : Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu.
(S. Al-Baqarah (2) : 152)
41. Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
(S. Al-Ahzab (33) : 41).
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
(Q.S. Ali-Imran : 191).
205. dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.
(S. Al-A’rof (7) : 205).
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(S. Ar-Ra’du (13) : 28).
Hadis-hadis Nabi :
Telah berfirman Allah SWT. (dalam suatu hadis Qudsi) : Aku bersama-sama hamba-Ku selama ini mengingat Aku dan bibirnya bergerak menyebut nama-Ku. (HR. Al Baihaqy dan Ibnu Hiban).
Tak seorangpun manusia mengerjakan suatu perbuatan yang dapat menjauhkan dari azab Allah SWT. lebih baik dari pada dzikir. Para sahabat bertanya tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali apabila engkau menghantam musuh dengan pedangmu itu sehingga ia patah, kemudian engkau menghantam lagi dengan pedangmu sehingga ia patah, kemudian menghantam lagi dengan pedangmu sehingga ia patah. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Musshanaf).
Rasulullah SAW. pernah ditanya : Amalan apa yang paling afdol ? Jawab beliau : Engkau mati dalam keadaan lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah (HR. Ibnu Hiban & Athabrani).
Nabi SAW. telah bersabda : Allah SWT. berfirman dalam suatu hadis qudsy : Barang siapa disibukkan dzikir kepada-Ku, sedemikian sehingga tidak sempat memohon sesuatu dari-Ku, maka Aku akan memberinya yang terbaik dari apa saja yang Ku berikan kepada para pemohon (HR. Bukhori)
Seorang tokoh Shufian Abdul Qosim berkata : Ingat kepada Allah adalah bagian yang sangat kuat untuk menempuh jalan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Suci. Bahkan sebagai unit/pokok didalam jalan/thoriqah ini (jalan shufiyah). Dan seorang hanya dapat sampai kepada Allah dengan terus menerus ingat kepada Allah (Abul Muhammad Abdulah Al-Yafi’i : Nasrul Mahasin Al-Ghoyah : 247).
Perlu disampaikan secara garis besar bahwa praktek dzikir dalam dunia thoriqoh, pelaksanaannya bisa berbeda-beda dalam tehnisnya tergantung ciri dan kepribadian thoriqoh itu sendiri sesuai petunjuk Mursyid nya.
Ulama Thoriqoh membaca jenis dzikir menjadi tiga jenjang :
a. Dzikir lisan : Laa ilaaha Illalah. Mulamula pelan kemudian bisa naik menjadi cepat setelah merasa meresap dalam diH.
b. Dzikir qalbu (hati) : Allah, Allah.
Mula-mula mulutnya berdzikir diikuti oleh hati, kemudian dari hati ke mulut, lalu lidah berdzikir sendiri, dengan dzikir tanpa sadar, akal pikiran tidak jalan lagi, melainkan terjadi sebagai Ilham yang menjelma Nur Ilahi dalam hati memberitahukan : Innany Anal Laahu, yang naik ke mulut mengucapkan Allah, Allah.
c. Dzikir Sir atau Rahasia : Hu Hu. Biasanya sebelum sampai ke tingkat dzikir orang itu sudah fana lebih dahulu. Dalam situasi yang demikian perasaan antara diri dengan Dia menjadi satu. Man lam jazuk Lam ya’rif : Barang siapa belum merasakan, maka is belum mengetahui.
Adapun juga ulama ahl-Thariqoh yang membagi jenis dzikir menjadi empat macam : Dzikir Qolbiyah, Dzikir Aqliyah, Dzikir Lisan dan Dzikir Amaliyah.
Semua tehnis berdzikir itu baik semua. Pada akhirnya terpulang kepada kemampuan kita masing-masing untuk melaksanakan dzikir itu sesuai dengan pilihan Thoriqoh dan petunjuk Mursyid yang bersangkutan selaku murid hanya bisa taat dengan petunjuk gurunya.
Demikian uraian singkat kami dalam menyajikan Thoriqoh sebagai jalan- menuju khusnul khatimah, yang semoga merupakan ikhtiar seorang hamba menjadi idaman bagi setiap muslim diakhir hayatnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Dan Allah SWT, selalu membimbing dan memberi hidayah kepada kita semua. Amin.
Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa Syekh wa bi hurmati fatihah!!

PETUNJUK BAGI AL FAQIR


PETUNJUK BAGI AL FAQIR
AL-QUTHUB
PETUNJUK BAGI JAMA’AH AL-HIKMAH 351
(Thoriqot Qodiriyah Naqsyabandiyah)
Membuka Tabir (Hijab) Yang Membatasi Diri Dengan Tuhan
Perbaikan Akhlak
Dalam “Kimyaus-Sa’adah” al-Ghazali berkata bahwa tujuan perbaikan akhlak adalah:
Untuk membersihkan Qolbu dari kotoran-kotoran nafsu dan amarah sehingga hati menjadi bersih dan suci, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan. Jadi dinding/hijab yang membatasi diri dengan Tuhan adalah hawa nafsu kita sendiri. Allah Swt berfirman :
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar ber-akhlak yang agung “ ( Q.s. Al-Qalam:4)
Diriwayatkan oleh Anas bahwa sesorang bertanya kepada Nabi Saw : Wahai Rosulullah, siapakah diantara orang-orang beriman yang paling utama imannya ?” Beliau menjawab:
“Yaitu mereka yang paling baik akhlaknya” (H.r. Ibnu Majah)
Akhlak yang baik adalah keutamaan sejarah hidup hamba, sehingga mutiara-mutiara seseorang dapat tampak. Manusia itu terlapisi oleh fisiknya, namun terungkap oleh akhlaknya.
Syech Abu Ali ad-Daqqaq juga berkata,”Allah Swt. Menganugrahi Nabi-Nya Saw. Dengan keistimewaan sifat beliau, dengan pujian yang sama sekali tidak pernah dipujikan kepada makhluk lain. Maka Allah berfirman dalam Q.s. Al-Qalam: 4.
Muhammad al-Wasithy mengatakan,”Allah Swt. Memberi predikat akhlak yang agung, karena beliau merelakan diri dari dunia dan akhiratnya, dan merasa puas hanya dengan Allah Swt semata.”
Tidak mempunyai cita-cita selain Allah termasuk Akhlak mulia. Tasawuf adalah akhlak, barang siapa bertambah dalam akhlak berarti bertambah pula dalam tasawuf.
Al-Harist al-Muhasiby mengatakan: “Kita akan merasa rugi jika kehilangan tiga hal: Wajah cerah di sertai dengan kesantunan, kata-kata yang baik dan disertai kejujuran, serta persaudaraan yang kuat di padu dengan kesetiaan.
Rosulullah Saw bersabda :
Engkau tidak akan dapat memberikan kebahagiaan orang lain dengan hartamu, karena berilah kebahagiaan dengan wajah yang manis dan akhlak yang baik” (H.r. Al-Bazzar dan Hakim).
Jika seseorang hamba mempratekkan akhlak yang mulia selama empat puluh hari, Allah akan menjadikan akhlak mulia sebagai bawaan baginya. Sedang orang yang buruk akhlaknya maka ia paling banyak cemasnya.
Ada tiga macam orang yang di kenali kecuali pada tiga perkara : Seorang yang murah hati ketika marah, seorang pemberani di saat perang, dan seorang saudara saat di butuhkan.
Berteman penjahat yang penuh dosa lebih baik daripada ahli ibadah yag akhlaknya buruk.(Al-Fudhal bin ‘Iyad)
Akhlak yang buruk  menyempitkan hati pelakunya, sebab ia tidak memberikan ruang bagi apapun selain hawa nafsuya.
SABAR
Allah Swt. Berfirman dalam Q.s. al- Baqarah: 45-46 ;
Yang artinya:”Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu adalah tugas berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, orang-orang khusyu’ itu ialah orang yang menyukai bahwa mereka itu akan bertemu dengan Allah dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
Dalam pada ini kaum sufi tentang keadaan sabar mempunyai tiga keadaan:
  1. Sabar sebelum taat, ialah niat yang benar, tujuan yang benar, merasa kewajiban atas keyakinan agama dalam menerima peraturan berupa perintah dan larangan.
  2. Sabar melaksanakan taat ialah melaksanakan kewajiban sampai selesai, berkala atau terus menerus dengan penuh tanggung-jawab dan kesungguhan.(Istiqomah)
  3. Sabar setelah taat ialah tidak merasa bangga dengan selesainya amal perbuatannya atau pekerjaannya, tidak iri hati atas kekurangan dan kelebihan orang lain, tidak riya’ untuk di kagumi hasil-usahanya.
Menurut ajaran sufi, maka sabar itu terbagi menurut hukum-hukumnya, yaitu:
  1. Sabar yang di lakukan untuk menjauhkan diri dari segala yang haram, hukumnya wajib.
  2. Sabar yang dilakukan untuk menjauhkan diri dari segala pekerjaan yang makruh hukumnya sunnah.
  3. Sabar dalam menjalankan hukuman karena pelanggaran maka itu harus hukumnya.
  4. Sabar membela kehormatan atau hak milik, maka hukumnya “haram” jadi sifat sabar dalam keadaan seperti ini di namakan “sabar-sajaah” sabar berani.
Sabar di bagi dalam beberapa macam:
  1. Sabar yang diupayakan, dan
  2. Sabar yang tanpa diupayakan.
Mengenai sabar yang diupayakan terbagi menjadi dua;
  1. Sabar dalam menjalankan perintah-Nya.
  2. Sabar dalam menjauhi larangan-Nya.
Mengenai sabar terhadap hal-hal yang tidak di upayakan si hamba, maka kesabarannya adalah dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.
Perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang yang beriman, tetapi hijrahnya disisi Allah Swt adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah Swt adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bersabar bersama Allah Swt. (Al-Junayd)
 SYUKUR
Allah Swt berfirman dalam Q.s. Ibrahim:7 ;
Artinya : “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian-Ku) kepadamu. Akan tetapi bila kamu ingkar (kufur terhadap) nikmat-Ku, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah keras.”
RIDHO BIL-QODHO
 Dalam sebuah hadits Qudsi :
“ Bahwa Tuhan berfirman : Aku-lah Allah tidak Tuhan yang sebenarnya selain Aku. Maka barangsiapa tidak sabar  atas cobaan-Ku tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak rela terhadap  keputusan-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan yang lain dari-pada-Ku”
Tiga hal yang harus di miliki seorang Mukmin atau jama’ah:
  1. Seorang  mukmin harus menjaga dan melaksanakan perintah Allah dengan tulus ikhlas.
  2. Seorang mukmin harus menghindarkan diri dari segala yang haram baik yang nyata maupun samar (syubhat).
  3. Seorang mukmin harus ridho menerima takdir Allah yang maha kuasa.
Kewajiban yang harus di laksanakan  Jama’ah “Al-Hikmah” 351:
  1. Memperbanyak istighfar baik siang dan malam serta Sholawat kepada Rosulullah dan jangan sekali-kali bosan.
  2. Hendaknya menyegerakan taubat atas dosa yang telah dilakukan  jangan ditunda-tunda.
  3. Harus mengikuti sunnah Rosul dengan panuh keyakinan.
  4. Jangan sekali-kali melakukan perbuatan bid’ah.
  5. Harus mematuhi segala yang diperintahkan dan dilarang Allah dan Rosul-Nya.
  6. Harus menjunjung tinggi tauhid jangan sekali-kali menyekutukan Allah.
  7. Harus senantiasa menyucikan Allah dan jangan sekali-kali menisbahkan sesuatu keburukan kepada Allah.
  8. Harus mempertahankan kebenaran dan jangan meragukan sedikit-pun atas kebenaran tersebut.
  9. Hendaknya selalu bersabar dalam setiap keadaan dan jangan sekali-kali menunjukkan sifat ketidak sabaran.
10. Hendaknya mempunyai sifat istiqomah serta pengharapan kepada Allah dengan sabar dan jangan kesal.
11. Hendaknya bekerja sama dengan sesama Muslim/Jama’ah dalam menjalankan ta’at jangan terpecah-pecah, saling mencintai dan jangan mendendam.
12. Menjauhi kejahatan dan jangan sekali-kali ternoda oleh kejahatan tersebut.
13. Hendaknya menghiasi dirinya dengan ke-ta’atan kepada Allah, jangan sekali-kali menjauhi pintu Tuhan dan berpaling dari-Nya.

Hendaknya bagi jama’ah menjadikan kewajiban bagi dirinya sendiri untuk senantiasa melaksanakan sholat malam, karena amal tersebut yang dilakukan orang-orang terdahulu sehingga mencapai derajat yang luhur di hadapan Allah Swt.
Membiasakan diri mengosongkan perut, berdiam diri menjaga lisan dan hati serta menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang hatinya lupa mengingat Allah.
Hendaknya selalu menjaga keluar-masuknya nafas dengan selalu dzikir pada Allah Swt. Dengan me-dawam-kan lafal “Allah ….Allah …..Allah” dalam hati. Namun sebaik-nya bagi pemula atau orang awam yang hatinya masih begitu besar rasa was-wasnya seyogya-nya membaca istighfar (Astaghfirullahal-azhiim) saja. Disertai dengan penuh rasa takut dan harap akan ke-Agungan dan ke-Besaran Allah. Sampai hatinya mendapatkan pancaran cahaya “Nur illahy” yang Insya Allah akan membawa kita kepada keselamatan Dunia dan Akhirat.

Apabila melaksanakan perintah Allah maka tanggalkan pandangan manusia yang tertuju kepada kita dan tanggalkan kepentingan pribadi kita. Semua hendaknya kita tujukan kepada Allah saja. Untuk menghindari pandangan manusia yang memuji atas amalan kita dalam melaksanakan perintah Allah. Tak lain hanyalah kita menghindar dari mereka, mengasingkan diri sepenuhnya dan membebaskan jiwa kita dari segala harapan mereka dan lenyapkanlah segala nafsu kita.
ßwur ÆìÎ7®Ks? 3“uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@‹Î6y™ «!$# 4ÇËÏÈ

“ …dan janganlah engkau menuruti hawa-nafsu nanti ia (hawa-nafsu) menyesatkanmu dari jalan  Allah …” { QS. Shod: 26}.

Adapun tanda-tanda lenyapnya nafsu adalah :
  1. Meninggalkan kesibukan untuk mengejar duniawi.
  2. Berhubungan dengan orang-orang hanya untuk mendapatkan manfa’at.
  3. Cenderung menghindarkan diri dari kemudharatan.
  4. Tak menuruti kemauan dan  dorongan pribadi.
  5. Tidak menggantungkan pada diri sendiri dalam masalah pribadi.
  6. Tidak membantu atau melindungi diri sendiri, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah, karena Dia-lah yang Maha Kuasa.

Tujuh puluh malam kebaikan dicatat seorang mukmin yang membuang dorongan hawa-nafsunya ketika dirinya dikuasai atau ia menguasainya.

Kemauan itu bisa lenyap dari jiwa kita, kemauan yang dimaksud ialah yang didoromg oleh Hawa-nafsu. Adapun tanda-tanda lenyapnya kemauan atas kehendak Allah itu ditandai adalah :
v  Tidak pernah menentukan diri, tak merasa butuh, tidak mempunyai tujuan kecuali satu tujuan dan satu kebutuhan yakni kepada Allah.
v  Kehendak Allah akan berwujud pada diri kita sehingga jika kehendaknya bereaksi, maka tubuh kita menjadi pasif, namun hati kita tenang, pikiran jernih, nurani dan rohani kita menjadi tenang dan berseri, dengan demikian kebutuhan kita tentang duniawi kita pasrahkan bergantung kepada Allah saja.
v  Gerakkan kita digerakkan oleh kekuasaan-Nya, lidah ke-Abadian selalu menyeru nama kita. Tuhan semesta alam mengajari dan memberi kita hiasan berupa nur-Nya yang menempatkan kedudukan kita sejajar dengan ‘Ulama Hikmah yang telah mendahului kita.
v  Hendaknya hatinya selalu men-tauhidkan Allah. Mentauhidkan pintu tauhid pertama yaitu men-tasyarauf-kan Asma’ Sami’u (Allah yang maha mendengar) Bashiru/‘Aliimu ( Allah yang maha melihat/mengetahui) Ghofur (Maha pengampun) Wahhab (Maha pemberi/yang mengabulkan do’a ).
v  Caranya adalah minimal setiap 15 menit sekali membaca : Ya Allah 3x ….. dalam hati dengan merenungi, menghayati dan memahami Asma’ ( Sami’u … Bashiru / ‘Aliimu ….. Ghofur ….. Wahab ). Apabila hati kita sudah tertanam bahwa Allah selalu mendengar dan mengetahui segala hal-ikhwal lahir dan bathin kita. Berarti Allah telah menolong kita memasuki pintu Tauhid pertama, yaitu : Tauhid  “fil-‘asma wa sifat”.
Rosulullaah Saw bersabda :


Artinya: Barang-siapa taat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla maka ia telah dzikir (ingat) kepada-Nya, meskipun ia sedikit shalatnya, puasanya dan membaca Al-Qur’an. Barang-siapa durhaka kepada-Nya maka ia telah lupa kepada-Nya, meskipun ia banyak shalatnya, puasanya dan membaca Al-Qur’an.

Barang-siapa mengandalkan Allah maka ia benar, kuat dan dicukupi (tercukupi)

Janganlah kita lari (mengeluh) dari cobaan karena cobaan bersama kesabaran adalah asas bagi setiap kebaikan, asas kenabian, kerisalahan, kewalian, ma’rifat dan mahabbah adalah cobaan.
Jika seseorang hamba mempratekkan akhlak yang mulia selama empat puluh hari, Allah akan menjadikan akhlak mulia sebagai bawaan baginya. Sedang orang yang buruk akhlaknya maka ia paling banyak cemasnya.
Ada tiga macam orang yang di kenali kecuali pada tiga perkara : Seorang yang murah hati ketika marah, seorang pemberani di saat perang, dan seorang saudara saat di butuhkan.
Kesabaran adalah karunia Allah kepada hambanya sehingga mampu melaksanakan taat dalam malaksanakan perintah Allah dan Rosul-Nya.
Sedangkan syukur adalah pujian bagi nafas dan buktinya adalah dengan karunia Allah berusaha sekuat tenaga baik lahir maupun batin melaksanakan perintah dan larangan Allah dan Rosul-Nya serta memperbaiki adab di hadapan-Nya.
Tetap Istiqomah dan ikhlas dalam melaksanakan taat serta melayani Allah dalam seluruh keadaan baik suka maupun duka adalah bukti hamba yang ridho terhadap ketentuan (takdir) Allah.
Wajib atas kita untuk taat dan melayani Allah dan minta dipenuhi kebutuhan-kebutuhan kita pada Allah, jangan kepada selain-Nya karena sedikitpun mereka/makhluk tak mampu memberi manfaat maupun mudharot.
Layanilah Allah ‘Azza Wa Jalla dan mohonlah untuk dibukakan pintu-Nya, dan pintu-pintu makhluk karena niscaya Allah akan membukakan serta memperlihatkan kepada kita ke-ajaiban-ajaiban yang diluar perhitungan dan dugaan kita.
Keluarkan nafsu dan makhluk dari hati kita dan kita isi dengan apa yang tersimpan oleh keduanya, sehingga sampai kepada kita pembinaan-Nya ini bukan sesuatu yang datang dengan puasa siang hari dan beribadah malam hari, tetapi dengan hati yang suci dan siirr yang jernih.
Hanya takut dan sandarkanlah segala harapan kepada Allah dalam seluruh keadaan.
Mohonlah hanya kepada Allah dan lepaskanlah segala harapan kita kepada makhluk dalam seluruh keadaan.
Hendaknya kita sembunyikan amal ibadah kita dari pandangan makhluk, kecuali bagi mereka yang dengan niat untuk membawa kebaikkan kepada sekelilingnya, atau ibadah fardhu yang musti kita tampakkan.
Barang-siapa memberi bobot pada dirinya sendiri maka ia tiada berbobot, siapa yang mengaku tentulah ia pendusta.
Janganlah kita turuti hawa nafsu serta segala kemaksiatannya karena keadaan itu akan membawa kita ber-buruk sangka kepada orang-orang shalih, wali-wali Allah, Nabi dan Rosul Allah serta kepada Allah.
Bergaul dan ikutilah kepada mereka para shalih dan orang-orang terpilih agar dapat membawa kita kepada ketaatan, rasa takut, malu dan cinta kepada Allah. Jangan sekali-kali engkau berburuk sangka kepada mereka, karena itu akan membawa kehancuran dan kebinasaan kita walaupun kita banyak sholat, dzikir, puasa dan membaca Al-Qur’an karena sedikitnya ilmu kita tentang Allah.
Setengah Ulama’ mengatakan bahwa kemanisan beribadah hanya dapat ditemukan dalam tiga hal:
  1. Sholat
  2. Dzikir, dan
  3. Membaca Al-Qur’an
Apabila diluar hal tersebut diatas maka seseorang benar-benar mengalami kehancuran dan kebinasaan (kerugian)
Namun hendaknya bagi murid yang baru menjalani proses pencerahan/pencarian hendaknya lebih memperbanyak dzikir karena dzikir lebih cepat menyampaikan kita pada HAKEKAT KETUHANAN, pastinya dengan tanpa harus meninggalkan yang lainnya.
Seluruh kebaikan itu ditangan-Nya, pemberian dan penahanan itu di kekuasaan-Nya, kaya dan miskin, hina dan mulia itu di tangan-Nya, dimana tidak ada bagi seseorang sesuatupun bersama-Nya.
Janganlah kita meruntuhkan akhirat dengan meramaikan dunia, sebentar lagi kita di ambil oleh Dzat yang pengambilan-Nya sakit sekali, dengan berbagai macam pengambilan, Allah mengambil kita dengan memecat kekuasaan kita, mengambil kita dengan sakit, hina, fakir. Allah mengambil kita dengan menimpakan bencana dan kesusahan, dengan menguasakan lidah dan tangan makhluk atas kita.
Nasehatilah Al-Qur’an dengan mengamalkannya bukan mendebatnya, I’tikad adalah kata-kata yang mudah dan amal adalah banyak, hendaklah kita iman kepadanya (Al-Qur’an) benarkanlah dengan hatimu dan amalkanlah dengan anggota-anggota badan kita, sibukkanlah dengan sesuatu yang berguna bagi kita dan jangan berpaling kepada akal yang kurang dan rendah.
Janganlah kita bersusah payah meraih sesuatu yang bukan bagian kita, hanya akan menimbulkan bagi kita kepayahan dan kesedihan yang panjang, sebab sesuatu yang telah di tentukan Allah bagian dari kita tentu Allah akan menempatkan, memudahkan dan menyampaikan kita pada bagian dan urusan tersebut.
Yang di maksud dengan ‘Uzlah (mengasingkan diri) adalah hijrahnya (keluarnya) hati dari apa-apa selain Allah, menuju ke hadhirat Allah ‘Azza wa Jalla.
Banyak orang yang secara lahir melakukan ‘Uzlah di tempat yang sepi jauh dari keramaian, akan tetapi hati di penuhi dengan segala macam kegelisahan akan urusan duniawi, akan tetapi tidak sedikit orang yang mendapatkan pertolongan Allah, walaupun mereka secara lahiriyah berkumpul dengan manusia di tengah-tengah keramaian akan tetapi hatinya keluar dari makhluk dan menghadapkannya di sisi Allah.
Sedangkan Zuhud (sederhana) bukanlah berarti tak boleh mempunyai harta benda, akan tetapi mengeluarkan dunia (harta, tahta, anak-istri maupun lainnya yang dapat melupakan kita dengan Allah) dari hati kita.
Jadi Zuhud bukanlah melepaskan dunia dari tangan kita, melainkan melepaskan dunia dari hati kita, sehingga kita tidak sampai lengah dalam menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla.
Akan tetapi apabila seseorang tidak mempunyai tanggungan secara lahiriyah terhadap keluarga, maka melaksanakan zuhud secara lahir dan batin adalah termasuk amal yang sangat utama. Bisa juga melaksanakan zuhud secara lahir dan batin walaupun mempunyai tanggungan yang bersifat duniawi apabila dalam zuhudnya tidak menimbulkan fitnah.
Kegagalan dalam melaksanakan tujuan yang luhur biasanya disebabkan sesuatu yang menjadi titik lemah manusia yaitu tiadanya keseimbangan antara keinginan dan kesungguhan dalam berusaha/ikhtiar.
Titik lemah manusia biasanya dalam hal yang tersebut ini:
  1. Malas  2.Bosan  3.Bimbang/ragu-ragu  4.Lalai/terburu-buru
Sedangkan keberhasilan adalah kesungguhan dalam melaksanakan ikhtiar dan berani melihat kekurangan diri sendiri serta selalu melakukan perbaikkan diri secara terus-menerus, tanpa harus kagum terhadap terhadap keberhasilan yang telah dia capai, sebaliknya bertambah syukur kepada Allah terhadap “faid” (karunia) yang telah diberikan kepada kita.