Laman

Sabtu, 24 September 2011

Agar Rizki Mendapat Keberkahan, Ustadz Muhammad Arifin Badri

MAKNA KEBERKAHAN
Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan & berdo’a utk mendapatkan keberkahan, baik dalam umur, keluarga, usaha, maupun dalam harta benda & lain-lain. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya yg dimaksud dg keberkahan itu? Dan bagaimana utk memperolehnya?
Apakah keberkahan itu hanya terwujud jamuan makanan yg kita bawa pulang saat kenduri? Atau apakah keberkahan itu hanya milik para kiyai, tukang ramal, / para juru kunci kuburan, sehingga bila salah seorang memiliki suatu hajatan, ia datang kepada mereka utk “ngalap berkah”, agar cita-citanya tercapai?
Bila kita pelajari dg sebenarnya, baik melalui ilmu bahasa Arab maupun melalui dalil-dalil dalam Al-Qur’an & Sunnah, kita akan mendapatkan bahwa kata al-barakah memiliki kandungan & pemahaman yg sangat luas & agung. Secara ilmu bahasa, al-barakah, berarti berkembang, bertambah & kebahagian . Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Asal makna keberkahan, ialah kebaikan yg banyak & abadi”
DAHULU, SABA MERUPAKAN NEGERI PENUH BERKAH
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang negeri mereka.
“(Negerimu adalah) negeri yg baik & (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun” (Saba: 15)
Ayat diatas berbicara tentang negeri Saba’ sebelum mengalami kehancuran lantaran kekufuran mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kisah bangsa Saba’, suatu negeri yg tatkala penduduknya beriman & beramal shalih, maka mereka dilingkupi dg keberkahan. Sampai-sampai ulama ahli tafsir mengisahkan, kaum wanita Saba’ tdk perlu bersusah-payah memanen buah-buahan di kebun mereka. Untuk mengambil hasil buahnya, cukup menaruh keranjang di atas kepala, lalu melintas di kebun, maka buah-buahan yg telah masak akan berjatuhan memenuhi keranjangnya, tanpa harus memetik / mendatangkan pekerja utk memanennya.
Sebagian ulama lain juga menyebutkan, dahulu di negeri Saba’ tdk ada lalat, nyamuk, kutu, / serangga lainnya. Kondisi demikian itu lantaran udaranya yg bagus, cuacanya bersih, & berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg senantiasa meliputi mereka.
Kisah keberkahan yg menakjubkan pd zaman keemasan umat Islam juga pernah diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:”Sungguh, biji-bijian dahulu, baik gandum maupun yg lainnya lebih besar dibanding dg yg ada sekarang, sebagaimana keberkahan yg ada padanya (biji-bijian kala itu, pent) lebih banyak. Imam Ahmad rahimahullah telah meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang sebagian kekhilafahan Bani Umawi sekantung gandum yg biji-bijinya sebesar biji kurma, & bertuliskan pd kantung luarnya:”Ini adalah gandum hasil panen pd masa keadilan ditegakkan”
Bila demikian, tentu masing-masing kita mendambakan utk mendapatkan keberkahan dalam pekerjaan, penghasilan & harta. Sehingga kita bertanya-tanya, bagaimanakah cara agar usaha, penghasilan & harta saya diberkahi Allah?
DUA SYARAT MERAIH KEBERKAHAN
Untuk memperoleh keberkahan dalam hidup secara umum & dalam penghasilan secara khusus, terdapat dua syarat yg mesti dipenuhi.
Pertama. Iman Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Inilah syarat pertama & terpenting agar rizki kita diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dg merealisasikan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman & bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit & bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al-A’raf: 96)
Demikian, balasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yg beriman, & sekaligus menjadi penjelas bahwa orang yg kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya tdk akan pernah merasakan keberkahan dalam hidup.
Di antara perwujudan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berkaitan dg penghasilan, ialah senantiasa yakin & menyadari bahwa rizki apapun yg kita peroleh merupakan karunia & kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala , bukan semata-mata jerih payah / kepandaian kita. Yang demikian itu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kadar rizki setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.
Bila kita pikirkan diri & negeri kita, niscaya kita bisa membukukan buktinya. Setiap kali kita mendapatkan suatu keberkahan, maka kita lupa daratan, & merasa keberhasilan itu karena kehebatan kita. Dan sebaliknya, setiap terjadi kegagalan / bencana, maka kita menuduh alam sebagai penyebabnya, & melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila demikian, maka mana mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkahi kehidupan kita? Bukankah pola pikir semacam ini yg telah menyebabkan Qarun mendapatkan adzab dg ditelan bumi? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Qarun berkata: “Sesunguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yg ada padaku”. Dan apakah ia tdk mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yg lebih kuat daripadanya & lebih banyak harta kumpulannya . . ” (Al-Qashah: 78)
Perwujudan bentuk yg lain dalam hal keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan dg rizki, yaitu kita senantiasa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika hendak menggunakan salah satu kenikmatan-Nya, misalnya ketika makan.
“Dari Sahabat Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pd suatu saat sedang makan bersama enam orang sahabatnya, tiba-tiba datang seorang Arab badui, lalu menyantap makanan beliau dalam dua kali suapan (saja). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah seandainya ia menyebut nama Allah (membaca Bismillah, pent), niscaya makanan itu akan mencukupi kalian”. (HR Ahmad, An-Nasa-i & Ibnu Hibban)
Pada hadits lain, Nab Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketahuilah bahwasanya salah seorang dari kamu bila hendak menggauli istrinya ia berkata: “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan & jauhkanlah setan dari anak yg Engkau karuniakan kepada kami”, kemudian mereka berdua dikaruniai anak (hasil dari hubungan tersebut, pent) niscaya anak itu tdk akan diganggu setan” (HR Al-Bukhari)
Demikian, sekilas penjelasan peranan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yg terwujud pd menyebut nama-Nya ketika hendak menggunakan suatu kenikmatan, sehingga mendatangkan keberkahan pd harta & anak keturunan.
Kedua: Amal Shalih
Yang dimaksud dg amal shalih, ialah menjalankan perintah & menjauhi larangan-Nya sesuai dg syari’at yg diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah hakikat ketakwaan yg menjadi syarat datangnya keberkahan sebagaimana ditegaskan pd surat Al-A’raf ayat 96 diatas.
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Ahlul Kitab yg hidup pd zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil & (Al-Qur’an) yg diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka & dari bawah kaki mereka” (Al-Ma’idah: 66)
Para ulama tafsir menjelaskan, bahwa yg dimaksud dg “mendapatkan makanan dari atas & dari bawah kaki”, ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meielimpahkan kepada mereka rizki yg sangat banyak dari langit & dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan & berbagai kebaikan, tanpa susah payah, letih, lesu, & tanpa adanya tantangan / berbagai hal yg mengganggu ketentraman hidup mereka
Di antara contoh nyata keberkahan harta orang yg beramal shalih, ialah kisah Khidir & Nabi Musa bersama dua orang anak kecil. Pada kisah tersebut, Khidir menegakkan tembok pagar yg hendak roboh guna menjaga agar harta warisan yg dimiliki dua orang anak kecil & terpendam di bawah pagar tersebut , sehingga tdk nampak & tdk bisa diambil oleh orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirmn.
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, & dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yg shalih, maka Rabbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya & mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu” (Al-kahfi: 82)
Menurut penjelasan para ulama tafsir, ayah yg dinyatakan dalam ayat ini sebagai ayah yg shalih itu bukan ayah kandung dari kedua anak tersebut. Akan tetapi, orang tua itu ialah kakeknya yg ketujuh, yg semasa hidupnya berprofesi sebagai tukang tenun.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pada kisah ini terdapat dalil bahwa anak keturunan orang shalih akan dijaga, & keberkahan amal shalihnya akan meliputi mereka di dunia & di akhirat. Ia akan memberi syafa’at kepada mereka, & derajatnya akan diangkat ke tingkatan tertinggi, agar orang tua mereka menjadi senang, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an & Sunnah’
Sebaliknya, bila seseorang enggan beramal shalih, / bahkan malah berbuat kemaksiatan, maka yg ia petik juga kebalikan dari apa yg telah disebutkan di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya seseorang dapat saja tercegah dari rizkinya akibat dari dosa yg ia kerjakan” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dll)
Membusuknya daging & basinya makanan, sebenarnya menjadi salah satu dampak buruk yg harus ditanggung manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa itu semua terjadi akibat perbuatan dosa umat manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Seandainya kalau bukan karena ulah Bani Israil, niscaya makanan tdk akan pernah basi & daging tdk akan pernah membusuk” (Muttafaqun ‘alaih)
Para ulama menjelaskan, tatkala Bani Israil diberi rizki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa burung-burung salwa (semacam burung puyuh) yg datang & dapat mereka tangkap dg mudah setiap pagi hari, mereka dilarang utk menyimpan daging-dading burung tersebut. Setiap pagi hari, mereka hanya dibenarkan utk mengambil daging yg akan mereka makan pd hari tersebut. Akan tetapi, mereka melanggar perintah ini, & mengambil daging dalam jumlah yg melebihi kebutuhan mereka pd hari tersebut, utk disimpan. Akibat perbuatan mereka ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum mereka, sehingga daging-daging yg mereka simpan tersebut menjadi busuk.
Demikian, penjelasan dua syarat penting guna meraih keberkahan.
AMAL SHALIH MEMBANTU MENDATANGKAN KEBERKAHAN
Setelah terpenuhi dua syarat diatas, keberkahan juga bisa diraih berkat beberapa amal shalih yg nyata telah kita lakukan. Misalnya sebagai berikut.
Pertama: Mensyukuri Segala Nikmat
Tiada kenikmatan, apapun wujudnya yg dirasakan menusia, melainkan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas dasar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan manusia utk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Dengan cara senantiasa mengingat bahwasanya kenikmatan tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, diteruskan mengucapkan hamdalah, & selanjutnya menafkahkan sebagai kekayaannya di jalan-jalan yg diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yg telah mendapatkan taufik utk bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipatgandakan kenikmatan baginya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, & jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (Ibrahim: 7)
Pada ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Dan barangsiapa yg bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri” (An-Naml: 40)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:”Manfaat bersyukur tdk akan dirasakan, kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan itu, ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yg telah ia dapatkan, & nikmat tersebut akan kekal & bertambah. Sebagaimana syukur, juga berfungsi utk mengikat kenikmatan yg telah didapat serta menggapai kenikmatan yg belum dicapai”
Sebagai contoh nyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan & di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rizki yg (dianugrahkan) Rabbmu & bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yg baik & (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yg besar & Kami ganti kedua kebun mereka dg dua kebun yg ditumbuhi (pohon-pohon) yg berbuah pahit, pohon atsel (cemara) & pohon bidara” (Saba: 15-16)
Tatkala bangsa Saba’ masih dalam keadaan makmur & tenteram, Allah subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan kepada mereka agar bersyukur. Ini menunjukkan, dg bersyukur, mereka dapat menjaga kenikmatan dari bencana, & mendatangkan kenikmatan lain yg belum pernah mereka dapatkan.
Kedua: Membayar Zakat (Sedekah)
Zakat, baik zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan yg menjadi faktor yg dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Allah memusnahkan riba & menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah: 276)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yg turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a): “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yg berinfak”, sedangkan yg lain berdo’a:”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yg kikir (tidak berinfak) kehancuran” (Muttafaqun alaih)
Ketiga: Bekerja Mencari Rizki Dengan Hati Qona’ah, Tidak Dipenuhi Ambisi & Tidak Serakah
Sifat qona’ah & lapang dada dg pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan kekayaan yg tdk ada bandingannya. Dengan jiwa yg dipenuhi dg qona’ah, & keridhaan dg segala rizki yg Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dg rizki yg telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yg ridha dg pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi & melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yg tdk ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tdk akan diberkahi” (HR Ahmad & dishahihkan oleh Al-Albani)
Al-Munawi rahimahullah menyebutkan: “Penyakit ini (yaitu tdk puas dg apa yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya, pent) banyak dijumpai pd pemuja dunia. Hingga engkau temui salah seorang dari mereka meremehkan rizki yg telah dikaruniakan untuknya ; merasa hartanya sedikit, buruk, serta terpana dg rizki orang lain & menganggapnya lebih bagus & banyak. Oleh karena itu, ia akan senantiasa membanting tulang utk menambah hartanya , sampai umurnya habis, kekuatannya sirna ; & ia pun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yg digapainya & rasa letih. Dengan itu, ia telah menyiksa tubuhnya, menghitamkan lembaran amalannya dg berbagai dosa yg ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahal, ia tdk akan memperoleh selain apa yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya, ia meninggal dunia dalam keadaan pailit. Dia tdk mensyukuri yg telah ia peroleh, & ia juga tdk berhasil menggapai apa yg ia inginkan”
Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kehormatan agama & diri dalam setiap usaha yg ditempuhnya guna mencari rizki. Sehingga, seorang muslim tdk akan menempuh, melainkan jalan-jalan yg telah dihalalkan & dg telah menjaga kehormatan dirinya.
Keempat: Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa
Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat & istighfar merupakan salah satu faktor yg dapat mendatangkan rizki & keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.
“Dan (Hud berkata): Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yg sangat deras, & Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu & janganlah kamu berpaling dg berbuta dosa” (Hud: 52)
Akibat kekufuran & perbuatan dosa kaum ‘Ad –berdasarkan keterangan para ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan & kemandulan, sehingga tdk seorang wanita pun yg bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam memerintahkan mereka utk bertaubat & beristighfar. Sebab, dg taubat & istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan, & mengaruniai mereka anak keturunan.
Kelima: Menyambung Tali Silaturahmi
Di antara amal shalih yg akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, yaitu menyambung tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dg setiap orang yg akan terkait hubungan nasab dg kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa yg senang utk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, / ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim” (Muttafaqun ‘alaih)
Yang dimaksud dg ditunda ajalnya, ialah umurnya diberkahi, diberi taufiq utk beramal shalih, mengisi waktunya dg berbagai amalan yg berguna bagi kehidupannya di akhirat, & ia terjaga dari menyia-nyiakan waktunya dalam hal yg tdk berguna. Atau menjadikan nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keenam: Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal.
Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta, ialah memperolehnya dg jalan yg halal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yg baik dalam mencari rizki, yaitu dg mengambil yg halal & meninggalkan yg haram” (HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm & Al-Hakim)
Salah satu yg mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan riba termasuk faktor yg dapat menghapus keberkahan.
“Allah memusnahkan riba & menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah: 276)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:”Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan memusnahkan riba. Maksudnya, bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya, / menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian, pemilik riba tdk mendapatkan manfaat dari harta ribanya. Bahkan dg harta tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membinasakannya dalam kehidupan dunia, & kelak di hari akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyiksanya akibat harta tersebut”
Bila mengamati kehidupan orang-orang yg menjalankan praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran ayat & hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yg hartanya berlimpah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tdk satu pun dari mereka yg merasakan keberkahan, ketentraman & kebahagiaan dari harta haram tersebut.
Begitu pula dg meminta-minta (mengemis) dalam mencari rizki, termasuk perbuatan yg diharamkan & tdk mengandung keberkahan. Dalam salah satu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebagian dampak hilangnya keberkahan dari orang yg meminta-minta.
“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pd hari Kiamat, dalam keadaan tdk ada secuil daging pun melekat di wajahnya” (Muttafaqun alaih)
Ketujuh: Bekerja Saat Waktu Pagi.
Di antara jalan utk meraih keberkahan dari Allah, ialah menanamkan semangat utk hidup sehat & produktif, serta menyingkirkan sifat malas sejauh-jaunya. Caranya, senantiasa memanfaatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dg hal-hal yg berguna & mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita.
Termasuk waktu yg paling baik utk memulai bekerja & mencari rizki, ialah waktu pagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan do’a keberkahan.
“Ya Allah, berkahilah utk ummatku waktu pagi mereka” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah & dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Hikmah dikhususkannya waktu pagi dg doa keberkahan, lantaran waktu pagi merupakan waktu dimulainya berbagai aktifitas manusia. Saat itu pula, seseorang merasakan semangat usai beristirahat di malam hari. Oleh karenanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan pd waktu pagi ini agar seluruh umatnya memperoleh bagian dari doa tersebut.
Sebagai penerapan langsung dari doa ini, bila mengutus pasukan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di pagi hari, sehingga pasukan diberkahi & mendapatkan pertolongan serta kemenangan.
Contoh lain dari keberkahan waktu pagi, ialah sebagaimana yg dilakukan oleh sahabat Shakhr Al-Ghamidi Radhiyallahu ‘anhu. Yaitu perawi hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shakhr bekerja sebagai pedagang. Usai mendengarkan hadits ini, ia pun menerapkannya. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya kecuali di pagi hari. Dan benarlah, keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat ia peroleh. Diriwayatkan, perniagaannya berhasil & hartanya melimpah ruah. Dan berdasarkan hadits ini pula, sebagian ulama menyatakan, tidur pd pagi hari hukumnya makruh.
Masih banyak lagi amalan-amalan yg akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan seorang muslim. Apa yg telah saya paparkan di atas hanyalah sebagai contoh
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq & keberkahan-Nya kepada kita semua. Dan semoga pemaparan singkat ini dapat berguna bagi saya pribadi & setiap orang yg mendengar / membacanya. Tak lupa, bila pemaparan diatas ada kesalahan, maka hal itu datang dari saya & dari setan, sehingga saya beristighfar kepada Allah. Dan bila ada kebenaran, maka itu semua atas taufik & inayah-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab

1 komentar:

  1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    Atau Kunjungi Situs KYAI www.pesugihan-uang-gaib.blogspot.co.id/ agar di
    berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu
    hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik, jika ingin seperti
    saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    BalasHapus